Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #26

KOTA SERIBU GERBANG

Kota Seribu Gerbang – Masuk ke wilayah peradaban asing.

---o0o---

Kabut tebal yang menyelimuti perbatasan wilayah terlarang perlahan terkuak saat angin perak bertiup kencang. Di hadapan sepuluh ksatria Sumpah Sembilan Bintang, terhampar pemandangan megalitikum yang menakjubkan sekaligus mengintimidasi. Sebuah megakota purba berdiri megah di atas celah benua, dikelilingi oleh benteng bertingkat dari batu pualam hitam. Ribuan lengkungan gerbang bercahaya melayang mengelilingi dinding kota, memancarkan aura spasial yang menggetarkan fondasi tanah.

"Inilah dia," bisik Samudra At-Thahira seraya memegang erat tongkat kearifannya. "Kota Seribu Gerbang, pintu masuk menuju wilayah peradaban asing yang selama ini hanya tersurat dalam legenda kuno."

Bara Al-Mustafa melangkah ke paling depan, mengamati garis arsitektur asing yang sangat berbeda dari kerajaan mana pun di benua mereka. "Atmosfer tempat ini sangat berat. Aliran energi spiritual di udara tidak bergerak lurus, melainkan berputar dalam ribuan poros."

"Lihatlah lengkungan gerbang melayang itu!" seru Bayu Al-Asad seraya menunjuk ke angkasa. "Setiap gerbang memancarkan pendar warna yang berbeda-beda!"

"Itu adalah Gerbang Transmutasi Ruang," pangkas Fajar Nur-Zaman seraya membuka lembaran catatan purbanya. "Peradaban asing ini memanfaatkan celah dimensi untuk mobilitas dan pertahanan mereka. Kita resmi meninggalkan peradaban yang kita kenal."

Laras Al-Humaira merapat ke samping Bara, jemarinya membelai gagang belati dengan insting bertarung yang mengencang. "Masyarakat asing ini pasti memiliki sistem hukum dan tingkat kewaspadaan yang sangat berbeda. Kita harus menjaga langkah kita."

"Apakah racun tempat ini aman untuk dihirup, Mega?" tanya Embun Al-Khansa seraya menguji kandungan udara menggunakan kristal perak.

Mega Nur-Aisyah mengangguk pelan, memperlihatkan pendar hijau jernih pada kristalnya. "Udara di sini kaya akan mineral gaib alami. Paru-paru kita akan merasa segar, namun energi penyembuhan kita akan membutuhkan penyesuaian arus."

"Perhatikan gerbang utama di bawah tebing itu!" bisik Zahra Mentari seraya menarik busurnya tipis. "Ada pengawal asing yang mendekat ke arah kita!"

Dari balik gerbang batu raksasa berukirkan seribu mata, melangkah keluar sepasukan prajurit tinggi berzirah perunggu mengkilap. Kepala mereka tertutup topeng logam tanpa lubang mata, memegang tombak ganda yang ujungnya berputar memancarkan kilatan energi ungu.

"Siapa yang berani menginjakkan kaki di perbatasan Kota Seribu Gerbang tanpa izin Dewan Purba?!" gertak komandan prajurit asing itu, suaranya bergema nyaring melintasi ruang udara melalui gelombang mental.

"Kami adalah ksatria pencari kebenaran!" jawab Bara Al-Mustafa lantang, melangkah tanpa rasa ragu. "Kami datang membawa ikrar damai untuk melintasi wilayah kalian!"

🪷 🪷 🪷

Komandan prajurit berzirah perunggu menghentakkan pangkal tombak gandanya ke tanah stoneite hitam. Seketika itu pula, riak gelombang kejut berwarna ungu menyebar cepat, menguji kestabilan aura setiap ksatria yang berdiri di hadapannya. Kesepuluh pahlawan menahan dorongan tersebut tanpa bergeming, memancarkan keutuhan pendar cahaya Sumpah Sembilan Bintang dari pergelangan tangan mereka.

"Ikrar damai dari luar benua?" cetus sang komandan seraya menatap pendar warna-warni di tangan Bara. "Bahasa dan energi spiritual kalian tidak tercatat dalam arsip peradaban kami."

"Kami berasal dari daratan tengah," sahut Samudra At-Thahira seraya membungkuk hormat sesuai etika diplomasi purba. "Perjalanan kami menembus Lembah Kelam untuk mencapai pusat peradaban asing ini."

Prajurit asing di belakang komandan mulai bergerak membentuk lingkaran, mengunci seluruh celah melarikan diri dengan tombak berputar mereka. "Daratan tengah telah diisolasi sejak seribu tahun lalu. Siapa pun yang menembus batas tanpa paspor dimensi dianggap sebagai pemicu invasi!"

"Kami bukan penyerang!" tegas Guntur Al-Ghazi seraya melangkah maju, perisainya memancarkan arus listrik tipis. "Kami sedang mengejar ancaman musuh abadi yang bisa menghancurkan kota kalian juga!"

"Tahan emosimu, Guntur!" peringat Fajar Nur-Zaman dengan suara rendah. "Jangan memicu konfrontasi fisik di gerbang pertama peradaban asing ini!"

"Kalian tidak memegang hak untuk argumen di tanah ini," potong komandan asing itu dingin. "Aturan Kota Seribu Gerbang sangat mutlak: Asing harus menyerahkan seluruh senjata dan membiarkan jiwa mereka dipindai oleh Gerbang Penghakiman!"

"Menyerahkan senjata kami?!" seru Banyu Al-Fatih kaget. "Itu sama saja dengan menyerahkan leher kami ke tiang pembantaian!"

"Kami tidak akan pernah menyerahkan senjata kami kepada pihak yang belum kami kenal," pangkas Bara Al-Mustafa dengan tatapan mata emas yang tajam dan tidak tergoyahkan.

Komandan asing itu menarik nafas panjang melalui topeng logamnya, memutar tombak gandanya hingga memicu pusaran angin ungu yang pekat. "Kalau begitu, kehadiran kalian adalah ancaman langsung bagi keutuhan kota! Pengawal, tangkap mereka hidup atau mati!"

"Formasi Pertahanan Lingkar!" perintah Bara seketika. "Tangkis serangan mereka tanpa mengalirkan serangan mematikan! Kita harus membuktikan bahwa niat kita murni!"

Dua puluh prajurit berzirah perunggu menerjang maju bersamaan. Serangan tombak berputar mereka menghantam udara, melepaskan gelombang pemotong dimensi yang menguji seluruh refleks dan ketangguhan sepuluh ksatria di awal perjumpaan peradaban ini.

🪷 🪷 🪷

Pertempuran sengit meletus di pelataran luar gerbang utama. Pasukan asing bertarung dengan teknik kolektif yang sangat presisi, memobilisasi celah spasial untuk memindahkan posisi tubuh mereka secara instan dari satu titik ke titik lain di udara.

"Mereka melompat melintasi lipatan ruang!" jerit Bayu Al-Asad seraya bertukar tebasan belati dengan pengawal yang mendadak muncul di belakang punggungnya.

"Gunakan frekuensi gerakan untuk membaca arah kemunculan mereka!" teriak Fajar Nur-Zaman dari barisan tengah seraya mengamati pola bukaan energi ungu di udara.

Zahra Mentari menarik tali busurnya, melepaskan panah cahaya penanda yang meledak lembut di udara. "Panahku menyebarkan bubuk pendar! Setiap kali mereka membuka celah ruang, posisinya akan terlihat satu detik sebelumnya!"

Lihat selengkapnya