Angin malam berembus dingin menyapu Jurang Neraka, memuluskan kepulan asap belerang yang membumbung tinggi dari kawah lahar di bawahnya. Jembatan gantung kuno berbahan rantai besi dan papan kayu yang lapuk membentang sepanjang seratus meter, menghubungkan dua tebing terjal yang menjadi batas wilayah Orde Bayangan. Di tengah-tengah jembatan yang bergoyang liar itu, langkah kaki Bara Al-Mustafa terhenti. Pandangannya terkunci pada sosok berkulit pucat berzirah besi hitam yang menghadang di ujung jembatan.
"Langkahmu berakhir di sini, Bara Al-Mustafa," ucap Panglima Musuh, Malakor, seraya mengayunkan pedang raksasa bermata gerigi yang dialiri api hitam.
"Aku tidak punya waktu untuk melayani kegilaanmu, Malakor!" bentak Bara Al-Mustafa seraya meremas gagang pedang peraknya dengan erat. "Tepi jurang ini adalah satu-satunya jalur menuju benteng utama!"
"Kau berpikir bisa melewati Jembatan Keputusasaan ini hidup-hidup?" ejek Malakor dengan tawa terkekeh yang dingin. "Sembilan ksatria milikmu sudah terpisah di lembah bawah. Tidak ada yang akan menolongmu!"
"Aku tidak pernah meminta pertolongan saat membela keadilan!" balas Bara seraya melangkah maju, membuat rantai jembatan berderit keras.
"Bara! Jangan gegabah!" teriak Laras Al-Humaira dari seberang tebing selatan, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin jurang. "Jembatan itu dipasangi mantra peledak oleh pasukan musuh!"
"Tetap di posisi kalian, Laras! Jaga garis belakang!" perintah Bara tanpa menoleh sedikit pun. "Biarkan aku menyelesaikan urusan dengan iblis ini!"
"Bicara besar untuk seorang bocah yang akan menjadi umpan lahar!" seru Malakor seraya menusukkan pedang geriginya ke papan jembatan, memicu gelombang api hitam yang meluncur lurus mengincar Bara.
Bara Al-Mustafa memutarkan pedang peraknya, membentuk pusaran energi perak yang menepis hantaman api hitam tersebut. Percikan api dan energi perak bertabrakan, membakar beberapa papan kayu hingga runtuh menciptakan celah menganga yang langsung memperlihatkan pijaran lahar di kedalaman jurang.
"Ujian sejati seorang pemimpin adalah berdiri di garis paling depan," bisik Bara dengan tatapan mata yang menyala tajam. "Hari ini, pedangku yang akan memutus rantai kejahatanmu!"
"Mari kita lihat seberapa tahan pedang perakmu menghadapi amukan pedang gerigiku!" raung Malakor seraya melompat menerjang.
🪷 🪷 🪷
TAK-SRAAAASH!
Benturan dua pedang berukuran besar memicu ledakan percikan api yang menyalakan malam di atas Jurang Neraka. Goyangan jembatan gantung semakin ekstrem, terombang-ambing ke kiri dan ke kanan akibat dorongan energi dari kedua petarung. Bara Al-Mustafa menahan tumpuan kakinya di atas rantai besi, menahan bobot tebasan pedang gerigi Malakor yang sangat berat.
"Kekuatanmu boleh juga, Bara!" puji Malakor seraya menekan pedangnya lebih dalam, memercikkan aura kegelapan yang mengikis pendar perak Bara. "Tapi di atas jembatan sempit ini, pergerakanmu terbatas!"
"Kecepatan dan ketepatan tidak membutuhkan ruang yang luas, Malakor!" sahut Bara Al-Mustafa seraya memiringkan bilah pedangnya, mengalirkan tumpuan tebasan musuh ke samping.
Dengan gerakan cepat yang sangat presisi, Bara memutar tubuhnya dan menyabetkan pedang peraknya mengincar leher Malakor. Malakor menarik kepalanya ke belakang secara mendadak, membuat sabetan Bara hanya mengenai pelindung bahu zirahnya hingga terlepas dan jatuh meluncur ke dalam jurang lahar.
"Sialan kau, Bocah!" geram Malakor seraya menghentakkan kakinya ke rantai jembatan. "Teknik Pedang Bayangan: Tebasan Tujuh Dosa!"
Tujuh bayangan pedang api hitam muncul secara bersamaan di sekeliling Bara, mengepung ruang gerak yang sangat terbatas di atas papan kayu yang berderit.
"Bara! Awas dari arah bawah!" jerit Zahra Mentari dari puncak tebing seraya melepaskan tiga panah cahaya untuk memecahkan dua bayangan musuh dari jauh.
"Terima kasih, Zahra!" seru Bara seraya memusatkan energi Sumpah Sembilan Bintang ke seluruh tubuhnya. "Teknik Perlindungan Perak: Tembok Cahaya Abadi!"
Pendar perak berkilau membentuk kubah transparan di sekeliling Bara. Lima bayangan api hitam sisa menabrak kubah tersebut dengan suara dentuman keras yang memecahkan beberapa papan jembatan lagi. Bara memanfaatkan momentum gesekan energi itu untuk melompat tinggi melompati celah jembatan yang bolong, mengayunkan pedangnya dari udara menuju kepala Malakor.
"Jangan harap serangan udaramu berhasil!" raung Malakor seraya melepaskan rantai besi tebal dari pinggangnya, mengibaskannya ke udara untuk mengikat kaki Bara.
Rantai besi hitam beracun melilit pergelangan kaki kanan Bara di udara, menahannya bergerak dan memutus momentum serangannya seketika.
🪷 🪷 🪷
"Dapat kau, Pemimpin Ksatria!" gelak Malakor seraya menarik rantai besi itu dengan kekuatan raksasa, menghempaskan tubuh Bara Al-Mustafa dengan keras ke papan kayu jembatan.
CRASH!
Papan-papan kayu hancur berantakan di bawah tubuh Bara. Tubuh Bara tergantung berbahaya di tepi jembatan, hanya tertahan oleh cengkeraman tangan kirinya pada satu-satunya rantai utama yang tersisa, sementara kaki kanannya masih terlilit rantai beracun Malakor.
"Bara!" jerit Banyu Al-Fatih dan Samudra At-Thahira serempak dari seberang tebing, berusaha menerobos pertahanan prajurit musuh untuk mendekat.
"Jangan mendekat! Jaga area kalian!" teriak Bara Al-Mustafa dengan napas tersengal, darah segar mulai menetes dari dahi dan sudut bibirnya.
"Rasakan racun pembakar darah ini melilit dagingmu, Bara!" tawa Malakor seraya mengalirkan sihir pembusukan melalui rantai besi yang mengikat kaki Bara.