Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #38

UJIAN KETAHANAN

Badai pasir beracun meluncur dari celah Gunung Batu Merah, membawa kabut jingga kelam yang memangkas jarak pandang hingga kurang dari tiga jengkal. Di tengah gurun tandus Benua Kuno yang gersang, suhu udara merosot drastis saat malam merayap. Lolongan angin malam beradu dengan deru pasir yang menghantam pelindung energi para ksatria, menciptakan ketegangan yang sangat pekat. Kesepuluh ksatria terbuang berjalan terseok-seok menembus medan yang menyiksa, membawa rasa lelah luar biasa usai pertempuran sengit di Puncak Es.

Fajar Nur-Zaman berjalan di tengah barisan dengan tubuh yang kian lemah. Tato rantai hitam di wajah kirinya memancarkan denyut warna merah kelam setiap kali embusan angin beracun menyapu kulitnya. Napasnya terdengar pendek dan patah-patah, membuat langkah kakinya makin limbung di atas padang pasir yang bergelombang.

"Fajar, bertahanlah!" panggil Banyu Al-Fatih seraya merapatkan pundaknya untuk menopang tubuh sang pemanah. "Puncak bukit cadas itu tinggal seratus langkah lagi! Kita bisa berlindung di balik ceruk batu!"

"Tubuhku... terasa sangat dingin, Banyu..." bisik Fajar parau, matanya yang redup menatap lurus ke kegelapan badai. "Sumpah pengorbanan ini... terus mengikis energi hidupku."

Guntur menyapu dahinya yang bersimbah keringat dingin, menegakkan perisai perunggunya untuk membendung lecutan pasir tajam. "Bara! Kita tidak bisa melanjutkan perjalanan dalam kondisi seperti ini! Pandangan benar-benar tertutup, dan energi pelindung kita makin menipis!"

Bara menoleh, matanya mencerminkan beban berat yang memikul di dadanya. Pedang perak di punggungnya bergetar pelan, merespons kegelapan yang menyelimuti gurun. "Semuanya, rapatkan barisan! Kita bertahan di balik ceruk batu besar di depan!"

Namun, sebelum mereka berhasil mencapai ceruk batu tersebut, gelombang angin kencang berputar menghantam barisan belakang. Pasir beracun menyusup masuk menembus celah pelindung sihir, membuat beberapa ksatria terbatuk-batuk hebat. Semangat sepuluh ksatria yang biasanya membara kini berada di titik terendah. Kelelahan fisik, rasa putus asa akan takdir Fajar, dan ancaman musuh yang tak henti-hentinya mengintai mulai meretakkan ketahanan mental mereka.

Zahra Mentari melangkah ke depan barisan, matanya menatap satu per satu wajah saudaranya yang pucat dan dipenuhi keraguan. Ia mengepalkan tangannya, membiarkan pendar keemasan lembut menyala dari telapak tangannya.

"Jangan biarkan kegelapan badai ini menguasai pikiran kalian!" seru Zahra dengan suara jernih yang menembus gemuruh angin. "Kita telah melangkah sejauh ini, dan kita tidak akan hancur hanya karena badai pasir!"

🪷 🪷 🪷

Sorot mata Zahra Mentari yang membara menghadirkan sedikit secercah harapan di tengah kegelapan gurun. Namun, kondisi medan makin memburuk saat pasir beracun mulai membakar kulit luar mereka. Sepuluh ksatria akhirnya berhasil berkumpul di dalam ceruk batu cadas yang sempit, meringkuk bersisian menghindari lecutan badai yang makin liar di luar.

Guntur melemparkan perisai perunggunya ke tanah es seraya terduduk lemas, menyandarkan kepalanya pada dinding batu. "Sampai kapan kita harus berlari dan bertarung seperti ini? Setiap kali kita memenangkan satu pertempuran, takdir justru menuntut harga yang lebih mahal!"

"Guntur benar," sela Bayu seraya mengusap pisau taufannya yang tertutup debu jingga. "Fajar makin terancam oleh sumpah kuno itu, dan kita bahkan belum tahu apakah Pecahan Kunci Kedua di Lautan Api Lahar benar-benar bisa menyelamatkannya atau justru mempercepat kematiannya!"

