Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #28

TANGAN DINGIN EMBUN

Tangan Dingin Embun – Embun Al-Khansa menyelamatkan warga dari racun misterius.

---o0o---

Kabut keabu-abuan berlapis aroma tembaga membusuk menyelimuti Lembah Lembayung sejak fajar menyingsing. Di alun-alun Desa Lintang, ratusan warga tergeletak berjejer di atas tikar pandan dengan kulit merajah kehitaman dan napas tersendat-sendat. Pembuluh darah di leher mereka menegang membiru, menyebarkan gelombang panas yang tak mampu diredakan oleh rendaman air es sekalipun. Suara erangan kesakitan melayang memecah keheningan pagi yang mencekam, menciptakan atmosfer keputusasaan yang begitu pekat.

"Sentuhan racun ini tidak wajar, Mega," pangkas Embun Al-Khansa seraya berlutut memegang pergelangan tangan seorang anak kecil yang menggigil hebat. "Aliran darahnya bergerak terbalik, menghancurkan simpul kehidupan dari dalam."

Mega Nur-Aisyah menumpahkan isi kantong obatnya ke atas meja kayu, matanya memancarkan kecemasan yang amat mendalam. "Racun ini menyebar melalui air sumur utama sejak tengah malam! Jika kita tidak menemukan penawarnya sebelum matahari mencapai puncak, paru-paru mereka akan membeku menjadi batu!"

"Berapa banyak korban yang sudah terjangkit hingga detik ini, Kepala Desa?" tanya Bara Al-Mustafa seraya berpaling pada tetua desa yang berdiri gemetar di sampingnya.

"Hampir lima ratus jiwa, Ksatria!" jawab Tetua Desa dengan suara serak menahan tangis. "Obat-obatan herbal biasa justru membuat muntah darah kehitaman! Kami tidak tahu lagi harus meminta bantuan kepada siapa!"

"Ini bukan racun alami," cetus Fajar Nur-Zaman seraya meneliti jejak residu melingkar di pinggir sumur desa menggunakan kaca pembesar gaibnya. "Ini adalah racun buatan dari Orde Bayangan, dirancang khusus untuk memutus jalur energi spiritual warga sipil."

Laras Al-Humaira menarik belatinya setengah senti, memandangi kegelapan hutan di pinggir desa dengan tatapan waspada. "Mereka sengaja menyerang warga untuk memancing kita keluar dari jalur perjalanan."

"Tujuan mereka tidak penting saat ini, Laras!" potong Banyu Al-Fatih seraya mengangkat seorang pria tua yang tersengal-sengal ke tempat teduh. "Yang terpenting adalah menyelamatkan orang-orang ini sekarang juga!"

Embun memejamkan mata sejenak, mengheningkan cipta seraya menyalakan pendar cahaya hijau lembut dari pergelangan tangannya. Simbol Sumpah Sembilan Bintang milik Embun memancarkan aroma teratai segar yang langsung menetralkan udara busuk di sekitar mereka. Ia menatap kesembilan sahabatnya dengan kemantapan jiwa yang utuh tanpa keraguan.

"Aku yang akan menahan racun ini di tubuh seluruh warga," tegas Embun seraya merentangkan kedua telapak tangannya ke udara. "Mega, bantu aku memetakan pusat penyebaran racun di dalam organ mereka!"

"Tetapi Embun, menyerap racun lima ratus orang sekaligus bisa merusak inti kehidupanmu sendiri!" teriak Guntur Al-Ghazi menahan bahu Embun dengan raut khawatir.

"Jiwaku ditakdirkan untuk menjadi penyembuh, Guntur," balas Embun lembut seraya melepaskan pegangan Guntur secara perlahan. "Aku tidak akan membiarkan satu jiwa pun padam di hadapanku hari ini!"

