Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #30

Misteri Pedang Perak Cakrawala

Misteri Pedang Perak Cakrawala

---o0o---

“Pusaka perak yang terselip di pinggang Bara Al-Mustafa, berkilau tanpa karat, memancarkan pantulan cahaya bulan purba.”

Malam itu, hembusan angin dingin berdesir menusuk celah dinding batu Gerbang Cakrawala. Di puncak menara pengawas, Bara berdiri tegak memandang hamparan lembah yang mendadak diselimuti kabut ungu kehitaman. Suasana hening seketika pecah saat anak tangga batu diguncang derap langkah yang tergesa-gesa.

“Bara! Celaka besar menimpa perbatasan timur kita!” seru Laras Al-Humaira, pengintai muda benteng, seraya mencengkeram erat busur panahnya dengan jemari dingin gemetar. “Kabut pekat itu bukan fenomena alam biasa. Para penjaga depan mendadak kaku tanpa luka goresan, namun tatapan mata mereka kosong bagai terhisap kegelapan mutlak!”

Bara meletakkan telapak tangannya di atas hulu pedang. Logam mulia itu sedingin embun pegunungan, bergetar lembut seolah menyimpan detak jantung gaib yang tersembunyi berabad-abad lamanya.

“Segel: Terjaga,” gumam Bara lirih, memastikan untaian aksara gaib yang melingkari sarung pedang masih membungkus bilahnya secara rapat tanpa celah terbuka sedikit pun.

“Apakah segel pusaka itu sanggup menahan marabahaya ini?” tanya Tetua Malik seraya menyusul naik dengan napas tersengal-sengal, tongkat berkepala garuda kayu miliknya diketukkan ke lantai menara. “Kisah Kuno dan Asal-Usul Rahasia leluhur mencatat, pedang ini ditempa bukan dari logam bumi biasa, melainkan serpihan meteorit suci yang jatuh ke tengah danau pada malam seribu bintang. Pedang ini hanya akan terhunus ketika takdir benar-benar menguji keadilan. Apakah saat genting itu tiba sekarang?”

“Kita tak boleh bertindak gegabah, Tetua,” sahut Bara tenang seraya menatap kabut yang bergulung bagai ombak lautan hitam pekat. “Singkapan Takdir Terhadap Ancaman Purba mengingatkan bahwa bilahnya mampu membelah ilusi kegelapan kuno yang bersembunyi di balik kabut, namun pusaka ini pantang digerakkan oleh kepanikan jiwa. Jika kutarik tanpa ujian keadilan sejati, bilah meteorit ini justru akan mengikis kewarasan jiwaku.”

Tiba-tiba, suara tawa parau bergema dari dalam jurang berkabut, menggetarkan susunan batu benteng pertahanan. Sesosok kabut raksasa bertaring merah saga perlahan mengapung di udara malam yang membeku.

“Keturunan Al-Mustafa!” seringai makhluk bayang itu dengan desisan yang menyengat gendang telinga. “Pusaka bintangmu takkan sanggup membendung fajar kegelapan! Penguasa Jurang Kuno telah bangkit menuntut darah para penjaga!”

“Siapa yang mengutusmu mengotori tanah suci ini?” bentak Laras Al-Humaira seraya menarik tali busurnya hingga melengkung sempurna.

“Tahan anak panahmu, Laras!” perintah Bara cepat seraya merentangkan lengan kanannya ke depan tubuh gadis itu. “Makhluk itu hanya proyeksi ilusi pemancing amarah. Musuh sejati bersembunyi di balik kabut danau.”

“Bara, perhatikan air danau di kejauhan!” pekik Tetua Malik seraya menunjuk pusaran air yang memancarkan pendar berbisa. “Pusaran Danau Bintang Tujuh mulai bergolak liar membelah air!”

Bara mempererat cengkeraman pada sarung pusaka peraknya yang kini berpendar menyilaukan mata para penjaga.

“Insiden pemicu ini adalah genderang perang yang tak terhindarkan lagi,” ucap Bara dengan nada penuh ketegasan jiwa. “Malam ini kita berangkat menembus kabut, sebelum seluruh cakrawala musnah ditelan kutukan purba.”

🪷 🪷 🪷

Meninggalkan perlindungan benteng kokoh adalah keputusan tanpa jalan pulang bagi seorang ksatria sejati. Bara dan Kirana bergegas menuruni tebing terjal menuju Jembatan Gantung Giok Purba yang merentang di atas jurang berkabut hitam pekat. Suara gemeretak tali tambang kuno beradu serasi dengan deru angin lembah berbau belerang busuk.

