Korban Pertama Desa Tepi Danau – Duka yang Membakar Semangat Kelompok
---o0o---
Lumpur hisap merah memutar tubuh kesepuluh ksatria dalam pendar kegelapan gaib, melemparkan mereka keluar dari alam bayangan dan menghempaskan mereka ke tanah berdebu yang mengepulkan asap hitam. Suara gemuruh ledakan terdengar memekakkan telinga dari kejauhan. Udara tidak lagi beraroma air danau atau kesegaran rumput basah, melainkan berbau hangus, kayu terbakar, dan belerang yang amat menyengat.
"Batuk! Ugh... di mana kita?!" seru Banyu seraya bangkit dengan cepat, mengibaskan debu dan lumpur merah yang menempel pada perisainya.
Guntur menjejakkan kaki, membantu Banyu berdiri sembari menatap sekeliling dengan mata membelalak. "Banyu... lihat ke depan. Ini... ini Desa Tirtamarta!"
Bara langsung menyapu pandangan ke sekeliling. Langit malam yang tadinya pekat kini berwarna merah menyala akibat kobaran api raksasa yang melahap puluhan rumah panggung di tepi danau. Jeritan warga, tangisan anak-anak, dan suara benturan senjata beradu bergema sahut-menyahut menembus keheningan malam.
"Penguasa Kegelapan itu tidak cuma membangkitkan dirinya..." bisik Laras dengan wajah pucat seraya bertumpu pada pundak Bara. "Dia mengarahkan seluruh pasukan bayangannya langsung ke pemukiman warga!"
"Desa ini adalah benteng pertahanan terakhir warga tepi danau!" seru Samudra yang sibuk menyapu pandangan ke arah gerbang desa yang runtuh.
Tiba-tiba, seorang lelaki tua berpakaian adat dengan luka tusuk parah di dadanya merayap dari balik semak-semak yang terbakar. "Ksatria... tolong... tolong kami..."
"Tetua Desa!" teriak Embun Al-Khansa seraya berlari menghampiri lelaki tua itu bersama Mega.
Embun langsung menempelkan telapak tangannya ke dada sang tetua, memancarkan pendar Aura Embun Pagi untuk menahan pendarahan hebat. "Bertahanlah, Mbah! Kami di sini! Apa yang terjadi pada desa ini?!"
Tetua Desa batuk darah, memegang lengan Embun dengan sisa-sisa tenaganya yang kian menipis. "Pasukan jubah hitam... mereka membantai siapa saja... mereka mencari... anak-anak desa..."
"Anak-anak?!" jerit Zahra terperanjat, matanya berkaca-kaca menatap rumah-rumah yang roboh dilalap sihir api hitam. " Kenapa mereka mengincar anak-anak?!"
"Mereka hendak... mengorbankan darah murni... untuk menyempurnakan mahkota duri Penguasa Kegelapan..." bisik Tetua Desa lamat-lamat. Matanya perlahan mulai mengabur, namun pegangannya pada lengan Embun kian mengencang. "Tolong... selamatkan Little Nuwa dan anak-anak di balai desa..."
"Kami berjanji, Mbah! Kami akan menyelamatkan mereka semua!" tegas Bara berlutut di samping Tetua Desa, mengepalkan tangannya rapat-rapat.
"Terima kasih... ksatria..." desah Tetua Desa pelan. Tangannya terkulai lemas di atas tanah basah, dan hembusan napas terakhirnya berhembus perlahan di bawah pendar rembulan yang tertutup asap api.
🪷 🪷 🪷
Gugurnya Tetua Desa Tirtamarta di depan mata mereka menghantam dada kesepuluh ksatria bagai hantaman batu godam. Duka mendalam menyelimuti suasana sesaat, namun bara amarah yang jauh lebih besar menyala di dalam mata Bara dan rekan-rekannya. Ini adalah korban jiwa pertama dari kalangan sipil sejak pertempuran di Danau Tujuh Misteri meletus.
"Kepastian ini sudah bulat," kata Bara dengan suara rendah yang bergetar menahan murka. Ia berdiri tegak, mencabut pedang peraknya yang memancarkan pendar putih membara. "Musuh tidak lagi sekadar menguji kekuatan kita. Mereka membantai orang-orang yang tak berdosa!"
