Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #29

JEBAKAN GELAP

Jebakan Gelap – Banyu Al-Fatih Terpisah dari Rombongan

---o0o---

Hujan deras mengguyur Hutan Bayangan Kelam tanpa ampun, mengubah tanah berbatu menjadi aliran lumpur licin yang pekat. Suara gemuruh petir bersahut-sahutan di atas langit hitam, menyamarkan langkah kaki kesepuluh ksatria yang melangkah tertatih menembus kegelapan. Bau belerang dan busuk dedaunan lembap menusuk hidung, bercampur dengan bau darah tipis dari luka pertarungan mereka sebelumnya di pelabuhan.

"Tetap rapat dalam barisan!" teriak Bara di antara deru angin dan hujan, tangan kanannya memegang hulu pedang perak yang bersinar keemasan redup. "Kabut ini mengandung sihir penyesat! Jangan sampai ada yang tertinggal!"

Banyu Al-Fatih berjalan di sisi paling kiri barisan, memegang perisai perunggunya yang retak. Napasnya memburu parah, peluh dan air hujan bersatu mengalir dari dahinya. "Bara! Jalur di sebelah kiri ini terlalu curam! Lumpur terus meluncur turun!"

"Geser posisi sedikit ke kanan, Banyu!" sahut Guntur dari depan seraya menarik bahu Bayu yang hampir tergelincir. "Ikuti pendar sinar dari prasasti Samudra!"

Namun, sebelum Banyu sempat menggeser pijakannya, tanah di bawah kakinya mendadak bergetar hebat. Sebuah pusaran air hitam yang keluar dari celah tebing meledak secara tiba-tiba, menciptakan tanah longsor raksasa yang memotong jalur lintasan hutan tersebut.

CRASH! BOOM!

"Awas!" jerit Laras Al-Humaira seraya melempar selendang peraknya untuk meraih Banyu.

"Banyu!" teriak Guntur histeris, mencoba melompat menembus curahan lumpur raksasa.

"Jangan mendekat, Guntur! Tebing ini runtuh!" jerit Banyu seraya menancapkan perisainya ke dinding batu yang meluncur deras.

Debit lumpur dan air hitam yang meluap dari celah sihir menyeret tubuh Banyu meluncur turun ke dalam jurang gelap di bawah tebing. Selendang Laras hanya menyambar udara kosong saat gumpalan tanah dan batuan menutup celah jalur tersebut sepenuhnya, mengisolasi Banyu dari pandangan sembilan rekannya di atas.

"Banyu! Banyu!" jerit Guntur melongong ke bawah jurang pekat, suara panggilannya langsung ditelan oleh gemuruh petir dan deru hujan yang makin lebat.

Di dasar jurang yang pekat, Banyu terhempas keras ke atas tumpukan dedaunan basah. Tubuhnya ngilu hebat, perisai perunggunya terlempar beberapa meter darinya. Ketika ia mencoba bangkit, suara tawa melengking memecah keheningan jurang tersebut.

"Satu ekor anak burung terpisah dari sarangnya..." bisik sebuah suara dingin dari balik kabut hitam yang merayap mendekat.

🪷 🪷 🪷

Banyu Al-Fatih terbatuk pelan, mengusap lumpur hitam yang menutupi matanya seraya meringis menahan rasa sakit pada rusuk kirinya. Ia dengan cepat berguling ke samping, menyergap kembali hulu perisai perunggunya sebelum berdiri dalam posisi siaga rendah. Kegelapan di dasar jurang Hutan Bayangan Kelam begitu pekat hingga cahaya rembulan sama sekali tak sanggup menembusnya.

"Siapa di sana?!" bentak Banyu dengan suara menggelegar, mencoba menutupi kegentaran yang mulai merayap di dadanya. "Tunjukkan dirimu, Penakut!"

