Rahasia Pedang Perak – Bara Menemukan Keanehan pada Pedang Miliknya
---o0o---
Kubah sihir merah raksasa yang membungkus Desa Tirtamarta bergetar keras, memancarkan bau belerang dan tekanan gaib yang seakan hendak meremukkan sel-sel tubuh kesepuluh ksatria. Di udara, lima Jenderal Kegelapan Utama berselimutkan mahkota duri melayang angkuh. Jubah hitam mereka berkibar menembus pusaran angin kematian yang tak henti-hentinya memuntahkan kilatan petir berdarah.
"Sialan! Energi murniku sama sekali tak bisa menembus dinding kubah ini!" umpat Guntur seraya menghantamkan perisai perunggu ke arah pembatas merah, hanya untuk mendapati tubuhnya terlempar dua meter ke belakang akibat hentakan balik yang teramat kuat.
Banyu melompat menangkap tubuh saudaranya, giginya mengatup rapat. "Guntur, jangan gegabah! Sihir ini memakan sisa-sisa daya tempur kita. Kalau kita terus memaksakan benturan fisik, energi vital kita yang justru tersedot habis!"
"Tapi kita tidak bisa cuma berdiri manis dan pasrah ditindas iblis-iblis ini!" teriak Bayu seraya mencengkeram erat pisau taufannya. Jarinya berdarah, terkoyak sisa pertarungan sengit di lapangan desa tadi.
di tengah kepungan aura mencekam itu, Bara berdiri mematung di paling depan. Tangan kanannya terulur santai namun kaku, mencengkeram hulu pedang perak kebanggaannya. Sensasi aneh yang tak pernah ia rasakan selama bertahun-tahun mendadak menjalar dari telapak tangannya, menembus urat nadi, hingga berdenyut liar di dasar jantungnya. Pedang perak itu tidak sekadar dingin—ia bergetar pelan, memuntahkan ritme denyut asing yang terasa seperti napas kedua.
"Bara? Ada apa dengamu?" bisik Laras Al-Humaira, menyadari perubahan drastis pada raut wajah sang pemimpin. Laras melangkah mendekat, mengabaikan rasa perih di sekujur tubuhnya akibat pertarungan di dasar danau.
Bara tidak langsung menjawab. Matanya menyipit, menatap lekat-lekat bilah pedangnya yang kini tak lagi memancarkan pendar putih keemasan murni. Di balik retakan halus akibat menahan hantaman Raksasa Danau, terpancar urat-urat pendar merah pekat yang merayap liar, berseleret menyerupai pola darah yang membusuk.
"Pedang ini..." panggil Bara dengan nada suara rendah yang dipenuhi keraguan. tangannya bergetar hebat saat mencoba menarik bilah itu lebih dekat ke dadanya. "Pedang ini tidak merespons auraku, Laras. Ia... ia meminum energi dari kubah merah di atas kita."
"Apa maksudmu, Bara?!" seru Fajar yang berdiri tak jauh di samping mereka, membendung panah energinya yang kian meredup. "Pedang perak itu adalah pusaka leluhurmu! Bagaimana mungkin ia menyerap sihir Penguasa Kegelapan?!"
"Aku tidak tahu, Fajar!" sahut Bara, nada suaranya meninggi bercampur kepanikan yang teramat langka terlihat dari sosoknya. "Tapi setiap kali Jenderal Kegelapan itu mengibaskan tongkatnya, pedang ini justru berdenyut makin kencang... seolah-olah ia merindukan tuannya yang asli!"
🪷 🪷 🪷
Perkataan Bara membuat kesembilan ksatria lainnya tersentak hebat. Di tengah kepungan lima Jenderal Utama yang siap menghabisi nyawa mereka, kenyataan bahwa senjata utama sang pemimpin menunjukkan keanehan mematikan merupakan pukulan batin yang teramat dahsyat. Zahra yang berada di barisan belakang bersama Little Nuwa membelalakkan matanya tak percaya.
"Bara, jangan bercanda di saat seperti ini!" panggil Zahra dengan tawa hambar yang terputus-putus. "Pedang perakmu itu yang menyelamatkan kita dari Komandan Bayangan tadi! Tanpa pedang itu, kita tidak akan bisa membelah api hitamnya!"
"Zahra benar, Bara," sela Mega seraya membalut luka di lengan Embun Al-Khansa. "Mungkin itu hanya reaksi balik karena kau memaksakan Tebasan Perak Sejati saat energimu habis. Jangan biarkan ilusi musuh mengacaukan pikiranmu!"