"Mbah Tetua..." tangis Zahra terisak pelan, namun jemarinya mengepal keras hingga buku-buku jarinya memutih. "Mereka sangat kejam..."
Mega mengusap air matanya dengan cepat, berdiri di samping Embun yang baru saja mengatupkan mata Tetua Desa dengan penuh hormat. "Tidak ada waktu untuk meratapi duka sekarang, Zahra. Darah Tetua Desa harus menjadi saksi bahwa kita tidak akan membiarkan anak-anak itu bernasib sama!"
"Bara, apa perintahmu?!" seru Guntur seraya menghentakkan perisainya ke tanah hingga bergetar. "Aku siap meremukkan setiap tengkorak pasukan jubah hitam itu!"
"Formasi Serbu Kecepatan Tinggi!" perintah Bara tegas. "Banyu dan Guntur, buka jalan di garis depan! Fajar dan Bayu, bersihkan pemanah musuh di atap-atap rumah yang terbakar!"
"Pahami, Pemimpin!" sahut Fajar dan Bayu serempak, melompat ke atas puing-puing bangunan yang membara dengan gerakan kilat.
"Samudra, petakan posisi balai desa dan jalur evakuasi warga!" lanjut Bara menoleh ke arah Samudra.
Samudra mengangguk cepat, membuka prasastinya yang kini bersinar terang memberikan petunjuk taktis. "Balai desa berada tiga ratus meter di utara! Ada barikade pasukan bayangan yang mengepung pintu utamanya!"
"Laras, Mega, Embun, Zahra! Kalian bersama aku di garis tengah untuk mengamankan warga dan anak-anak!" panggil Bara dengan mata menyala. "Malam ini, tidak ada satu pun warga desa yang boleh gugur lagi!"
"Satu jiwa, satu tujuan!" jerit kesepuluh ksatria dengan seruan padu yang menggelegar menembus deru kobaran api dan raungan musuh.
Mereka menerjang masuk menembus gerbang desa yang hancur. Banyu dan Guntur menjadi buldoser manusia, menghantam barisan prajurit bayangan bernapas api yang mencoba menghalangi langkah mereka. Fajar melepaskan panah-panah cahaya yang memadamkan panah api musuh di udara, sementara Bayu memutar pisau taufannya untuk menebas habis prajurit bertopeng tengkorak yang mengepung rumah-rumah warga. Duka atas kematian Tetua Desa telah bertransformasi menjadi gelombang serangan yang tak tertahankan.
🪷 🪷 🪷
Meskipun semangat kesepuluh ksatria berkobar hebat, pasukan jubah hitam yang dipimpin oleh para Komandan Bayangan tidak tinggal diam. Saat rombongan Bara berhasil menembus jalan utama desa, ratusan prajurit bayangan keluar dari celah-celah rumah yang terbakar, memotong jalur pergerakan mereka dan mengurung mereka di lapangan tengah desa.
"Mereka terlalu banyak!" teriak Bayu seraya menebas dua prajurit bayangan yang mencoba melompat dari dahan pohon terbakar. "Setiap kali satu tumbang, dua prajurit baru muncul dari asap hitam!"
"Mereka menggunakan energi api rumah-rumah ini sebagai pasokan kekuatan!" panggil Fajar yang terus memanah dari jarak jauh. "Selama api di desa ini belum padam, mereka akan terus beregenerasi!"
Di tengah lapangan desa, sesosok Komandan Bayangan berukuran tinggi besar dengan pedang algojo bergerigi melangkah keluar dari dalam nyala api. Di tangan kirinya, ia menyeret seorang bocah perempuan kecil—Little Nuwa—yang menangis histeris dengan tangan terikat rantai hitam.
"Tolong... Kakak Ksatria! Tolong Nuwa!" jerit Little Nuwa dengan suara parau menembus suara gemeretak kayu terbakar.
"Nuwa!" jerit Zahra histeris saat mengenali bocah tersebut.
Komandan Bayangan itu tertawa dingin, suaranya seperti gesekan besi berkarat. "Ksatria tak berguna... Tetua kalian sudah mati di tepi danau, dan anak ini akan menjadi wadah darah berikutnya untuk Penguasa kami!"