Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #33

SERANGAN SERANGGA BAYANGAN

Rawa Tengkorak yang diselimuti kabut kehitaman berguncang hebat di bawah pijakan kaki para ksatria. Dari balik pepohonan bakau bertulang besi, dengung ribuan sayap tipis bergema konstan, menciptakan frekuensi getaran yang memekakkan telinga dan mengocok perut. Jutaan Serangga Bayangan berukuran sebesar telapak tangan melesat keluar dari lubang-lubang lumpur beracun. Mata merah mereka membara di tengah kegelapan, sementara rahang ganda mereka meneteskan cairan asam pekat yang sanggup melumat batuan pualam dalam hitungan detik.

"Gunakan jubah pelindung kalian sekarang juga!" jerit Bara Al-Mustafa seraya menghunus pedang peraknya, menangkis gelombang terdepan kawanan serangga yang mencoba menerjang mukanya.

"Jumlah mereka terlalu banyak, Bara!" teriak Banyu Al-Fatih seraya memutarkan perisai airnya, menciptakan kubah cairan murni untuk menahan ribuan sengatan yang mengincar rombongan.

"Cairan dari rahang mereka mengikis energi spiritual perisaiku!" seru Samudra At-Thahira cemas seraya menyokong tongkat kearifannya yang mulai meredup dipatok kawanan serangga.

Laras Al-Humaira melompat lihai di antara dahan bakau, memutar belatinya untuk memotong ratusan serangga dalam sekali tebas. "Sengatan serangga ini bukan cuma membawa racun fisik, tapi juga menyedot daya hidup secara langsung!"

"Mega! Apakah ada zat alami di rawa ini yang bisa menetralkan aroma mereka?!" tanya Fajar Nur-Zaman seraya menangkis kawanan serangga menggunakan gulungan mantra yang membara.

Mega Nur-Aisyah berlutut di tengah lingkaran pertahanan, meraba permukaan tanah lumpur yang bergetar. Tangannya dipenuhi pendar hijau teratai murni dari simbol Sumpah Sembilan Bintang di pergelangan tangannya. "Ini bukan serangga rawa biasa! Ini adalah Serangga Bayangan Jiwa yang dikendalikan oleh sihir pembusukan purba!"

"Bisakah kau menghentikan perkembangbiakan mereka, Mega?!" teriak Guntur Al-Ghazi seraya melepaskan kilatan petir kecil untuk membakar kawanan serangga yang mencoba menerobos dari atas.

"Aroma racun di udara ini adalah zat pemanggilnya!" jawab Mega Nur-Aisyah seraya mengambil sampel cairan hitam dari bangkai serangga di tanah. "Jika kita tidak meracik penangkal berupa kabut penawar dalam waktu sepuluh menit, paru-paru kita akan dipenuhi larva serangga ini!"

"Sepuluh menit?!" seru Zahra Mentari panik seraya terus melepaskan panah cahaya yang meledakkan kelompok serangga di udara. "Kami bahkan sulit bertahan untuk tiga menit ke depan!"

"Aku butuh waktu dan perlindungan mutlak!" tegas Mega seraya mengeluarkan botol-botol kristal dan racikan herbal dari tas obatnya. "Bara, jaga area penyerapan bahan obatku!"

"Kami akan menahan seluruh rawa ini untukmu, Mega!" janji Bara Al-Mustafa seraya mengacungkan pedangnya tinggi-tinggi.

🪷 🪷 🪷

Dengungan sayap jutaan Serangga Bayangan kian memekakkan telinga, bergema dari empat penjuru Rawa Tengkorak. Formasi pertahanan sembilan ksatria merapat ketat, membentuk barisan lingkaran murni untuk melindungi Mega Nur-Aisyah yang mulai mencampurkan serbuk-serbuk herbal di atas meja kayu portabelnya.

"Banyu, jaga sisi utara! Guntur, halau serangga dari angkasa!" perintah Bara Al-Mustafa dengan nada suara berwibawa yang membelah keriuhan.