"Ini bukan ilusi, Mbak Mega," sahut Samudra pelan. Pria itu berlutut di tanah basah, jemarinya yang gemetar gemetar mengusap permukaan prasasti kuno di tangannya yang kini memancarkan tinta merah gelap. "Lihat prasasti ini. Tulisannya berubah secara mandiri..."
Laras dengan sigap mendekati Samudra, matanya membaca barisan kalimat gaib yang terukir cepat di atas kertas tua tersebut. "Bilah Perak bukan lahir dari rahim cahaya... ia adalah taring yang dipatahkan dari Mahkota Duri Kuno..." Laras mengeja tulisan itu dengan suara bergetar, lalu menatap Bara dengan tatapan tak percaya.
"Apa artinya ini, Samudra?!" bentak Guntur tak sabar, matanya liar memawasi lima sosok bermahkotakan duri yang melayang kian rendah di udara. "Bicara yang jelas! Jangan pakai bahasa teka-teki saat nyawa kita di ujung tanduk!"
"Artinya..." cut Samudra menatap Bara lurus-lurus, "pedang perak milik Bara adalah salah satu pecahan dari senjata Penguasa Kegelapan seribu tahun lalu. Pedang itu bukan alat untuk memusnahkan segel... melainkan kunci utama untuk menyempurnakan kebangkitannya!"
"Bohong!" teriak Bayu seraya mengacungkan pisau anginnya ke arah Samudra. "Bara telah menggunakan pedang itu untuk melindungi kita berkali-kali! Bagaimana mungkin benda itu bagian dari iblis?!"
Salah satu Jenderal Utama yang berada di tengah kubah terkekeh melengking. Suaranya bergema menembus telinga kesepuluh ksatria, memancarkan hawa dingin yang menghentikan aliran darah mereka.
"Anak manusia yang malang..." panggil Jenderal Utama itu, suaranya seperti seribu bisikan racun yang bersatu. "Kau membanggakan pedang perak itu sebagai simbol keadilan, padahal selama ini kau hanya menutrisi taring Penguasa kami dengan darah musuh-musuhmu. Setiap kali pedang itu menebas kegelapan, ia sebenarnya menyerap sisa-sisa jiwa purba yang tertidur!"
Bara tertunduk kaku. Tangan kanannya yang menggenggam hulu pedang mendadak terasa amat panas, seolah-olah ia sedang memegang batang besi yang membara langsung dari neraka. Denyut di bilah perak itu makin kencang, memancarkan aura hitam-merah yang mulai merayap naik membungkus pergelangan tangannya.
🪷 🪷 🪷
Aura hitam-merah yang merayap dari hulu pedang perak mulai menggerogoti lengan Bara. Pendar cahaya putih murni yang biasanya menyelimuti tubuh sang pemimpin perlahan terdistorsi, digantikan oleh hawa kematian yang pekat. Bara meringis kesakitan, bertumpu pada satu lututnya di atas tanah berdebu yang retak.
"Bara!" teriak Laras seraya melompat menghampiri. Ia mengulurkan selendang sutra putihnya untuk membungkus lengan Bara, mencoba memutus aliran aura jahat tersebut. "Lepaskan pedang itu sekarang juga, Bara! Lepaskan!"
"Tidak... tidak bisa, Laras!" jerit Bara menahan sakit yang luar biasa. Jemari tangan kanannya seakan telah melekat dan menyatu dengan ukiran hulu pedang perak. "Jemariku... terikat oleh urat gaib pedang ini! Ia menyedot auraku secara paksa!"
"Jauhkan dirimu darinya, Laras!" perintah Fajar seraya menarik bahu Laras ke belakang. "Aura itu bisa menularinya! Jika kau tersedot, kita akan kehilangan dua penyerang utama sekaligus!"
"Aku tidak bisa membiarkannya menderita sendirian, Fajar!" balas Laras dengan mata memerah menahan tangis. Selendangnya mulai terbakar oleh percikan radiasi merah yang memancar dari pedang Bara.
Melihat kondisi Bara yang terpuruk, keempat Jenderal Utama lainnya meluncur turun bersamaan. Mereka mengacungkan tombak dan pedang hitam mereka, mengepung kesepuluh ksatria dari empat penjuru angin dalam lingkaran kematian.
"Serahkan anak itu dan pedangnya!" derum salah satu Jenderal Utama seraya mengibaskan jubah hitamnya. "Penguasa kami membutuhkan taringnya kembali untuk meremukkan benua ini!"
"Langkahi dulu perisai kami, Iblis!" seru Banyu dan Guntur serentak. Kedua bersaudara itu melompat berdiri di depan Bara, menancapkan perisai perunggu mereka rapat-rapat ke tanah untuk membentuk benteng pertahanan terakhir.
BLAR!