🪷 🪷 🪷

Embun Al-Khansa melangkah tepat ke tengah-tengah alun-alun desa, menancapkan tongkat kayu murni bertatahkan kristal emun di atas tanah keras. Gelombang aura hijau bening meledak pelan dari telapak tangannya, membentuk pola jaring-jaring energi berbentuk teratai raksasa yang menutupi seluruh area perawatan korban. Benang-benang cahaya hijau meluncur dari ujung jarinya, menyambungkan inti energi Embun ke dada ratusan warga yang tergeletak tak berdaya.

"Teknik Rahasia Teratai Es: Penyerapan Tujuh Gelombang!" seru Embun dengan suara bernada spiritual yang merdu namun berwibawa.

Seketika itu pula, rasa sakit dari ratusan warga mulai berpindah jalur. Uap hitam pekat beracun terangkat keluar dari pori-pori kulit para korban, mengalir melalui benang cahaya hijau dan masuk secara bergelombang ke dalam tubuh Embun. Kulit mulus Ksatria Penyembuh itu seketika memucat, dan garis-garis kehitaman mulai merayap dari pergelangan tangannya menuju ke arah leher.

"Embun! Tahan alirannya! Jangan menyerap semuanya sekaligus!" jerit Mega Nur-Aisyah seraya menancapkan jarum-jarum perak di punggung Embun untuk membagi beban racun.

"Aku... aku masih sanggup, Mega!" bisik Embun dengan bibir bergetar hebat menahan rasa dingin yang membakar dari dalam pembuluh darahnya.

"Napas para warga mulai stabil!" seru Zahra Mentari seraya memeriksa denyut nadi anak kecil di ujung tikar. "Wajah mereka tidak lagi membiru!"

"Tapi lihat kondisi Embun!" potong Banyu Al-Fatih cemas. "Suhu tubuhnya merosot drastis bagaikan es abadi puncak gunung!"

Bara Al-Mustafa menatap sekeliling dengan pedang perak terhunus, insting kepemimpinannya menangkap adanya pergerakan aneh di atas pohon-pohon besar yang mengelilingi desa. "Mereka tidak hanya menabur racun! Musuh sedang menunggu Embun kehabisan energi!"

"Fajar, Bayu, buat barisan lingkaran!" perintah Bara nyaring. "Jangan biarkan apa pun mengganggu fokus penyembuhan Embun!"

"Siap, Ketua!" sahut Bayu Al-Asad seraya mencabut dua belati anginnya dan berdiri kokoh di sisi kiri Embun.

Dari balik kerindangan pohon Lembayung, bermunculan belasan sosok berjubah kelabu dengan topeng tengkorak besi. Pemimpin mereka, seorang pria kurus tinggi yang memegang tongkat berkepala ular tembaga, tertawa melengking memecah kesunyian desa.

"Sungguh kebodohan yang luar biasa dari Ksatria Penyembuh Sembilan Bintang!" ejek pria bertopeng tengkorak itu. "Engkau sukarela menjadikan tubuhmu sebagai wadah 'Racun Pembeku Jiwa' milik Orde Bayangan!"

"Siapa kau, pengancut musahan?!" gertak Guntur Al-Ghazi seraya menghentakkan kaki hingga kilatan petir menyambar pepohonan di sekitar musuh.

"Aku adalah Racun Hitam Malakor!" jawab pria itu seraya mengacungkan tongkat ularnya. "Dan hari ini, aku akan menyaksikan Ksatria Penyembuh kalian mati membusuk oleh racun ciptaanku sendiri!"

🪷 🪷 🪷

Malakor membentangkan lengannya, memicu seratus prajurit bayangan melompat turun dari dahan pohon dengan pedang beracun terhunus. Pasukan musuh menerjang langsung ke arah Embun yang sedang terkunci dalam meditasi penyerapan racun massal.

"Jangan sentuh dia!" raung Banyu Al-Fatih seraya melompat maju, mengayunkan perisai raksasanya hingga menciptakan gelombang kejut air yang menghempaskan puluhan prajurit musuh ke udara.

"Laras, jaga sektor kanan!" teriak Bara Al-Mustafa seraya menebas rantai bayangan yang mencoba mengikat kaki Embun. "Samudra, bantu pertahanan belakang!"

Lihat selengkapnya