Misteri Lentera Nur As-Salam
Penawar Racun Kebencian Purba di Balik Singkapan Takdir
---o0o---
Malam rebah di pundak Lembah Qalam, menebarkan dingin yang menggigit sumsum tulang. Di dalam bilik batu karavanserai kuno yang separuh runtuh, Laras Al-Humaira bersila meraba kurungan perunggu berpahat sulur samawi yang telah dingin selama tiga generasi. Benda pusaka warisan ayahnya itu membisu tanpa sumbu rami dan tanpa setetes pun minyak zaitun. Namun detik itu, udara bergetar membawa aroma kesturi bercampur belerang pekat.
"Laras! Jangan pernah sentuh logam berkarat itu!"
teriak Paman Syafiq seraya melangkah tergesa menembus tirai jerami, janggut kelabunya berguncang hebat.
"Kau dengar lolongan di luar ngarai? Itu bukan lolongan serigala lapar, melainkan suara orang-orang waras yang mendadak kalap saling mengoyak leher kawan sendiri karena fitnah air!"
Laras menoleh perlahan dengan tatapan teduh, jemarinya tetap memeluk bingkai pusaka.
"Bukan logam ini yang memanggil kegilaan mereka, Paman. Lentera ini justru terbangun karena mencium racun fitnah purba yang mulai mencekik langit lembah kita."
"Benda mati tidak pernah terbangun dari kubur!"
sergah Syafiq seraya mengunci gerendel pintu kayu jati yang lapuk.
"Tiga ratus tahun keluarga kita menyimpannya sebagai lambang kehormatan usang. Masukkan kembali ke dalam peti besi, Laras! Kita harus segera melarikan diri ke benteng barat sebelum gerombolan musafir yang kerasukan amarah itu mendobrak dinding rapuh ini!"
Kilatan safir berdesir halus dari rongga kaca perunggu. Tanpa percikan batu pemantik api dan tanpa kepulan asap jelaga, lidah cahaya keemasan bercampur biru fajar memercik di ruang kosong, berdenyut selaras dengan denyut jantung Laras yang hening.
"Demi langit yang menaungi semesta berputar..."
bisik Musafir Malik tersungkur di sudut lantai, jemarinya gemetar mencengkeram hulu belati tumpul.
"Bagaimana mungkin api abadi menyala di ruang hampa tanpa setetes minyak bumi? Sihir terkutuk macam apa yang kau mainkan di depan mataku, gadis muda?!"
Laras bangkit berdiri dengan anggun, mengangkat lentera gantung itu sejajar pandangan matanya. Pendar cahayanya menghangatkan urat-urat darah yang beku tanpa menyilaukan pandangan mata.
"Ini bukan sihir kegelapan, Musafir Malik. Lentera Nur As-Salam menyala bukan karena minyak bumi atau sumbu benang, melainkan bersumber pada keteguhan cinta dan timbangan keadilan hakiki yang tak pernah mati."
"Cinta dan keadilan tidak akan sanggup menahan tajamnya mata tombak berkarat!" raung Malik putus asa seraya menuding pintu yang mulai digedor liar dari luar.
"Dengarkan kegilaan mereka! Para saudagar dan prajurit di luar sana mendadak saling tuduh meracuni mata air kafilah! Mereka menuntut tebusan darah malam ini juga!"
"Itulah racun purba yang sedang ditebarkan oleh kegelapan masa lalu," sahut Laras tenang, membiarkan bias lentera menyentuh kening Malik.
"Lentera ini tidak membakar malam, saudaraku. Ia menyalakan cermin nurani. Bila hatimu dipenuhi dendam, sinarnya"
"Laras, lihat ke" pekik Paman Syafiq terperanjat seraya mundur membentur meja kayu.
"Bayangannya terbelah dua!"
