Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #36

PETA TUJUH PUSAKA

Asap kehitaman sisa pembakaran sihir kegelapan masih membumbung tipis di atas permukaan Danau Tujuh Misteri. Air danau yang dahulu jernih bak kaca kini keruh kecokelatan, dipenuhi puing-puing perahu kayu serta dedaunan teratai raksasa yang hangus terbakar. Di tepi danau yang porak-poranda, para tetua suku air terbaring lemas dalam balutan kain kasa, dirawat telaten oleh Embun Al-Khansa dan Mega Nur-Aisyah. Bara Al-Mustafa berdiri di atas batuan dermaga yang retak, menatap kehancuran kawasan suci itu dengan tatapan tegang dan raut wajah berduka.

"Penyergapan ini terasa sangat sistematis," gumam Bara Al-Mustafa seraya meremas gagang pedang peraknya. "Musuh tidak sekadar menyerang untuk membantai warga lokal."

"Kau benar, Bara," sahut Fajar Nur-Zaman seraya berlutut mengamati ukiran segel sihir yang hancur di dasar dermaga. "Pasukan Orde Bayangan menerobos benteng pertahanan gaib danau ini dengan arah tujuan yang sangat spesifik."

"Apa sebenarnya yang dicari oleh pasukan bajingan itu?!" bentak Banyu Al-Fatih seraya memukul tiang kayu dermaga hingga berkeping-keping. "Mereka meracuni air suci dan membakar pemukiman warga tanpa belas kasih!"

Tetua Ki Ravindra, pemimpin spiritual Danau Tujuh Misteri, terbatuk seraya terhuyung mendekati kerumunan ksatria dengan bantuan tongkat kayunya. "Mereka... mereka tidak memburu sumber air suci kita, Ksatria..."

"Tetua Ravindra! Jangan terlalu banyak bergerak dahulu!" peringat Embun Al-Khansa seraya menyangga lengan sang tetua dengan aura es pemurni.

"Aku harus bicara, Nak," bisik Ki Ravindra dengan suara parau bercampur napas tersengal. "Darah yang tumpah hari ini adalah akibat dari rahasia terlarang yang kami jaga selama tiga generasi."

"Rahasia terlarang apa yang Tetua maksud?!" tanya Laras Al-Humaira seraya melangkah mendekat, memiringkan kepalanya dengan dahi berkerut.

"Alasan sejati mengapa Orde Bayangan menggempur tempat ini sampai lumat..." Ki Ravindra menatap mata Bara dengan pancaran ketakutan yang mendalam. "...adalah untuk merebut bagian Peta Tujuh Pusaka Purba yang tersembunyi di dalam Kuil Dasar Danau."

"Peta Tujuh Pusaka?!" seru Samudra At-Thahira dan Zahra Mentari secara bersamaan, terperanjat mendengar nama pusaka legendaris tersebut.

"Ya," tegas Ki Ravindra seraya menunjuk ke tengah danau yang mendidih. "Peta yang mencatat lokasi peninggalan pencipta Sumpah Sembilan Bintang!"

🪷 🪷 🪷

Kata-kata Ki Ravindra menggantung di udara, memicu hening mencekam di antara para ksatria. Fajar Nur-Zaman segera membuka kitab kuno peninggalannya, membalik lembaran kulit domba dengan jemari yang bergetar cepat.

"Peta Tujuh Pusaka..." bisik Fajar seraya menatap ukiran di kitabnya. "Legenda mencatat bahwa peta itu dibagi menjadi beberapa fragmen suci untuk mencegah kekuatan Penghancur Dunia bangkit kembali!"

"Mengapa Tetua tidak pernah memberitahu kami tentang keberadaan pecahan peta ini sebelumnya?!" tanya Banyu Al-Fatih dengan nada kecewa bercampur cemas.

"Sumpah perlindungan suku kami melarang keras menyebutkan nama peta itu kepada siapa pun, Banyu," jawab Ki Ravindra seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Bahaya yang mengintai peninggalan tersebut jauh melampaui imajinasi manusia fana."

"Apakah musuh sudah berhasil merebut pecahan peta itu dari Kuil Dasar Danau?!" pangkas Laras Al-Humaira seraya memutar belatinya, siap melompat ke dalam air.

"Belum sepenuhnya," sahut Ki Ravindra seraya menggelengkan kepala. "Pintu gerbang Kuil Dasar Danau dilindungi oleh Segel Air Tujuh Lapis. Namun, Panglima Bayangan Zarkos telah menancapkan Pasak Pembusuk Jiwa di dasar danau untuk menghancurkan segel itu secara paksa!"

"Jika segel itu retak, seluruh Peta Tujuh Pusaka akan jatuh ke tangan Orde Bayangan!" seru Zahra Mentari seraya menarik tali busurnya, mengamati pusaran air di tengah danau.

"Berapa banyak waktu yang kita miliki sebelum segel itu hancur total, Tetua?!" tanya Bara Al-Mustafa dengan nada tegas dan penuh kewaspadaan.

"Kurang dari dua puluh menit," jawab Ki Ravindra memelas. "Jika Pasak Pembusuk Jiwa itu tidak dicabut, Kuil Dasar Danau akan runtuh dan pecahan peta itu akan terisap ke dimensi kegelapan musuh!"

"Kalau begitu tidak ada waktu untuk berdebat lagi!" tegas Samudra At-Thahira seraya mengangkat tongkat kearifannya tinggi-tinggi. "Banyu, kau dan aku akan memimpin penyelaman ke Kuil Dasar Danau!"

"Aku ikut bersama kalian!" seru Mega Nur-Aisyah seraya menyiapkan botol-botol pelindung pernapasan herbal. "Air danau ini telah tercemar racun sihir, kalian butuh penawar untuk bertahan bernapas di dalam sana!"

"Bara, amankan tepi danau bersama Laras dan Zahra!" perintah Fajar Nur-Zaman seraya menyiapkan mantra pemandu arah. "Kami akan memastikan pecahan peta itu tidak pernah menyentuh jemari musuh!"

"Bergerak sekarang!" seru Bara Al-Mustafa membelah keheningan seraya mengacungkan pedang peraknya ke udara.

🪷 🪷 🪷

Banyu Al-Fatih, Samudra At-Thahira, Fajar Nur-Zaman, dan Mega Nur-Aisyah menerobos permukaan air Danau Tujuh Misteri yang berwarna keruh kecokelatan. Di dalam kedalaman air, hembusan hawa dingin yang menusuk tulang dan cairan racun kehitaman menyengat kulit mereka. Pusaran arus liar akibat getaran Pasak Pembusuk Jiwa bergulung-gulung bagaikan monster laut yang mengamuk, membatasi jarak pandang hingga kurang dari tiga meter.

"Gunakan gelembung pelindung air murni!" pangkas Samudra At-Thahira melalui transmisi sihir suara di dalam air.

"Hati-hati! Ada pergerakan massa besar di bawah kita!" peringat Fajar Nur-Zaman seraya mengarahkan pendar cahaya kompas sihirnya ke dasar danau.

Dari balik kegelapan lumpur dasar danau, belasan Penjaga Bayangan Berwujud Cumi Raksasa meledak keluar. Tentakel-tentakel beracun mereka yang dipenuhi duri baja meluncur secepat kilat, mengincar gelembung udara para ksatria.

"Jangan biarkan monster-monster ini memperlambat langkah kita!" teriak Banyu Al-Fatih seraya memutarkan perisainya, melahirkan gelombang tebasan air bertekanan tinggi yang memotong tiga tentakel sekaligus.

CRASH! CRASH!

Lihat selengkapnya