Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #35

PENGKHIANATAN KECIL

Lentera minyak di meja bundar Kamar Strategi Markas Rahasia Kota Lembah Putih berkedip-kedip ditiup angin dingin yang masuk dari celah kisi-kisi batu. Kota yang terletak di kaki Pegunungan Kuno itu tampak tenang dari luar, tetapi di dalam ruangan berdinding tebal ini, udara terasa makin memadat. Peta wilayah Benua Kuno terbentang di tengah meja, ditindih oleh lima buah batu pemberat perak dan beberapa rol kertas laporan intelijen.

Bara Al-Mustafa berdiri di ujung meja, menopang tubuhnya dengan kedua telapak tangan yang terkepal di atas kayu jati tua. Matanya yang tajam menatap sepuluh cangkir teh herbal yang asapnya mulai tipis. Di sekelilingnya, sembilan saudaranya dan dua perwira tinggi Pertahanan Kota Lembah Putih duduk dengan raut wajah tegang.

"Ada kebocoran informasi," kata Bara datar, tetapi setiap kata yang keluar dari mulutnya menembus kesunyian bagai sembilan mata pisau. "Rute rahasia pengiriman bahan penawar racun untuk Fajar tadi sore disergap tepat di persimpangan Tebing Batu. Tidak ada pemburu bayaran yang bisa tahu koordinat itu, kecuali orang yang berdiri di ruangan ini saat kita menyusun peta tiga jam lalu."

Guntur menghentakkan tangannya ke meja hingga cangkir-cangkir bergetar. "Apa maksudmu, Bara?! Kau mencurigai salah satu dari kita?!"

"Tenang dulu, Guntur," sela Samudra At-Thahira seraya merapatkan jubah peraknya. Tangannya yang memegang Prasasti Kuno bergetar tipis. "Bara tidak menunjuk kita sepuluh ksatria. Tetapi ingat, ruangan ini tidak hanya diisi oleh ksatria dari Danau Tujuh Misteri."

Pandangan Samudra bergulir pelan, mengunci dua perwira lokal Lembah Putih: Kapten Dariono, veteran bertubuh tegap dengan parut luka di pipi, dan Komandan Kaelen, ahli taktik kota berparas dingin yang memegang segel komunikasi.

"Maksudmu kami yang menjual informasi itu, Cendekiawan?" bentak Kapten Dariono seraya berdiri, matanya melotot memamerkan amarah seorang prajurit. "Kami telah mempertaruhkan nyawa melindungi kalian sejak gerbang kota dibuka!"

"Fakta tidak punya perasaan, Kapten," jawab Samudra dingin. Ia menyodorkan selembar kertas terbakar sebagian yang diambil dari kantongnya. "Ini ditemukan di bangkai burung pengirim pesan yang jatuh di menara barat sepuluh menit lalu. Kertas ini menggunakan stempel tinta perak milik Markas Utama Lembah Putih."

Laras Al-Humaira melangkah mendekati meja, jemarinya memegang selendang perak yang mulai memancarkan pendar redup. "Siapa pun pengintai itu, dia tahu persis kondisi Fajar yang makin melemah akibat tato sumpah pengorbanan. Ini bukan lagi pengkhianatan kecil biasa. Ini adalah usaha pembunuhan dari dalam."

🪷 🪷 🪷

Tuduhan yang terlontar secara terbuka membuat atmosfer di dalam Kamar Strategi mendadak mendidih. Komandan Kaelen berdiri perlahan, membenarkan posisi sabuk perunggu di pinggangnya seraya menatap Bara dan Laras dengan pandangan penuh penilaian.

"Tuduhan berat tanpa bukti yang mengikat hanya akan merusak aliansi yang baru kita bangun ini, Bara," panggil Komandan Kaelenra, suaranya teratur dan tenang, berbanding terbalik dengan kemarahan Kapten Dariono. "Stempel perak kota digunakan oleh lebih dari lima belas pejabat tinggi di Dewan Kota. Memojokkan kami berdua di depan sepuluh ksatria asing ini bukanlah tindakan bijaksana."

