Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #25

AMBANG PINTU

Ambang Pintu Dunia Luar – Titik Balik: Mereka Resmi Meninggalkan Danau Tujuh Misteri

---o0o---

Darah dan air mata menyatu di atas tanah berbatu Pegunungan Lembah Hitam. Kubah kurungan sihir merah milik sang Guru Penuntun melingkupi dataran tinggi dengan tekanan gaib yang nyaris melumpuhkan pernapasan. Rantai-rantai merah raksasa yang merayap dari dalam Kuil Pertapaan melilit lekat bilah pedang perak Bara, menarik sang pemimpin secara perlahan ke arah sang Guru yang berdiri angkuh di ambang gerbang.

"Bara! Tahan! Jangan biarkan dia mengambil pedangmu!" jerit Laras Al-Humaira seraya melompat dan menerjang ke depan, mengibaskan selendang peraknya untuk memotong lilitan rantai gaib tersebut.

CRASH!

Kain sutra Laras menghantam rantai merah, menciptakan ledakan percikan api gaib yang melempar tubuh Laras hingga terhempas ke dinding cadas tebing.

"Laras!" jerit Bara histeris. Manik matanya yang sebelumnya kosong akibat hantaman kenyataan pahit kini bergetar hebat melihat Laras tergeletak menahan nyeri. "Guru... kenapa... kenapa Guru tega melakukan semua ini pada kami?!"

Sang Guru Penuntun menatap Bara dengan tatapan dingin tanpa belas kasihan sedikit pun. "Tegaklah, Bara! Jangan cengeng seperti jelata! Kau adalah wadah yang kusemai sejak kecil. Tugasmu telah usai begitu pedang itu menyerap duka Tirtamarta dan amarahmu sendiri!"

"Kami bukan wadahmu, Iblis Tua!" teriak Guntur yang merangsek maju bersama Banyu, mengangkat perisai perunggu mereka yang retak untuk menahan sambaran dua Jenderal Kegelapan Utama.

"Banyu, Guntur, mundur!" perintahkan Fajar seraya melepaskan tiga panah cahaya berkecepatan tinggi ke arah mata para Jenderal. "Mereka memanfaatkan keterkejutan kita! Kita tidak bisa bertarung secara frontal di arena yang telah ia siapkan!"

"Tapi Bara dalam bahaya besar, Fajar!" sela Bayu yang memutar pisau taufannya untuk menepis rantai merah yang mulai merayap mengincar kakinya. "Rantai-rantai itu menyedot habis energi jiwanya!"

"Mega! Embun! Putuskan aliran rantai itu dengan aura penyembuh gabungan!" panggil Samudra yang sibuk memutar prasastinya untuk mencari celah kebocoran dalam struktur sihir kubah.

Mega dan Embun Al-Khansa menyatukan telapak tangan mereka, memancarkan gelombang Tirta Penyembuh Suci yang murni. Air gaib itu mengalir deras membungkus rantai merah, menimbulkan suara desisan keras saat energi penyembuh murni beradu dengan sihir darah sang Guru.

"Sekarang, Zahra!" jerit Embun dengan wajag memucat menahan beban sihir.

Zahra Mentari melompat tinggi melintasi pundak Banyu. Dari jemarinya yang mengepal, meledak pendar Sinar Mentari Fajar yang amat terang, ditembakkan tepat ke wajah sang Guru Penuntun untuk memutus konsentrasinya!

"Cahaya murahan tidak akan sanggup menembus kegelapan sejati!" ejek sang Guru Penuntun seraya mengibaskan jubah putih keemasannya, memadamkan sinar Zahra dalam sekejap. Namun, gangguan singkat itu cukup untuk mengendurkan lilitan rantai pada pedang Bara!

🪷 🪷 🪷

Kendurnya lilitan rantai gaib dimanfaatkan oleh Bara untuk menghentakkan kakinya dan melompat mundur, kembali ke tengah barisan kesembilan rekannya. Walaupun berhasil terbebas dari cengkeraman sang Guru, kondisi kesepuluh ksatria benar-benar berada di ambang kehancuran. Stamina yang terkuras sejak pertempuran di Desa Tirtamarta, ditambah guncangan batin atas pengkhianatan sang Guru, membuat setiap napas yang mereka helakan terasa berat dan menyiksa.

"Bara, kau tidak apa-apa?" tanya Laras yang dibantu berdiri oleh Mega, menyapu darah tipis yang mengalir dari sudut bibirnya.

