Intrik di Balik Jamuan – Samudra At-Thahira Menavigasi Politik Lokal
---o0o---
Lentera-lentera kaca berukir naga emas memantulkan pendar hangat di atas meja panjang bermaterial kayu cendana merah. Wewangian minyak mawar bertabrakan dengan aroma daging panggang berbumbu rempah mahal, mengisi aula megah Kediaman Agung Wali Kota Arkadipura. Suara denting cangkir perak dan gelak tawa para bangsawan lokal bersahut-sahutan, seolah jeritan perburuan berdarah di padang rumput perbatasan hanyalah dongeng pengantar tidur.
Samudra At-Thahira berdiri tegak di tengah aula, menyesuaikan posisi jubah perak berkerah tingginya. Prasasti Kuno di pinggangnya sengaja disembunyikan di balik lipatan kain sutra, namun matanya yang tajam sibuk merekam setiap gestur, lirikan mata, dan bisikan tersembunyi para elite kota.
"Nikmatilah hidangan ini, Anak Muda," panggil seorang pria paruh baya berjanggut klimis yang duduk di kursi utama—Wali Kota Arcadipura, Lord Varadin. Pria itu mengayunkan cangkir anggurnya dengan senyum ramah yang dirancang terlalu sempurna. "Jarang sekali kita kedatangan tamu terhormat dari wilayah danau kuno yang membawa rekomendasi... berharga."
Samudra membungkuk hormat dengan gerakan yang sangat terukur, memamerkan senyum diplomatis terbaiknya. "Kehormatan besar bagi kami, Lord Varadin. Kebaikan Anda menerima sepuluh pengembara yang kelelahan ini adalah kehangatan pertama yang kami rasakan di Benua Kuno."
"Kebaikan selalu punya harganya sendiri, Samudra," sela Lord Varadin pelan, nadanya begitu halus namun menyengat bagai jarum halus. Ia menyesap anggurnya, menatap Samudra lurus-lurus. "Terutama ketika harga kepala sepuluh orang di depan meja makanku ini senilai seratus ribu keping emas kerajaan."
Di meja sebelah kiri, Banyu dan Guntur mendadak menghentikan kunyahan daging mereka. Tangan Guntur secara refleks bergerak turun menuju pinggang, namun Banyu menyenggol rusuk saudaranya dengan siku, memaksanya tetap tenang.
"Lord Varadin tentu bercanda," balas Samudra tanpa mengedipkan mata, suaranya tetap setenang telaga jernih. "Nilai seratus ribu keping emas itu hanyalah propaganda murahan dari pihak luar yang ingin mengacaukan stabilitas perdagangan di wilayah kekuasaan Anda. Seorang pemimpin bijak seperti Anda tentu tidak akan membiarkan Arcadipura dijadikan bidak oleh faksi luar, bukan?"
Lordin Varadin terkekeh hambar, matanya menyipit. "Kau sangat pandai bersilat lidah, Cendekiawan Muda. Mari kita lihat seberapa pandai kau bernavigasi ketika jamuan ini selesai."
🪷 🪷 🪷
Pernyataan bersirat ancaman dari Lordin Varadin melemparkan bayangan dingin ke atas meja jamuan. Samudra berbalik perlahan, melangkah menuju sudut ruangan di mana Bara, Laras, dan Fajar duduk dalam posisi siaga penuh. Meskipun pakaian mereka telah berganti menjadi jubah bersih khas kota pelabuhan, ketegangan di antara para ksatria tidak dapat disembunyikan.
"Samudra, apa yang dia katakan padamu?" bisik Laras Al-Humaira seraya mendekatkan cangkir tehnya ke bibir, matanya mengawasi para pengawal berzirah besi hitam yang berbaris rapat di sepanjang pilar aula.
"Dia tahu soal maklumat pemburu bayaran itu, Laras," jawab Samudra berbisik, matanya tetap berpura-pura menikmati pameran lukisan di dinding aula. "Varadin sengaja mengundang kita ke jamuan ini bukan untuk melindungi kita, melainkan untuk menilai faksi mana yang menawarkan keuntungan lebih besar untuk menyerahkan kita."
Bara mengepalkan tangannya di bawah meja, hulu pedang peraknya bergetar pelan di balik jubah. "Jika dia berniat menjebak kita, kenapa tidak menyergap kita saat masuk ke gerbang kota tadi?"
