Rahasia Kerajaan Kuno – Fajar Nur-Zaman Menerjemahkan Prasasti Tua
---o0o---
Dinding-dinding batu obsidian di dalam Gua Reruntuhan Kuno memancarkan pendar kebiruan hampa. Hawa dingin melekat pada tiap jengkal ruangan bawah tanah yang terisolasi dari peradaban atas. Di tengah aula batu yang melingkar, sebuah stela raksasa berdiri kokoh. Permukaan batu hitam itu dipenuhi oleh ukiran alur-alur rumit yang menyerupai silsilah bintang dan deretan aksara paku berduri yang bergerak lambat, seolah hidup dan bernapas dalam siklus sihir yang terlupakan.
Fajar Nur-Zaman melangkah perlahan mendekati prasasti tersebut. Jarinya yang berbalut pembalut kain tipis bergetar pelan saat menyentuh tepi batu yang dingin. Busur panjang di punggungnya bergeser, menimbulkan suara gesekan pelan yang memecah keheningan sunyi di dalam gua.
"Apakah kau yakin bisa membacanya, Fajar?" tanya Bara yang berdiri dua langkah di belakangnya, tangan kanannya memegang hulu pedang perak yang bersinar temaram. "Bahasa di batu ini tidak menyerupai simbol-simbol yang pernah kita pelajari di Danau Tujuh Misteri."
Fajar menarik napas panjang, meraba aksara pertama yang melengkung tajam bagai cakar elang. "Ini bukan sekadar bahasa kuno, Bara. Ini adalah Aksara Astra-Raja, tingkatan bahasa sihir yang hanya digunakan oleh para penguasa Benua Kuno sebelum Era Kegelapan. Lihat alur energinya... batu ini bertindak sebagai segel ingatan."
"Segel ingatan milik siapa?" sela Laras Al-Humaira seraya mendekat, membiarkan selendang peraknya melayang pelan mengusir kelembapan udara. "Apakah ada petunjuk mengenai alasan mengapa Guru Penuntun begitu berambisi memburu kita hingga ke Benua Kuno ini?"
"Itulah yang sedang kucoba cari tahu, Laras," jawab Fajar tanpa memalingkan pandangannya dari ukiran tua tersebut. Ia merogoh kantong jubahnya, mengeluarkan minyak cerana perak dan mengoleskannya tipis-tipis ke ujung jarinya. "Prasasti ini terkunci oleh tiga lapis bahasa rahasia. Samudra telah memetakan struktur dasarnya, namun untuk membukanya secara utuh, dibutuhkan mataku yang bisa melihat lintasan garis cahaya."
"Hati-hati, Fajar," panggil Embun Al-Khansa dari sudut ruangan tempat ia sedang merawat luka-luka ringan di lengan Banyu dan Guntur. "Prasasti sebalam ini kerap kali menyimpan kutukan batin bagi siapapun yang berani mengusik intinya."
"Jangan khawatir, Embun," balas Fajar dengan sunggingan senyum tipis yang memancarkan ketenangan. "Mataku sudah terbiasa menatap kegelapan."
Fajar menempelkan kedua telapak tangannya di tengah prasasti. Pendar cahaya keemasan meledak kecil dari jemarinya, mengalir menelusuri tiap celah ukiran batu. Aksara paku berduri itu mendadak berhenti merayap, lalu bersinar terang dalam warna merah membara!
🪷 🪷 🪷
Reaksi berantai dari terbukanya lapis pertama prasasti memicu gelombang udara dingin yang menghempas seluruh sudut Gua Reruntuhan Kuno. Bayangan-bayangan semu berupa ribuan prajurit bertengkorak besi mendadak melintas cepat di udara, memancarkan bisikan-bisikan asing yang memenuhi telinga kesepuluh ksatria.
"Fajar! Bertahan!" teriak Bayu seraya mencabut kedua pisau taufannya, bergerak berdiri mengadang angin gaib yang berembus cepat.
"Jangan putuskan kontaknya, Fajar!" panggil Samudra At-Thahira yang berlutut di samping prasasti kecilnya sendiri, sibuk mencatat pergeseran pola energi yang memancar dari batu raksasa tersebut. "Kau berhasil membuka Lapis Utama! Aksara yang muncul di bagian tengah adalah terjemahan langsung dari takdir klan kita!"
