Jejak yang Ditinggalkan – Zahra Mentari Menemukan Petunjuk Musuh
---o0o---
Proyeksi peta gaib yang memancar dari bilah pedang perak Bara perlahan memudar, meninggalkan keheningan yang amat mencekam di atas puing-puing Desa Tirtamarta. Suara bisikan gaib yang menyebut sosok Guru Penuntun sebagai pembantai keluarga Bara terus bergema liar di dalam kepala sang pemimpin ksatria. Bara mematung, jemarinya membeku pada hulu pedang yang kini berukir garis-garis merah permanen. Napasnya memburu, sementara pandangan matanya kosong menatap tanah yang retak.
"Bara? Ada apa dengannmu?" panggil Laras Al-Humaira, menyipitkan mata saat melihat tubuh Bara gemetar hebat. " Wajahmu pucat sekali. Apa pengaruh racun pedang itu kembali lagi?"
Bara menelan ludah yang terasa pahit, mencoba menguasai gejolak emosi yang membakar dadanya. "Tidak, Laras... aku tidak apa-apa."
"Jangan bohong, Bara!" sela Fajar tegas seraya melangkah mendekat. "Peta gaib tadi menampilkan lambang klan milikmu, dan matamu menunjukkan kepanikan yang luar biasa. Apa yang sebenarnya kau dengar dari bisikan pedang itu?"
"Bukan apa-apa yang perlu kita risaukan saat ini, Fajar!" bentak Bara dengan suara serak yang membuat suasana mendadak tegang. Ia menarik pedang peraknya dari tanah dan menyarungkannya secara paksa. "Yang terpenting sekarang adalah memastikan warga desa selamat dan merawat luka-luka kita."
Samudra melangkah maju seraya mengusap gulungan prasastinya yang telah redup. "Bara benar, Fajar. Energi kita semua sudah berada di titik terendah. Jika kita terus memaksakan diri membahas misteri peta itu tanpa persiapan, kita hanya akan memancing bahaya baru."
"Tapi musuh tidak akan menunggu stamina kita pulih, Samudra," gumam Bayu seraya membebat paha kirinya yang tertusuk kristal darah. "Jenderal Kegelapan itu kabur, dan mereka pasti sedang menyiapkan pergerakan selanjutnya."
Di tengah perdebatan kecil yang mulai merayap di antara para ksatria, Zahra Mentari berdiri agak jauh di tepi lapangan desa yang hangus. Ia tidak ikut dalam perdebatan tersebut. Matanya yang jernih justru tertuju pada sebuah pendar pualam aneh yang berkedip halus di balik bongkahan batu altar yang hancur. Duka atas gugurnya Tetua Desa dan rasa ingin tahunya yang tinggi mendorong kaki Zahra untuk melangkah mendekati pendar misterius itu.
"Kehangatan ini... bukan berasal dari api belerang atau sihir kegelapan," bisik Zahra pada dirinya sendiri.
Ia berlutut di antara puing-puing kayu terbakar, mengesampingkan debu hitam dengan jemarinya yang mungil. Di sana, tertanam sebuah lencana logam berbentuk teratai hitam berlapis ukiran perak yang sangat halus. Dari lencana itu, merembet aroma wewangian kayu cendana kuno—sebuah aroma yang sangat spesifik dan familiar.
"Aroma ini..." mata Zahra membelalak hebat saat ingatan masa lalunya berputar cepat. "Ini bukan milik Penguasa Kegelapan... Ini milik seseorang dari istana tengah!"
🪷 🪷 🪷
Zahra Mentari mengambil lencana logam teratai hitam itu dengan hati-hati, membiarkan pendar Sinar Mentari dari telapak tangannya memurnikan sisa-sisa jelaga yang menutupi ukirannya. Rasa terkejut yang mendalam menjalar di sekujur tubuhnya. Lencana tersebut bukanlah benda yang diciptakan oleh monster rawa atau raksasa danau, melainkan sebuah segel komunikasi rahasia yang digunakan oleh para petinggi pembawa pesan istana kerajaan pusat.
"Zahra? Apa yang kau temukan di sana?" panggil Embun Al-Khansa yang melangkah menghampirinya seraya membawa kantong ramuan obat.
Zahra dengan cepat menggenggam erat lencana itu di dalam telapak tangannya, mencoba menyembunyikan getaran kepanikan di wajahnya seraya menyunggingkan senyum khasnya. "Ah, tidak ada apa-apa, Embun! Hanya batu akik unik yang berkilauan. Kau tahu sendiri aku sangat menyukai benda-benda yang berkilau!"
Embun menyipitkan mata, menatap Zahra dengan penuh kecurigaan yang lembut. "Kau tidak pandai berbohong saat matamu bergerak ke kanan bawah seperti itu, Zahra. Tunjukkan padaku apa yang kau sembunyikan."