"Bijaksana atau tidak, keselamatan saudara kami adalah prioritas utama," sela Banyu Al-Fatih seraya menggeser perisai perunggunya ke depan, menutup jarak antara Kaelen dan tempat Fajar berbaring di sudut ruangan. "Siapa pun yang memasok informasi ke luar kota berarti berniat membantai kami semua saat fajar tiba."

"Cukup!" bentak Bara, mengangkat tangan kanannya untuk menghentikan perdebatan yang makin memanas. "Kita tidak akan memulai pertumpahan darah di antara sekutu sebelum fakta terbukti utuh. Samudra, kunci seluruh pintu Markas Rahasia. Tidak ada yang keluar atau masuk dari ruangan ini sampai pengintai itu menampakkan kakinya."

"Dua puluh pengawal pribadi saya berada di luar gerbang lorong ini, Bara," sela Kapten Dariono dengan napas memburu. "Jika kau mengurung kami di sini, dewan kota akan menganggap ini sebagai pemberontakan dari kelompok kalian!"

"Biarkan mereka menganggap begitu," balas Bayu seraya memutar pisau taufannya di sela-sela jari, menyunggingkan senyum tipis yang mengancam. "Paling tidak, jika dewan kota menyerang, kami tahu siapa musuh sebenarnya yang memakai baju zirah."

Fajar Nur-Zaman, yang bersandar di kursi kayu dengan wajah pucat dan tato rantai hitam yang merayap di lehernya, terbatuk pelan seraya mengangkat tangannya. "Jangan... jangan bertengkar..." bisik Fajar, suaranya parau. "Pengintai itu... dia tidak memakai tinta perak untuk menjual informasi. Dia memakai pendar energi yang terikat pada cermin sihir kecil di ruangan ini..."

Mata Samudra terbelalak mendengar ucapan Fajar. "Cermin sihir?!"

Tanpa membuang waktu, Samudra mengibaskan prasastinya ke udara, memancarkan gelombang Tirta Penyingkap Ilusi ke seluruh sudut Kamar Strategi. Dalam sekejap, sebuah cermin rias berukir perunggu di sudut barat ruangan meledak dalam pendar warna merah darah, memantulkan bayangan seseorang yang sedang berdiri di luar jendela menara!

🪷 🪷 🪷

Pendar merah darah dari cermin rias melontarkan gelombang kejut kecil yang memecahkan dua lentera minyak di atas meja. Ruangan terlempar ke dalam remang-remang, hanya disinari oleh aura keemasan dari pedang perak Bara dan pendar perak milik Laras.

"Itu cermin milik ruang penerima tamu Dewan Kota!" seru Mega Al-Khansa seraya menunjuk ke arah pecahan kaca yang berserakan di lantai.

"Berarti pengintai itu ada di lingkungan terdekat kita, tetapi bekerja dari luar barikade ruangan ini!" panggil Zahra Mentari, melepaskan pendar Sinar Mentari dari telapak tangannya untuk menerangi lorong rahasia di balik cermin tersebut.

Sebutir anak panah hitam berujung racun mendadak meluncur tembus dari luar kisi-kisi jendela menara, menyasar tepat ke dada Fajar yang tidak berdaya!

STAB! CRASH!

Guntur bergerak secepat kilat, menghantamkan perisai perunggunya untuk menangkis anak panah itu hingga hancur berkeping-keping. "Mereka mencoba membungkam Fajar dari luar!"

"Kaelen! Dario! Siapa yang memiliki akses ke Menara Barat malam ini?!" bentak Bara seraya mencabut pedang peraknya, menatap kedua perwira kota dengan tatapan mengintimidasi.

Komandan Kaelen tampak memucat untuk pertama kalinya. "Hanya... hanya Pasukan Khusus Pengawal Dewan yang dipimpin oleh Wakil Komandan Justin! Tapi dia adalah adik kandung Kapten Dariono!"

Kapten Dariono terbelalak, wajahnya berubah dari marah menjadi kepanikan mutlak. "Tidak mungkin! Justin tidak akan pernah mengkhianati Lembah Putih! Dia telah bertempur di sampingku selama sepuluh tahun!"

"Adikmu atau bukan, dia baru saja mencoba menembus dada saudaraku!" jerit Banyu seraya menerjang pintu kayu markas hingga hancur berantakan. "Guntur, Bayu, ikut aku ke Menara Barat sekarang!"

Lihat selengkapnya