Fajar menahan napasnya, mengabaikan denyutan menyakitkan di balik kelopak matanya akibat tekanan energi spiritual yang sangat tinggi. Mulutnya bergerak secara refleks membacakan barisan aksara yang kini bersinar keemasan:
"Di atas takhta tujuh benua, berdirilah Kerajaan Anta Berantah yang megah... Ditopang oleh sepuluh klan penjaga yang membawa benih elemen murni dunia. Namun, ketamakan sang Raja Terakhir memicu Perjanjian Dusta dengan Penguasa Kegelapan Abadi..."
Bara melangkah mendekat, matanya membelalak menatap barisan ukiran yang dipimpin oleh penerjemahan Fajar. "Sepuluh klan penjaga? Fajar... apakah itu berarti kita..."
"Ya, Bara," panggil Fajar, suaranya terdengar berat dan dalam, seolah disusupi oleh emosi sang pembuat prasasti ratusan tahun lalu. "Kita bukan anak-anak yatim piatu yang dipungut tanpa sengaja oleh Guru Penuntun dari berbagai pelosok danau. Kita adalah keturunan terakhir dari sepuluh klan bangsawan Kerajaan Aethelgard yang dibantai dalam Semalam Darah!"
"Keturunan klan Kerajaan Kuno?!" seru Guntur terperanjat, hingga perisai perunggunya hampir terlepas dari genggamannya. "Tapi... Guru Penuntun selalu mengatakan bahwa keluarga kita tewas akibat wabah dan serangan monster liar!"
"Kebohongan yang sangat rapi," desis Zahra Mentari seraya meremas kain gaunnya, matanya membara menahan emosi. "Dia membesarkan kita di Danau Tujuh Misteri bukan untuk menyelamatkan kita, melainkan untuk menyembunyikan kita dari sejarah sampai kekuatan elemen kita matang!"
"Dengarkan kelanjutannya," sela Fajar dengan raut wajah yang kian tegang. Matanya menyusuri barisan aksara paku bagian bawah. "Satu-satunya wadah yang sanggup menampung Inti Kegelapan Abadi adalah darah gabungan dari sepuluh keturunan Aethelgard yang telah mencapai taraf Kesucian Sempurna."
"Jadi... kita semua adalah sarana sesajen," bisik Mega Al-Khansa dengan wajah pucat pasi. "Dia menempa kita menjadi ksatria kuat hanya untuk dikorbankan demi kebangkitan kembali Kerajaan Kuno versi dirinya!"
🪷 🪷 🪷
Kenyataan pahit yang terkuak dari terjemahan Fajar melemparkan duka dan amarah mendalam di dalam dada para ksatria. Namun, sebelum mereka sempat memproses seluruh sejarah terlarang tersebut, gemuruh keras bergetar dari balik dinding obsidian gua.
BOOM!
Retakan-retakan besar merayap di langit-langit gua, memuntahkan debu dan serpihan batu cadas. Dari balik kegelapan lorong masuk, puluhan anak panah beracun bercahaya keunguan meluncur deras menghujani aula reruntuhan!
"Awas! Penyergapan!" jerit Banyu seraya melompat ke depan, menegakkan perisai perunggunya untuk menangkis badai panah beracun tersebut!
SPARKS! CRASH!
Percikan api gaib memenuhi udara saat panah-panah beracun menghantam permukaan perisai Banyu dan Guntur. Dari dalam asap tebal lorong, melangkah keluar serombongan prajurit bertopeng perunggu yang membawa panji bergambar Tengkorak Mahkota—Pengawal Setia Divisi Bayangan Kerajaan!
"Anak-anak terbuang..." panggil seorang wanita bergaun kulit hitam yang berjalan di depan barisan musuh, memegang sepasang belati beracun yang melengkung tajam. "Kalian bergerak terlalu jauh ke dalam reruntuhan sejarah yang seharusnya tetap terkubur."
"Panglima Vespa Vera..." desis Samudra, mengenali lambang di jubah wanita itu. "Salah satu dari Tiga Eksekutor Utama yang melayani istana pusat!"
"Ternyata si Cendekiawan Kecil mengenalku," ejek Vespa Vera dengan tawa dingin yang menggema di dinding gua. "Guru kalian telah mengirimkan pesan khusus. Jika kalian menolak untuk menyerahkan diri dan pedang perak itu secara sukarela, kami diizinkan untuk membawa kalian dalam bentuk potongan tubuh!"