“Apakah kita benar-benar harus menyeberangi jurang maut malam ini?” tanya Laras Al-Humaira seraya melangkah hati-hati di atas bilah kayu lapuk yang bergoyang kencang. “Kabut pekat di bawah sana seakan mengawasi setiap ayunan kaki kita.”

“Tak ada pilihan lain bagi keselamatan warga kita, Laras,” sahut Bara seraya memimpin jalan di depan. “Bila kita menunggu fajar merekah di benteng, pusaran danau purba akan menyerap habis energi tanah leluhur tanpa ampun.”

“Ceritakan padaku tentang pedangmu, Bara,” bisik Laras Al-Humaira mencoba mengusir rasa gentar di dadanya. “Mengapa hanya keluargamu yang memikul pusaka meteorit itu?”

“Leluhurku adalah pemuda tulus yang berani menyelam ke kawah danau saat bintang jatuh seribu tahun silam,” tutur Bara perlahan. “Leluhurku tidak menginginkan takhta atau emas permata. Beliau hanya memohon perlindungan bagi rakyat jelata yang tertindas kezaliman zaman. Dari ketulusan niat bersujud itulah segel keadilan abadi terbentuk melingkupi pusaka ini.”

“Lalu mengapa bilahnya tetap menolak dihunus sekarang?” selidik Laras Al-Humaira penasaran seraya menatap ukiran sarung pedang. “Bukankah nyawa ribuan penduduk benteng kini sedang terancam bahaya maut nyata?”

“Pedang meteorit suci ini hanya merespons keadilan murni semesta,” balas Bara seraya meraba sarung perak di pinggangnya. “Bilah ini menolak digerakkan rasa takut atau dendam pribadi manusia. Menghunusnya sebelum waktu takdir hanya akan mendatangkan kutukan kehancuran bagi jiwa pemegangnya.”

“Jadi kita harus bersabar menanti takdir menguji keadilan batin kita?” tanya Laras Al-Humaira menghela napas panjang seraya menguatkan genggaman tangannya.

“Tepat sekali, Laras. Kesabaran jiwa adalah separuh dari tiang keadilan yang sejati,” jawab Bara mantap seraya tersenyum tenang. “Keadilan yang tergesa-gesa hanyalah kemarahan berkedok kebajikan.”

Tiba-tiba, suara derit tajam merobek keheningan malam. Dari dalam kabut jurang, sambaran cakar bayangan hitam memutus tali penopang jembatan di belakang mereka. Dentuman dahsyat mengguncang tebing saat jembatan gantung runtuh berkeping-keping menuju jurang kehampaan tak berdasar.

“Jembatan runtuh di belakang kita!” pekik Laras Al-Humaira melompat ke tepian tebing seberang seraya mencengkeram rumput basah. “Jalan kembali menuju benteng telah musnah tanpa sisa sama sekali!”

Bara melenting tangkas dan mendarat sempurna di sisi Laras Al-Humaira, sorot matanya dingin memandang jurang yang menganga lebar.

“Ini adalah titik tanpa jalan kembali,” ucap Bara menatap rimba kelabu di hadapan mereka. “Dunia masa lalu telah terkunci di belakang. Takdir menuntut kita melangkah maju menuntaskan misteri ini hingga akhir hayat.”

“Lalu ke mana arah langkah pertama kita di tanah terkutuk ini?” tanya Laras Al-Humaira seraya merapikan busurnya.

“Kita menuju Reruntuhan Pedepokan Danau Bintang Tujuh,” tegas Bara penuh tekad baja. “Di sanalah misteri asal-usul pusaka ini menanti pembuktian, dan di sanalah pertarungan takdir kita yang sesungguhnya resmi dimulai!”

🪷 🪷 🪷

Hutan Lumut Kelabu membentang bagai labirin gaib tanpa ujung, diselimuti kesunyian yang mencekik rongga pernapasan. Pepohonan purba yang meliuk bengkok seakan berbisik mengabarkan bahaya maut. Langkah Bara mendadak berhenti saat hawa dingin menusuk tulang, membekukan dedaunan hijau di sekeliling mereka menjadi kristal hitam keperakan.

“Ada bahaya besar mendekat dari arah barat laut!” seru Laras Al-Humaira panik seraya menarik tali busurnya kencang. “Hawa membunuh ini menusuk rongga dada kita!”

Dari balik kabut, puluhan prajurit bayang melompat mengepung dengan pedang kabut hitam legam. Di tengah mereka, melayang sosok berjangkung tinggi dengan topeng perunggu kuno yang retak.

“Panglima Bayang Durgala!” pekik Kirana tercekat gemetar hebat. “Kitab kuno mencatat engkau telah musnah seratus tahun lampau!”

Lihat selengkapnya