Di atas lantai batu kapur, lentera pusaka itu memproyeksikan dua cabang jalan takdir yang bergerak hidup bagai aliran air. cahaya keemasan itu terus berpendar menembus kegelapan
🪷 🪷 🪷
Pancaran cahaya Lentera Nur As-Salam melebar, melukis dua bentangan masa depan di atas dinding batu yang lembap. Di sebelah kiri terbentang bayangan sungai darah, benteng yang terbakar, dan tumpukan mahkota yang meleleh menjadi abu. Di sebelah kanan terlukis padang ilalang hijau tempat anak-anak kabilah saling bertukar buah kurma di bawah naungan pohon zaitun rimbun.
"Apa yang sebenarnya sedang dipertontonkan oleh pusaka ajaib ini, Laras?!"
tanya Paman Syafiq dengan suara tercekat, kedua matanya membelalak menatap ilusi gaib yang berombak.
"Lentera ini menyingkapkan akibat nyata dari setiap tapak langkah kaki kita,"
jawab Laras seraya melangkah mantap menuju ambang pintu, menyelubungkan selendang putih ke pundaknya.
"Kiri adalah kehancuran semu bila amarah menjadi panglima. Kanan adalah jalan damai sejati, jalan paling curam yang menuntut pengorbanan ego kita."
"Kau pasti sudah gila jika berniat menemui Panglima Arya Braja sekarang!" bantah Syafiq menghadang di pintu gerbang.
"Braja telah menitahkan pasukannya memenggal leher seratus tawanan Kabilah Hilal tepat saat fajar merekah! Dia menuduh sumur bentengnya diracuni oleh mereka!"
"Dan jika seratus kepala itu menggelinding di tanah kering, racun purba akan tertawa puas memangsa peradaban kita," tegas Laras menatap pamannya tanpa keraguan.
"Buka gerendelnya sekarang, Paman. Keadilan tidak pernah tegak bila kita terus bersembunyi dalam ketakutan."
Di pelataran Benteng Batu Merah, jeritan para tawanan yang terbelenggu rantai besi membelah kesunyian fajar. Panglima Arya Braja berdiri angkuh di atas undakan batu, menghunus pedang mustika yang berkilat dingin di bawah siraman obor minyak tanah.
"Para pengkhianat busuk tidak berhak menyaksikan fajar merekah!" seru Sang Panglima lantang seraya mengangkat bilah bajanya ke udara.
"Tebas leher mereka semua tanpa ada ampun!"
"Tahan pedang angkuhmu itu, wahai Panglima yang terhormat!" seru sebuah suara jernih dari arah gerbang barak. Panglima Arya Braja berpaling cepat, alis tebalnya bertaut garang.
"Siapa wanita lancang yang berani mengganggu jalannya peradilan perang ini?! Pengawal, seret dia ke hadapanku!"
"Jangan sentuh dia!" bentak Laras melangkah maju seraya mengangkat lentera pusakanya.
"Lihatlah ke dalam bayang-bayang lentera ini, Panglima Braja! Kemenangan yang dibangun di atas kuburan orang tak bersalah adalah bibit kehancuran yang tertunda! Penggal tawanan ini bila kau ingin melihat anak cucumu binasa terpanggang api fitnah yang sama!"
Braja terhuyung ke belakang, dadanya sesak saat matanya menangkap siluet lentera: ia melihat dirinya mati tercekik reruntuhan bentengnya sendiri.
"Tipu muslihat sihir macam apa yang kau bawa kemari?!"
"Ini bukan sihir, melainkan keadilan yang kau abaikan demi gengsi kekuasaanmu," sahut Laras tenang. cahaya keemasan itu terus berpendar menembus kegelapan malam yang pekat di atas bumi yang sunyi dan senyap membawa ketenangan hakiki bagi jiwa yang resah dan gelisah dalam penantian panjang akan keadilan dan kedamaian sejati yang telah dijanjikan sejak ribuan
"Racun sumurmu berasal dari kabut purba, bukan dari tangan tawanan malang ini! wahai saudaraku tercinta yang mendambakan keadilan hakiki ketahuilah bahwa kebenaran"
🪷 🪷 🪷