Badai salju mengamuk liar di celah tebing Pegunungan Abadi, melayangkan kristal-kristal es tajam yang mengikis zirah serta membekukan jubah kain para ksatria. Di ketinggian empat ribu meter di atas permukaan laut ini, hawa dingin terasa bagai ribuan jarum tipis yang menusuk pori-pori kulit. Angin malam meraung menggelegar menembus celah batu obsidian, menciptakan simfoni gaib yang mengerikan di tengah kegelapan total Benua Kuno.
Bara memimpin di barisan terdepan, memegang hulu pedang peraknya yang memancarkan pendar keemasan hangat untuk membelah jalan di tengah tumpukan salju setinggi dada. Di belakangnya, sembilan saudaranya melangkah dalam ikatan tali jiwa—sebuah jalinan sihir sutra yang dibuat Laras untuk mencegah ada anggota ksatria yang terlempar ke dalam jurang tanpa dasar.
"Bertahanlah sedikit lagi!" teriak Bara menembus deru angin badai, suaranya parau namun memancarkan tekad mutlak. "Menurut peta prasasti Samudra, gua tempat persembunyian Pecahan Kunci Pertama terletak tepat di balik tebing cadas ini!"
Laras Al-Humaira melangkah tepat di belakang Bara, membungkus tubuh Fajar Nur-Zaman dengan selendang peraknya yang bersinar redup. "Fajar! Apakah kau masih bisa merasakan getaran energinya?!"
Fajar mendongak perlahan dari balik lipatan jubah tebalnya. Wajahnya yang biasa tenang kini sepucat es, dengan garis-garis tato rantai hitam yang terus merayap tajam hingga menembus garis leher dan pipinya.
"Aku bisa merasakannya, Laras..." bisik Fajar, suaranya sangat lemah namun tegas. "Di dalam pilar es raksasa itu... Pecahan Kunci Astra pertama membeku. Tapi ingat... es itu dibasahi oleh darah Penjaga Kuno yang tak pernah tidur."
"Jangan cemas soal Penjaga Kuno itu, Fajar!" panggil Banyu Al-Fatih seraya menghentakkan perisai perunggunya ke tanah es untuk memperkokoh pijakan mereka. "Aku dan Guntur yang akan menjadi bentengmu! Kau cukup simpan tenagamu untuk menerjemahkan segelnya!"
"Banyu benar," panggil Samudra At-Thahira yang berjalan membungkuk seraya memeluk rol kertas peta dan Prasasti Kuno di dadanya. "Pecahan Kunci Pertama adalah Inti Kristal Es-Astra. Tanpa pecahan itu, kita tidak akan pernah bisa membuka pintu ruang bawah tanah Istana Pusat!"
Bara mengangkat tangannya, memberi isyarat berhenti saat mereka sampai di ambang mulut gua raksasa yang tertutup oleh gumpalan es membeku. "Siapkan senjata kalian! Kita memasuki wilayah inti Gunung Es!"
🪷 🪷 🪷
Pendar keemasan dari pedang perak Bara menerangi interior Gua Es Abadi yang sangat menakjubkan sekaligus mencekam. Pilar-pilar kristal es raksasa mencuat dari langit-langit dan lantai gua bagai taring-taring naga purba. Udara di dalam gua terasa begitu tenang, berbanding terbalik dengan badai salju gila di luar, namun keheningan ini justru memancarkan tekanan spiritual yang teramat berat.
Di ujung aula gua yang melingkar, sebuah kristal es berbentuk melahap membeku kokoh. Di dalam inti kristal transparan tersebut, melayang sebuah kepingan segel emas berukir aksara paku rahasia—Pecahan Kunci Pertama Kerajaan Aethelgard!
"Itu dia..." bisik Samudra dengan mata berbinar-binar seraya melangkah mendekati altar es tersebut. "Pecahan Kunci Pertama! Struktur energinya persis seperti yang tertulis dalam prasasti kuno!"
"Tunggu, Samudra!" tahan Bayu seraya mencabut kedua pisau taufannya, matanya yang tajam menatap teliti lantai es licin di sekitar altar. "Ada yang tidak beres. Dinding es ini menyimpan bayangan bergerak."
"Bayangan bergerak?!" tanya Zahra Mentari seraya mengangkat tangannya, memancarkan pendar Sinar Mentari untuk menerangi seluruh sudut gua.
Pendar cahaya terang yang disemburkan Zahra seketika membiaskan kenyataan mengerikan. Di dalam pilar-pilar es raksasa yang mengelilingi altar, membeku ribuan tubuh prajurit berzirah kristal tebal dengan mata merah membara yang mendadak terbuka secara serentak!
CRACK! CRACK!
Bunyi retakan keras bergema di seluruh ruangan saat pilar-pilar es itu pecah berkeping-keping!
"Mundur semuanya! Pasukan Pembeku Kuno telah bangkit!" jerit Embun Al-Khansa seraya menarik Mega ke belakang barikade perisai Banyu dan Guntur!
Dari balik serpihan es, puluhan prajurit es berukuran tinggi dua meter melangkah keluar, membawa kapak perang dan tombak kristal yang memancarkan aura membunuh tingkat tinggi.
"Siapa yang berani mengusik tidur abadi Penjaga Kunci Aethelgard?!" gema suara purba bersahut-sahutan dari mulut prajurit es tersebut, memicu gelombang kejut yang menggetarkan fondasi gua!
"Kami adalah pewaris klan Aethelgard!" jawab Bara seraya melompat ke depan, menegakkan pedang peraknya yang kian membara dalam cahaya Astra-Raja. "Kami datang untuk mengambil apa yang menjadi hak sejarah kami demi mengalahkan Penguasa Kegelapan!"
"Pewaris?!" raung pemimpin prajurit es yang membawa pedang raksasa bercahaya biru pekat. "Hanya keturunan murni yang berhak menyentuh kunci ini! Darah orang-orang asing hanya akan menjadi sesajen pembeku abadi!"
🪷 🪷 🪷
Pemimpin prajurit es mengayunkan pedang raksasanya ke tanah, memicu ledakan gelombang Duri Es Abadi yang meluncur deras meretakkan lantai gua menuju sepuluh ksatria!
"Banyu! Guntur! Tahan serangan awal!" perintah Bara seraya melompat ke udara.
BOOM! CRASH!
Perisai perunggu Banyu dan Guntur beradu sengit dengan duri es raksasa, memicu percikan api dan serpihan es yang membumbung tinggi. Hantaman kuat itu membuat kedua ksatria berpelindung tebal itu terdorong mundur beberapa meter, meretakkan es di bawah pijakan kaki mereka.
"Kekuatan fisik mereka terlalu besar!" seru Guntur seraya menahan himpitan kapak perang prajurit es dengan bahunya. "Zirah es mereka dilapisi oleh sihir pelindung purba!"
"Gunakan sihir elemen gabungan!" jerit Bayu seraya memutar pisau taufannya, menciptakan Pusaran Taufan Pemotong Es yang menghentam dua prajurit es hingga hancur menjadi serpihan.
Di tengah kekacauan pertempuran, Fajar Nur-Zaman melangkah perlahan menuju altar kristal es dengan dibantu oleh Laras. Setiap langkah Fajar terasa begitu berat; tato rantai hitam di lehernya memancar merah pekat seiring bereaksinya racun sumpah pengorbanan terhadap hawa dingin murni kristal es.