Sesosok pria tinggi kurus berjubahkan kain bertuliskan mantra darah melangkah keluar dari balik kabut tebal. Di tangannya, ia mengayunkan sebuah cambuk tulang yang memancarkan pendar hijau beracun. Di belakangnya, puluhan prajurit bertopeng tengkorak merayap dari balik celah pepohonan mati, mengurung Banyu dalam lingkaran rapat.

"Aku adalah Silvanus, Pemimpin Perburuan Bayangan dari Serikat Kegelapan," panggil pria itu seraya tersenyum dingin, memperlihatkan deretan giginya yang runcing. "Kami sengaja memicu longsoran sihir itu untuk memisahkan ksatria terkuat di garis depan kalian."

Banyu menyipitkan matanya, mengencangkan cengkeraman tangannya pada gagang perisai. "Kalian membuntutiku... bukan sekadar kebetulan?!"

"Tentu saja tidak, Banyu Al-Fatih," ejek Silvanus seraya mengibaskan cambuk tulangnya hingga menimbulkan suara lecutan nyaring. "Kepala ksatria pelindung seperti dirimu dihargai tiga puluh ribu keping emas jika diserahkan dalam keadaan bernyawa. Kau adalah umpan terbaik untuk memancing Bara dan sembilan rekannya jatuh ke dalam perangkap utama kami!"

"Jangan mimpi bisa memanfaatkanku untuk menjebak teman-temanku!" teriak Banyu penuh amarah. Ia menghantamkan perisai perunggunya ke tanah, memicu gelombang kejut Hantaman Air Terjun yang menerbangkan lumpur dan tiga prajurit bertopeng di depannya!

"Serang dia! Lumpuhkan kedua kakinya!" perintah Silvanus seraya mengibaskan tangannya.

Puluhan prajurit bertopeng menerjang serentak, mengacungkan tombak beracun mereka dari segala arah. Banyu bergerak cepat, memutar tubuhnya untuk menangkis sabetan tombak dengan perisainya.

STAB! CRASH!

"Aku tidak akan pernah menjadi beban bagi kelompokku!" jerit Banyu seraya mengayunkan tinjunya yang terbungkus pelindung besi, menghantam dada prajurit musuh hingga terlempar ke pohon.

Namun, di atas tebing jurang yang hancur, Guntur dan Bara berjuang keras menemukan jalan turun menembus tebing cadas yang terlalu curam dan rapuh.

"Kita harus turun ke sana sekarang, Bara!" tegar Guntur dengan mata memerah menahan cemas. "Suara pertempuran Banyu terdengar dari bawah!"

"Sabar, Guntur! Jika kita melompat tanpa perhitungan, kita akan jatuh ke dalam Jebakan Gelap yang mereka siapkan!" sela Samudra seraya memeriksa pendar merah yang terbakar di atas permukaan prasastinya.

🪷 🪷 🪷

Di dasar jurang yang terisolasi, pertempuran Banyu berjalan amat tidak seimbang. Masing-masing sabetan tombak musuh dilapisi cairan racun pembeku darah yang membuat gerakan kakinya kian lambat dan berat. Perisai perunggunya yang retak mulai mengeluarkan percikan api gaib saat menahan sabetan cambuk tulang milik Silvanus secara bertubi-tubi.

LECUT! CRASH!

"Argh!" erang Banyu saat ujung cambuk tulang Silvanus berhasil menggores paha kanannya, meninggalkan luka bakar hijau yang sangat menyengat.

Banyu terhenyak jatuh bertumpu pada satu lututnya, napasnya memburu dan pandangannya mulai membayang akibat racun yang merayap naik melalui pembuluh darahnya.

"Kau gigih, Anak Muda," panggil Silvanus seraya melangkah mendekat, mengayunkan cambuknya perlahan. "Tapi kekuatanmu sendirian tidak ada artinya tanpa pendar penyembuh dari kawan wanita penyembuhmu itu, bukan?"

Lihat selengkapnya