Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #21

PERAN LARAS

Peran Laras – Laras Al-Humaira Mengambil Keputusan Kritis Saat Bara Terdesak

---o0o---

Gemuruh air Danau Tujuh Misteri meledak hebat, memuntahkan ribuan ton gelombang pekat yang menghantam dasar kubah bawah tanah. Tinju Raksasa Danau meluncur bak meteor jatuh, membelah banjir yang kian meninggi hingga setinggi dada kesepuluh ksatria. Di tengah kehancuran pilar-pilar batu dan reruntuhan ceiling gua, Bara melompat ke garis paling depan dengan pedang peraknya yang berkilat putih keemasan.

"Semua bertahan di belakang perisai Banyu dan Guntur! Biar aku yang menahan hantaman ini!" teriak Bara, suaranya memotong deru air yang mengerikan.

"Bara, jangan gila! Tekanan air dan energi purba itu terlalu besar untuk kau tahan sendirian!" jerit Laras dari balik pusaran arus, selendang sutra putihnya berkibar menahan beban air.

"Tidak ada waktu lagi, Laras! Kalau tinju itu menghantam lantai, kubah ini akan runtuh total dan mengubur kita semua!" balas Bara tanpa menoleh sedikit pun.

Dengan satu jejakan kaki yang memecahkan dasar batu di bawah air, Bara memacu energinya hingga batas maksimal. Pedang peraknya memancarkan pendar membara, menahan tinju raksasa bersisik hitam yang ukurannya melampaui tubuh sepuluh orang dewasa.

BLAR!

Gelombang kejut yang dahsyat tercipta dari benturan tersebut. Air danau tersakiti hingga membentuk ruang hampa sesaat di sekitar Bara. Namun, pertarungan kekuatan itu berat sebelah. Lengan kanan Bara bergetar hebat, urat-urat di lehernya menegang, dan retakan halus mulai menjalar di sepanjang bilah pedang perak kebanggaannya.

"Ugh... kekuatan makhluk ini... bertambah dua kali lipat di dalam air!" erang Bara, darah segar mulai menetes dari sudut bibirnya, mewarnai air danau yang mengeruh.

"Bara!" teriak Laras, matanya membelalak menyaksikan posisi pemimpin mereka yang kian terdesak.

"Banyu, Guntur, bantu Bara!" perintah Fajar seraya melepaskan tiga panah cahaya ke arah mata merah sang raksasa.

Namun, sabetan ekor raksasa dari dalam air menghantam dinding perisai Banyu dan Guntur, memukul mundur kedua ksatria lini depan itu hingga terseret puluhan meter. Fajar dan Bayu terhempas ke sudut gua, sementara Mega dan Embun berjuang keras menjaga Zahra yang terkulai lemas setelah memeras seluruh kekuatannya.

Bara bertumpu pada satu lututnya di dalam air, menahan beban tinju Raksasa Danau yang kian menekan tubuhnya ke dasar tanah. "Laras... bawa... bawa semuanya keluar dari sini...!"

Laras berdiri terpaku di tengah arus yang makin ganas. Matanya menatap Bara yang hampir remuk di bawah tekanan raksasa, lalu beralih menatap sembilan rekannya yang terdesak tanpa arah. Sebuah garis keputusan kritis harus segera diambil, dan takdir pertempuran ini kini sepenuhnya berada di jemari Laras Al-Humaira.

🪷 🪷 🪷

Melihat Bara yang nyaris kehilangan kesadaran di bawah tekanan tinju raksasa, ketakutan sempat menyergap dada Laras Al-Humaira. Namun, pendar tekad di matanya tidak memudar. Sebagai pendamping taktis Bara sekaligus penjaga keseimbangan tim, Laras menyadari bahwa kepanikan hanya akan mempercepat kematian mereka semua. Ia menghela napas panjang, membiarkan aura sucinya bergetar selaras dengan gejolak air di sekelilingnya.

"Aku tidak akan membiarkan siapa pun gugur malam ini, Bara! Tidak juga kau!" tegas Laras dengan nada suara yang bergetar penuh ketetapan hati.