Zahra mendesah panjang, menyadari bahwa ia tidak bisa mengelak dari ketajaman intuisi sang penyembuh. Ia membuka genggaman tangannya, memperlihatkan lencana teratai hitam yang memancarkan pendar perak redup di hadapan Embun.
"Ini... ini lencana Segel Utama Istana Pertapaan," bisik Embun Al-Khansa terperanjat, menutupi mulutnya dengan kedua tangan. "Bagaimana mungkin benda milik pengawal Guru Penuntun berada di tempat bekas pembantaian Komandan Bayangan ini?!"
"Itulah yang membuatku gemetar, Embun," jawab Zahra dengan nada suara yang tak lagi bercanda. Kehangatan yang biasanya terpancar dari wajahnya berganti menjadi ketegangan yang mendalam. "Lencana ini tidak terjatuh secara tidak sengaja. Benda ini diletakkan dengan sengaja di bawah altar untuk menyalurkan perintah pada musuh!"
"Maksudmu... ada pengkhianat di antara pimpinan kita?!" tanya Embun dengan nada bergetar, matanya membelalak tak percaya.
"Bukan sekadar pengkhianat biasa, Embun," kata Zahra seraya menatap ke arah Bara yang sedang berbicara tegang dengan Laras dan Fajar di seberang lapangan. "Siapa pun yang menjatuhkan lencana ini adalah orang yang mengarahkan pasukan jubah hitam langsung ke Desa Tirtamarta. Musuh tidak menemukan tempat ini secara kebetulan... mereka dipandu!"
"Kita harus memberitahu Bara dan Mbak Mega sekarang juga!" seru Embun hendak berbalik memanggil rombongan.
"Tunggu, Embun! Jangan sekarang!" tahan Zahra seraya memegang lengan Embun rapat-rapat. "Lihat kondisi kelompok kita! Bara sedang terguncang oleh rahasia pedangnya, Banyu dan Guntur terluka parah, dan stamina Mbak Mega habis. Jika kita melemparkan tuduhan pengkhianatan dari Istana Pusat sekarang, kelompok ini akan hancur dari dalam sebelum musuh menyerang kembali!"
"Lalu apa rencana kita, Zahra?" tanya Embun bingung dan cemas. "Kita tidak bisa berpura-pura tidak tahu saat nyawa warga dan kawan-kawan kita dalam ancaman besar!"
"Kita harus memeriksa jejak energi pada lencana ini secara diam-diam," tegas Zahra dengan mata memancar tekad. "Aku butuh bantuanmu dan Samudra untuk membaca sisa memori sihir di dalam logam ini sebelum kita menyampaikan kebenarannya pada Bara."
🪷 🪷 🪷
Di bawah naungan sisa-sisa dinding balai desa yang nyaris runtuh, Zahra dan Embun memanggil Samudra secara tersembunyi, menjauh dari jangkauan pendengaran Bara dan ksatria lainnya. Samudra yang awalnya enggan meninggalkan tugas merawat prasasti akhirnya menyerah saat melihat keseriusan di raut wajah Zahra Mentari.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Samudra berbisik, menyapu pandangan ke sekeliling dengan waspada. "Mengapa kalian memanggilku ke balik pilar runtuh ini secara sembunyi-sembunyi?"
Zahra menyerahkan lencana teratai hitam itu ke tangan Samudra. "Lihat benda ini, Samudra. Gunakan kemampuan prasastimu untuk membaca jejak memori yang tertinggal di dalamnya."
Samudra menerima lencana tersebut. Begitu jemarinya menyentuh ukiran perak di permukaan logam, matanya terbelalak hebat dan wajahnya seketika pucat pasi. "Ini... ini segel komunikasi tingkat tinggi milik Dewan Penasihat Gurumu! Bagaimana benda ini bisa ada di Tirtamarta?!"
"Bicara pelan-pelan, Samudra!" tegur Embun Al-Khansa menempelkan telunjuknya di bibir. "Bara dan yang lainnya tidak boleh mendengar ini dulu."
"Bagaimana aku bisa tenang, Embun?!" bisik Samudra dengan napas terengah-engah, jarinya bergetar mengusap permukaan lencana. "Jejak aura pada lencana ini masih sangat segar... Benda ini diaktifkan kurang dari dua jam yang lalu, tepat saat Raksasa Danau mengamuk di dasar kubah!"
"Apakah kau bisa membaca pesan terakhir yang dikirim melalui lencana ini?" tanya Zahra menatap Samudra lurus-lurus.
Samudra mengatupkan kedua tangannya di atas lencana, membiarkan pendar tinta emas dari prasastinya merembes masuk ke dalam logam teratai hitam tersebut. Sebuah proyeksi suara bisikan halus yang terdistorsi keluar dari dalam lencana, bergema sangat pelan di antara mereka bertiga: