Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #34

BADAI PETIR

Matahari terik berada tepat di puncak langit Benua Kuno, membakar hamparan Lembah Kelabu dengan hawa panas yang menyengat. Debu gersang berterbangan ditiup angin kering, menyelimuti sepuluh ksatria terbuang dan rombongan sekutu baru mereka dari Persekutuan Pedang Hitam. Di tengah terik siang yang membakar, pertikaian sengit justru meletup di antara mereka.

"Kau pikir kelompok terbuang seperti kalian berhak memimpin jalur perlintasan ini?" bentak Bintang Sakti, pemimpin Persekutuan Pedang Hitam, seraya menudingkan pedangnya ke arah Bara Al-Mustafa.

"Kami tidak mencari kekuasaan, Bintang Sakti. Kita bersekutu untuk bertahan hidup dari kepungan Istana Pusat," jawab Bara Al-Mustafa dengan nada tenang, mencoba menahan emosi di dadanya.

"Bertahan hidup? Anggotamu yang lemah ini hanya menjadi beban bagi kami!" cerca Bintang Sakti seraya menunjuk ke arah Fajar Nur-Zaman yang terduduk lemas di atas batu, ditopang oleh Embun Al-Khansa dan Mega Nur-Aisyah.

"Jaga bicaramu, Bintang Sakti! Fajar menderita akibat kutukan rantai hitam demi menyelamatkan kita semua di Gua Angin Tirta!" potong Laras Al-Humaira, melangkah tegas ke samping Bara dengan busur cendananya yang terikat rapat.

"Cukup, Laras. Jangan buang energi untuk melayani ketakutan mereka," bisik Bara lembut, mengusap bahu Laras untuk meredakan amarah sang kekasih.

Namun Bintang Sakti justru tertawa mengejek, melangkah mendekati Fajar. "Ksatria cacat begini tak ada gunanya di garis depan. Istana Pusat akan melumat kita jika terus membawanya!"

"Tarik kembali ucapanmu, Bintang Sakti," bentak Banyu Al-Fatih seraya melangkah maju, merentangkan perisai intannya di antara Fajar dan rombongan Pedang Hitam.

"Kenapa? Kau mau membelanya, Banyu? Hamba penakut sepertinya lebih baik ditinggalkan di gurun ini!" balas Bintang Sakti tanpa rasa bersalah.

SRET!

Bumi di bawah kaki Bintang Sakti mendadak bergetar hebat. Hawa panas yang membakar seketika berubah menjadi hawa pekat penuh getaran listrik yang melilit udara. Guntur Al-Ghazi melangkah keluar dari barisan belakang. Dua kapak kembar di genggamannya memancarkan pendar kebiruan yang sangat intens, sementara gumpalan petir mulai menyambar-nyambar di sekeliling bahunya yang tegap.

"Guntur, tahan dirimu!" teriak Fajar Nur-Zaman dengan suara serak dari balik himpitan rasa sakitnya.

"Aku bisa menoleransi penghinaan pada diriku, Fajar," potong Guntur dengan suara berat yang menggelegar bagai gumul guruh di angkasa. "Tapi siapapun yang menghina saudaraku yang berdarah demi perjuangan ini, dia sedang memanggil mautnya sendiri!"

"Kau mengancamku, Guntur?" tantang Bintang Sakti seraya mencabut pedangnya penuh.

"Aku tidak mengancam. Aku memberi peringatan!" pekik Guntur, meremukkan batu di bawah pijakannya saat kilatan petir menyambar tepat di atas kepala mereka di tengah hari bolong.

🪷 🪷 🪷

Udara siang yang terik di Lembah Kelabu mendadak berubah menjadi sangat dingin dan pekat oleh tekanan aura tempur Guntur Al-Ghazi. Kilatan petir kebiruan yang menyambar dari langit bersih menandakan kebangkitan elemen petir murni yang bertumpuk dengan rasa murka sang ksatria. Bintang Sakti dan lima belas anggota Persekutuan Pedang Hitam menyeringai mengejek, memasang kuda-kuda tempur mereka.

"Lihatlah si raksasa bodoh ini! Dia pikir elemen petirnya sanggup menembus Barisan Pedang Hitam kita!" teriak Bintang Sakti seraya mengangkat pedang panjangnya.

"Guntur! Kendalikan amarahmu! Jangan biarkan adu domba ini merusak ikatan kita!" panggil Bayu Al-Asad dari atas tebing batu, berusaha membaca pergerakan energi lawan.

"Ini bukan sekadar amarah, Bayu!" balas Guntur tanpa menoleh sedikit pun. Matanya kini berkilat memancarkan warna biru terang, selaras dengan aliran listrik yang merayap di sepanjang otot lengan ketatnya. "Mereka mengaku sebagai sekutu, tetapi menginjak-injak kehormatan saudara kita yang sedang terluka. Jika sekutu berjiwa kerdil seperti ini dibiarkan, mereka akan menusuk kita dari belakang!"

"Guntur benar, Bara," bisik Laras Al-Humaira seraya menggenggam erat jemari Bara Al-Mustafa di sisinya. "Ada aura kesombongan dan pengkhianatan yang terselubung di dalam batin Bintang Sakti."

"Aku tahu, Laras," sahut Bara dengan tatapan mata yang dalam dan tajam. "Tapi Guntur bertarung dengan amarah yang tidak terkendali. Samudra, perhatikan pola energinya!"

Samudra At-Thahira membuka prasasti kunonya cepat, mencatat fluktuasi energi yang meletup-letup dari tubuh Guntur. "Guntur memasuki fase Pusaran Guntur Murka. Jika dia tidak membagikan beban energinya, aliran darahnya bisa pecah dari dalam!"

"Biar aku yang menjadi penyeimbangnya!" seru Banyu Al-Fatih seraya mengangkat perisainya tinggi-tinggi. Banyu melompat berdiri tegak tepat di samping Guntur. "Jika kau ingin menghancurkan mereka, Guntur, biarkan aku menjadi dinding yang menahan sisa tebasan mereka!"

"Terima kasih, Banyu!" gumam Guntur seraya menyilangkan kedua kapak besarnya. "Hari ini, langit siang akan menjadi saksi bagaimana petir menghancurkan keangkuhan orang-orang murtad!"

"Serang mereka! Bantai raksasa petir itu lebih dulu!" perintah Bintang Sakti dengan nada penuh kebencian.

Lima belas pendekar Pedang Hitam melesat maju secara bersamaan, membentuk formasi Tujuh Bayangan Maut. Pedang-pedang mereka memuntahkan aura hitam beracun yang mengincar titik-titik mematikan di tubuh Guntur dan Banyu.

"Langkah Petir Membelah Bumi!" jerit Guntur seraya menghentakkan kakinya.

BOOM!

Gelombang kejut berdaya ledak tinggi tercipta saat kapak kanan Guntur dihantamkan ke tanah. Bumi terbelah sepanjang sepuluh meter, memuntahkan lidah-lidah petir menyilaukan yang langsung menghantam barisan depan musuh. Tiga pendekar Pedang Hitam terlempar ke udara dengan pakaian hangus terbakar!

"Serangan yang tidak buruk, Raksasa!" ejek Bintang Sakti yang berhasil melompat menghindari tebasan petir, muncul tepat di atas kepala Guntur dengan pedang terangkat tinggi. "Tapi kau terlalu lambat untuk menangkis pedangku!"

"Dia tidak lambat, Bintang Sakti! Kau yang terlalu buta!" bentak Laras Al-Humaira seraya melesatkan sebatang anak panah cahaya emas dari belakang.

ANAK PANAH EMAS meluncur secepat kilat, menghantam ujung pedang Bintang Sakti hingga melenceng jauh dari kepala Guntur!

"Terima kasih, Laras!" seru Guntur seraya memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat, mengayunkan kapak kirinya yang menyala-nyala oleh api petir ke arah dada Bintang Sakti!

CRASH!

Bintang Sakti berhasil menahan tebasan itu dengan menggunakan sarung pedang manusianya, namun benturan dahsyat itu melemparkannya sejauh lima belas langkah hingga menabrak tebing cadas!

"Kalian semua... benar-benar mencari mati!" jerit Bintang Sakti seraya bangkit berdiri, wajahnya yang penuh debu menyeringai penuh dendam.

🪷 🪷 🪷

Eskalasi pertempuran di Lembah Kelabu semakin tak terkendali saat Bintang Sakti merogoh sesuatu dari dalam balik jubah hitamnya. Sebuah wadah perunggu berukir tengkorak dikeluarkan, dan tanpa ragu, Bintang Sakti memecahkan wadah tersebut di atas telapak tangannya sendiri.

Swoosh!

Asam hitam pekat bercampur racun Iblis Darah membubung tinggi, menyelimuti lima belas anggotanya. Mata para ksatria Pedang Hitam mendadak berubah menjadi merah menyala, dan otot-otot tubuh mereka membengkak dua kali lipat seiring dengan melonjaknya aura jahat yang sangat mengerikan.

"Mereka menggunakan racun terlarang Istana Pusat!" teriak Samudra At-Thahira dengan nada panik. "Bara! Bintang Sakti sejak awal adalah mata-mata Istana Pusat yang disusupkan ke dalam Persekutuan!"

Lihat selengkapnya