Laras melangkah maju menerjang arus air yang setinggi dada. Selendang sutra putih yang melingkar di lengannya mulai memancarkan cahaya perak kebiruan yang sangat terang, memotong kepekatan air danau.

"Laras! Apa yang hendak kau lakukan?!" seru Samudra seraya menahan tubuhnya pada pilar batu yang tersisa. "Sihir selendangmu tidak dirancang untuk menahan beban fisik sebesar itu!"

"Sihirku memang bukan untuk menahan beban, Samudra! Tapi untuk mengalihkan dan membalikkan arus energi!" sahut Laras tanpa menghentikan langkahnya.

Laras memutar tubuhnya dengan anggun di atas permukaan air yang bergolak. Gerakannya luwes bagai tarian fajar, membelah gelombang air yang menerjang. Selendang sutra putihnya memanjang secara ajaib, melilit lengan raksasa yang sedang menekan Bara.

"Tarian Sutra Rembulan: Pengikat Jiwa Tirta!" jerit Laras seraya menarik kedua ujung selendangnya dengan seluruh tenaga batinnya.

Pendar cahaya perak menyebarkan energi penyeimbang yang merembet cepat dari selendang Laras menuju lengan sang Raksasa Danau. Secara mendadak, bobot tinju raksasa itu terasa teringankan karena energi dorongnya diserap dan dialirkan oleh Laras ke dinding gua sebelah kiri.

CRASH!

Pukulan Raksasa Danau terbelokkan, menghantam dinding gua batu dan menciptakan celah baru yang mengalihkan sebagian banjir bandang keluar dari kubah. Bara terbebas dari tekanan mematikan itu, terbatuk-batuk seraya bertumpu pada pedangnya di dalam air.

"Laras... kau..." gumam Bara terengah-engah, menatap Laras yang kini berdiri berdikari di depan sang raksasa.

"Jangan banyak bicara, Bara! Berdiri!" panggil Laras seraya melemparkan sebagian ujung selendangnya untuk menopang tubuh Bara. "Kita belum selesai! Fajar, Bayu, Ambil posisi sayap!"

"Pahami, Laras!" sahut Bayu yang langsung melompat mengudara menggunakan pijakan dinding batu, melancarkan tebasan angin untuk mengalihkan perhatian sang raksasa.

"Aku mengunci pergerakan kepalanya!" tambah Fajar, merentangkan busurnya dan menembakkan rantai cahaya yang mengikat leher makhluk purba tersebut.

Laras menoleh cepat ke arah Samudra dan Embun. "Samudra! Celah dinding yang kuhantam tadi, apakah itu jalur menuju saluran pembuangan kuno?!"

Samudra dengan cepat memindai lembaran prasasti di tangannya yang basah Kuyup. "Benar, Laras! Itu adalah saluran drainase utama Danau Tujuh Misteri! Tapi untuk mencapainya, kita harus melewati titik pusat kemurkaan raksasa ini!"

"Kalau begitu, kita hantam titik pusatnya!" tegak Laras mengacungkan jemarinya yang terbalut cahaya rembulan.

🪷 🪷 🪷

Meskipun Laras berhasil mengalihkan serangan awal dan membuka jalur evakuasi potensial, Raksasa Danau itu meraung lebih keras. Serangan Fajar dan Bayu hanya membuat makhluk purba itu makin murka. Mata merahnya menyala seperti dua gumpalan lahar dingin, dan dari mulutnya yang melayang di atas air, keluar gelombang suara ultrasonik yang menggetarkan organ dalam kesepuluh ksatria.

"Aghhh!" Banyu dan Guntur berlutut seraya memegangi telinga mereka yang mengeluarkan darah tipis. "Suara ini... merusak fokus energi kita!"

"Mbak Mega, lindungi pendengaran anak-anak!" seru Embun Al-Khansa yang mencoba bangkit berdiri meski tubuhnya masih sangat lemah.

Mega merentangkan kedua tangannya, memancar Aura Pelindung Hening untuk meredam gelombang suara mematikan itu, namun kekuatannya terbatas karena staminanya belum pulih sepenuhnya. "Aku tidak bisa menahannya lama-lama! Suara raksasa ini menyerap aura penyembuhku!"

Lihat selengkapnya