"Biarkan petirku membakar mereka menjadi abu!" raung Guntur Al-Ghazi seraya melompat ke udara, melepaskan gelombang listrik keemasan yang memusnahkan ribuan serangga dalam sekali sambaran.

"Jangan gunakan api atau petir terlalu besar, Guntur!" potong Fajar Nur-Zaman cepat seraya membaca pergerakan gas rawa. "Gas metana di tanah rawa ini sangat pekat! Ledakan berlebih bisa memicu kebakaran besar yang membakar kita hidup-hidup!"

"Lalu bagaimana kita menahan gelombang hitam ini?!" balas Guntur seraya menurunkan intensitas energinya, menyabetkan batang tombaknya secara manual.

Mega Nur-Aisyah menumpahkan tiga tetes ekstrak Teratai Bulan ke dalam mortir batu, menumbuknya bersama akar kayu purba yang ia temukan di tepi rawa. "Aku butuh ekstrak Bunga Kecubung Hitam yang tumbuh di dasar lumpur beracun itu!"

"Bunga Kecubung Hitam?!" seru Embun Al-Khansa kaget. "Lumpur itu melapisi Inti Jiwa Rawa! Sentuhan langsung bisa merusak saraf tanganmu, Mega!"

"Tanpa bunga itu, cairan penangkal ini tidak akan punya daya sebar udara yang cukup luas!" balas Mega seraya menatap lurus ke dalam mata Embun. "Embun, tahan suhu tubuhku dengan energi esmu saat aku menyentuh lumpur!"

"Baik! Aku akan mengawasi aliran darahmu!" tegas Embun seraya menempelkan telapak tangannya yang dingin di punggung Mega.

Mega merayap mendekati bibir rawa lumpur hitam yang mendidih. Ia merogohkan tangan kanannya langsung ke dalam lumpur pekat beracun tanpa ragu sedikit pun. Kulit mulusnya seketika menghitam dan melepuh, memicu rasa sakit luar biasa yang membuat Mega menjerit tertahan.

"Mega! Tahan rasa sakitnya!" jerit Embun seraya menyalurkan aura es murni untuk menetralkan pembakaran racun di lengan Mega.

"Dapat!" teriak Mega seraya menarik keluar sekuntum bunga berwarna hitam pekat yang memancarkan pendar ungu redup dari dasar lumpur.

"Kerja bagus, Mega!" puji Laras Al-Humaira dari atas pohon, menyabetkan belatinya untuk menjatuhkan kawanan serangga yang mencoba mendekati posisi Mega.

"Bunga ini adalah kunci penangkalnya!" seru Mega seraya memasukkan mahkota Bunga Kecubung Hitam ke dalam cairan kristalnya. "Sekarang aku harus mengekstrak intinya dengan energi penyembuh murni!"

🪷 🪷 🪷

Penyatuan mahkota Bunga Kecubung Hitam dengan ekstrak Teratai Bulan memicu reaksi kimia gaib yang luar biasa hebat. Botol kristal di tangan Mega Nur-Aisyah bergetar kencang, mengeluarkan asap tipis berwarna ungu muda yang memancarkan aroma wangi menusuk hidung. Namun, reaksi tersebut justru memicu kemurkaan luar biasa dari sang Ratu Serangga Bayangan yang bersembunyi di dasar rawa.

"Ksatria pembawa cahaya... tidak akan pernah... melepaskan diri dari rawa ini!" suara gaung magis bergetar dari bawah tanah.

Seketika itu pula, lumpur rawa terbelah hebat. Dari dalam kedalaman tanah, muncul sesosok monster raksasa berwujud gabungan serangga dan wanita berzirah cangkang hitam. Matanya berjumlah delapan dan berkilat merah pekat, memegang dua sabit raksasa yang meneteskan racun korosif.

"Ratu Serangga Bayangan telah bangkit!" teriak Samudra At-Thahira seraya melepaskan gelombang pelindung tertinggi dari tongkatnya.

"Dia menyasar Mega dan botol penangkal itu!" seru Bara Al-Mustafa. "Semua ksatria, bentuk pertahanan berlapis!"

Lihat selengkapnya