Bara bertumpu pada satu lututnya, mencengkeram hulu pedang peraknya yang bergetar hebat. Wajahnya tertutup bayangan rambutnya yang kusut. "Aku... aku selamat, Laras. Tapi batin ini... rasanya hancur seribu keping."

"Kita tidak punya waktu untuk meratapi kehancuran batin sekarang, Bara!" tegar Fajar seraya merangkul bahu sang pemimpin dengan keras. "Lihat sekelilingmu! Guru yang kau hormati itu siap membantai kita sepuluh orang demi menyempurnakan ambisi gilanya!"

Samudra berlari mendekati mereka seraya memegang prasasti yang memancarkan pendar darurat. "Dengarkan aku, semuanya! Kita tidak mungkin menang jika terus bertahan di kuil ini! Lingkungan Lembah Hitam dan Danau Tujuh Misteri telah sepenuhnya dipetakan dan dikuasai oleh sihir milik Guru!"

"Maksudmu kita harus lari, Samudra?!" tanya Banyu menahan emosi seraya mengusap peluh di dahinya. "Setelah apa yang dia perbuat pada Tetua Desa dan warga Tirtamarta?!"

"Ini bukan melarikan diri untuk menyerah, Banyu! Ini adalah mundur taktis!" tegas Samudra menatap Banyu lurus-lurus. "Satu-satunya cara untuk mematahkan kekuasaannya adalah keluar dari wilayah hukum Danau Tujuh Misteri dan menuju ke Dunia Luar—Benua Kuno tempat sumber energi asal klan Bara berada!"

"Dunia Luar...?" guman Zahra terbelalak. "Tapi gerbang perbatasan danau dijaga ketat oleh segel raksasa!"

"Segel perbatasan itu bisa dihancurkan jika kita memadukan kekuatan pedang Bara dan prasastiku!" sahut Samudra cepat.

"Anak-anak gila..." suara sang Guru Penuntun menggema menembus kabut merah, menghentikan percakapan mereka. Pria tua itu melangkah perlahan diapit oleh empat Jenderal Kegelapan Utama. "Kalian pikir kalian bisa melangkah keluar dari wilayah ini? Danau Tujuh Misteri adalah sangkar yang kubangun khusus untuk membesarkan kalian!"

"Kami bukan burung peliharaanmu, Guru!" bentak Bayu seraya mengacungkan pisau taufannya. "Kami adalah ksatria yang bersumpah melindungi kedamaian!"

"Kedamaian adalah ilusi bagi mereka yang lemah, Bayu," sahut sang Guru dingin. Ia mengangkat tongkat mahkota durinya ke udara. "Jenderal! Habisi mereka semua, tinggalkan hanya pedang perak itu di tanah ini!"

Empat Jenderal Kegelapan melompat serentak, mengayunkan pedang dan tombak hitam mereka yang menyemburkan lahar beracun!

🪷 🪷 🪷

Hantaman empat Jenderal Kegelapan Utama menciptakan gelombang guncangan raksasa yang membelah tanah dataran tinggi Lembah Hitam menjadi beberapa bagian. Banyu dan Guntur berdiri tegak di garis terdepan, menahan gempuran dahsyat itu dengan sisa-sisa tenaga terakhir mereka.

BOOM!

Perisai perunggu Banyu pecah berkeping-keping akibat sabetan pedang algojo Jenderal pertama, melempar tubuh Banyu hingga memuntahkan darah segar di atas batu cadas.

"Banyu!" teriak Guntur histeris. Tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri, Guntur menerjang maju menggunakan tubuhnya sebagai tameng hidup untuk melindungi saudaranya dari tikaman tombak Jenderal kedua.

STAB!

Ujung tombak hitam menggores dalam bahu Guntur, membuat pria bertubuh kekar itu mengerang kesakitan dan berlutut di tanah.

"Guntur! Banyu!" jerit Mega dan Embun Al-Khansa serentak, mencoba mendekati kedua ksatria pelindung itu dengan Aura Penyembuh Tirta, namun hujan anak panah beracun dari atas gerbang kuil memaksa mereka bertahan di tempat.

"Mereka mengurung kita dari segala sisi!" seru Fajar yang terus memanah secara kalap, jarinya melilit tali busur yang berdarah. "Samudra! Di mana letak ambang pintu menuju Dunia Luar yang kau maksud?!"

Lihat selengkapnya