"Karena hukum perdagangan Arcadipura melarang pertumpahan darah di dalam kediaman wali kota selama jamuan resmi," sela Fajar yang mengamati gerak-gerik para pelayan aula. "Varadin ingin memeras kita terlebih dahulu. Jika kita tidak bisa memberikan penawaran yang lebih tinggi dari seratus ribu keping emas, dia akan melemparkan kita ke para pemburu di luar gerbang begitu jamuan berakhir."
"Lalu apa rencana kita, Samudra?" tanya Zahra Mentari pelan seraya memotong buah apel untuk Little Nuwa yang duduk diam di sampingnya. "Kita tidak punya emas sebanyak itu untuk membungkam mulut para bangsawan ini."
"Emas bukan satu-satunya komoditas bermutu di kota ini, Zahra," sahut Samudra dengan binar kecerdasan di matanya. Ia merogoh saku dalam jubahnya, menyentuh gulungan kertas berpelindung segel yang baru saja ia susun. "Arcadipura sedang berada di ambang perang dagang dengan Serikat Dagang Lembah Barat. Varadin membutuhkan dokumen rahasia jalur pelayaran kuno yang selama ini terkunci di Danau Tujuh Misteri."
"Dokumen jalur pelayaran yang ada di prasastimu?" tanya Bayu menyela dari balik pilar hiasan.
"Tepat," tegas Samudra. "Aku akan menggunakan informasi itu sebagai umpan. Tapi sebelum aku bernegosiasi dengannya, kita harus memastikan siapa sebenarnya sekutu dan musuh nyata di dalam ruangan ini."
Samudra berbalik kembali ke tengah aula, melangkah menuju meja Tuan Muda Eldrin—putra mahkota klan pesaing Varadin yang duduk terasing di sudut kanan aula bersama para pengawal pribadinya.
🪷 🪷 🪷
Langkah Samudra mendekati meja Eldrin langsung disambut oleh tatapan tajam dan hunatan setengah bilah belati dari para pengawal klan pesaing. Suasana di aula megah itu kian terasa memutihkan dada, berbanding terbalik dengan alunan musik kecapi yang terus mendenting merdu di panggung utama.
"Tahan senjatamu, Pengawal," panggil Tuan Muda Eldrin seraya melambaikan jemarinya yang terhiasi cincin batu giok hitam. Ia menatap Samudra dengan senyum penuh selidik. "Biar sang Cendekiawan Danau ini mendekat. Aku penasaran keberanian apa yang membuatnya berani melangkah ke wilayahku setelah berbicara dengan Varadin."
Samudra membungkuk hormat, berdiri cukup dekat sehingga bisikannya hanya bisa didengar oleh Eldrin. "Saya datang bukan membawa keberanian, Tuan Muda Eldrin, melainkan membawa kunci untuk menyelamatkan bisnis galangan kapal klan Anda dari kebangkrutan bulan depan."
Mata Eldrin menyipit, raut wajah santainya seketika mengeras. "Jaga bicaramu, Pengembara! Klan Eldrin adalah penguasa laut selatan!"
"Penguasa yang kapal-kapalnya tenggelam berturut-turut di Selat Hitam karena racun sihir yang dilarutkan oleh pengawal Varadin di lambung kapal kalian?" tembak Samudra tanpa ragu, suaranya mengandung intonasi kalkulasi yang begitu dingin.
Eldrin menahan napasnya, jemarinya meremas cangkir perak hingga membengkok. "Dari mana kau tahu soal sabotage racun sihir itu?!"
"Prasastiku merekam setiap getaran elemen di wilayah pelabuhan sejak kita memasuki kota ini dua jam lalu," sahut Samudra tenang. "Varadin berencana menjebak kami malam ini, lalu mengambinghitamkan klan Anda atas kematian ksatria buronan kerajaan, memberikan Varadin alasan sah untuk menyita seluruh aset armada kapal Anda esok pagi."
Di sudut aula yang lain, dua pengawal utama Varadin mulai bergerak mencurigakan. Mereka berjalan mengelilingi barisan meja tempat Embun Al-Khansa dan Mega berada, secara terselubung menyebarkan serbuk beraroma ungu pudar dari dalam lengan baju mereka.
"Mega... aroma wewangian ini berubah," bisik Embun Al-Khansa, matanya yang peka menangkap serbuk ungu yang merayap di bawah lantai. "Ini bukan minyak mawar... ini Bubuk Pembeku Mana!"
"Mereka mulai melumpuhkan kemampuan sihir kita secara diam-diam," desis Mega seraya memegang lengan Embun, memfokuskan aura air dalam tubuhnya untuk membendung racun udara tersebut. "Samudra harus bergegas... sebelum serbuk ini memenuhi seluruh ruangan!"