Keheningan yang dingin dan berat mencekam ceruk batu tersebut. Samudra, Laras, dan Embun hanya mampu menunduk, tak sanggup memberikan jawaban pasti atas keraguan yang membakar dada saudara-saudaranya. Bara mengepalkan tangannya rapat-rapat, merasa gagal menjaga api semangat kelompoknya.

Zahra melangkah ke tengah ceruk, berdiri tegak di depan kobaran kecil sihir api buatan Mega. Cahaya dari telapak tangan Zahra membesar, memancarkan pendar keemasan murni khas Sinar Mentari yang menebarkan kehangatan luar biasa ke seluruh ruangan sempit itu.

"Dengarkan aku, semuanya!" panggil Zahra, suaranya tegas namun dipenuhi kasih sayang seorang saudara. "Apakah kalian lupa siapa kita?! Kita adalah sepuluh ksatria yang bertahan hidup dari pembantaian Danau Tujuh Misteri! Kita melewati badai Puncak Es dan mengalahkan pengkhianatan di Lembah Putih!"

"Tapi Zahra... Fajar..." bisik Mega dengan mata berkaca-kaca, menunjuk Fajar yang terkulai tak berdaya di pangkuan Laras. "Kutukan itu terus menjalar..."

"Fajar masih bernapas karena dia percaya pada kita!" tegas Zahra, menatap lurus ke dalam mata Mega dan Guntur. "Jika kita menyerah pada rasa takut dan keraguan malam ini, maka seluruh pengorbanan yang dilakukan Fajar, pengorbanan Bara, dan darah yang telah tumpah akan menjadi sia-sia! Musuh tidak mengalahkan kita dengan pedang, mereka mencoba mengalahkan kita dengan menghancurkan harapan kita dari dalam!"

Laras mengangkat wajahnya, menatap Zahra dengan binar mata yang kembali menyala. "Zahra benar. Kegelapan badai ini sengaja menekan batin kita agar kita kehilangan keselarasan elemen."

"Ingatlah pendar mentari fajar!" seru Zahra seraya merentangkan kedua tangannya. Pendar cahaya keemasan meledak lembut dari tubuhnya, membentuk kubah pelindung Cahaya Harapan yang mengusir hawa dingin dan racun pasir dari dalam ceruk! "Selama mentari masih terbit di dada kita, takdir tergelap sekalipun bisa kita patahkan bersama!"

🪷 🪷 🪷

Ucapan dan dorongan moral dari Zahra Mentari berhasil menyulut kembali percikan semangat di dalam dada para ksatria. Kehangatan Cahaya Harapan milik Zahra meresap ke dalam tubuh mereka, memulihkan stamina yang terkuras dan mengikis keputusasaan yang sempat merayap. Namun, ujian ketahanan mereka malam itu belum berakhir.

RUMBLE!

Dinding cadas di belakang ceruk batu mendadak bergetar hebat. Dari balik badai pasir di luar, terdengar lolongan melengking bercampur derak sisik-sisik tajam yang bergesekan dengan batu gunung. Cahaya keemasan Zahra mendadak berfluktuasi saat tekanan spiritual asing yang teramat sangat pekat menekan kubah pelindung mereka!

"Ancaman datang dari luar!" seru Bayu seraya mencabut kedua pisau taufannya, berdiri siaga di depan mulut ceruk.

"Bukan prajurit biasa..." desis Samudra At-Thahira seraya membuka buku catatan prasastinya. "Getaran ini... ini adalah Cacing Lahar Merah dari batas Gurun Tandus! Sihir racun pasir tadi sengaja dipanggil untuk memancing keberadaan kita!"

Dari balik kabut jingga, tiga ekor cacing lahar raksasa sepanjang dua puluh meter menerobos keluar dari dalam tanah gersang! Tubuh mereka dilapisi oleh sisik batu berapi yang membara, dengan mulut melingkar penuh taring kristal racun yang memuntahkan cairan asam panas!

HISSS!

Lihat selengkapnya