Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #41

KEBERANIAN LARAS

Gelombang hawa panas yang membakar membumbung dari dasar jurang Lautan Api Lahar Abadi, membiaskan bayangan jingga kemerahan yang garang ke dinding-dimbing batu obsidian benteng bawah tanah. Bau belerang dan asap pekat mengendap tebal di udara, membuat setiap tarikan napas terasa seperti menyedot bara api yang menyengat tenggorokan. Di atas platform batu yang melayang di tengah danau lahar yang bergolak, pertempuran mematikan sedang berlangsung dengan sengit.

Bara berdiri paling depan, memegang pedang perak Astra-Raja yang kian meredup energinya. Pakaian tempurnya telah teroyak di berbagai bagian, memperlihatkan luka bakar yang menghitam di dada dan lengan kirinya. Di hadapannya, Jenderal Kamaluddin satu dari Tiga Eksekutor Utama Istana Pusat Kerajaan Anta Berantah melayang rendah dengan zirah besi membara dan tombak raksasa yang meneteskan lahar cair.

"Kau sudah sampai di batas kemampuanmu, Anak Terbuang!" seru Jenderal Ignis dengan suara berat yang menggelegar, memicu riak lahar di sekeliling platform. "Tanpa kekuatan utuh dari sembilan saudaramu, pedang Astra-Raja itu hanyalah besi tua yang sia-sia!"

"Aku tidak akan pernah mundur, Ignis!" balas Bara dengan napas memburu, menyapu keringat bercampur darah yang menetes ke matanya. "Selama dadaku masih berhembus, aku tidak akan membiarkanmu menyentuh teman-temanku!"

"Bara! Jangan memaksakan diri!" jerit Laras Al-Humaira dari sudut platform, tempat ia bersama Samudra dan Embun sedang menahan serangan pengawal api.

Laras menatap kondisi Bara dengan kecemasan mendalam yang meremas dadanya. Tubuh Bara yang terus memaksakan benteng cahaya telah mencapai titik kritis. Energi spiritualnya hampir terkuras habis, sementara Jenderal Ignis bersiap melepaskan serangan pamungkas yang bisa meremukkan jiwa.

"Kau terlalu naif, Bara!" gelak Jenderal Kamaluddin kejam. Ia mengangkat tombak laharnya tinggi-tinggi ke udara, memanggil gelombang Naga Lahar Mahakarsa yang menggulung setinggi sepuluh meter dari danau lahar. "Mampuslah kau dalam neraka ini!"

"Bara! Awas!" jerit Laras seraya melompat menembus barikade musuh.

Jenderal Kamaluddin menghentakkan tombaknya ke bawah. Naga lahar raksasa itu meluncur deras, menghantam langsung ke arah Bara yang tergeletak lemas karena kehabisan tenaga spiritual!

🪷 🪷 🪷

Gelombang naga lahar meluncur dengan kecepatan membunuh, memancarkan suhu ribuan derajat yang sanggup melelehkan batu obsidian dalam sekejap mata. Di saat-saat paling krusial ketika kematian Bara tampak sudah di depan mata, Laras Al-Humaira melepaskan seluruh keraguan di dalam jiwanya.

"Aku tidak akan membiarkanmu mati, Bara!" jerit Laras, suaranya melengking menembus gemuruh lahar membara.

Laras melompat tinggi ke udara, melintasi jarak belasan meter di atas danau lahar. Selendang sutra peraknya yang berhiaskan benang-benang energi rembulan meledak dalam pendar Cahaya Sutra Rembulan Suci—sebuah keahlian khusus rahasia klan pesisir yang hanya bisa diaktifkan melalui pengorbanan suci batin murni!

WHOOSH!

Selendang perak Laras memanjang secara fantastis, membelit tubuh Bara dan menariknya secara mendadak ke udara tepat setengah detik sebelum naga lahar menghantam platform batu tersebut!

BOOOOM!

Explosi lahar raksasa meremukkan platform tempat Bara berdiri sebelumnya, melemparkan serpihan batu membara ke segala arah. Laras mendarat dengan tangkas di atas pilar batu yang tersisa, mendekap tubuh Bara yang terkulai lemah di dada hangatnya.

"Laras... kenapa kau..." bisik Bara parau, matanya samar-samar menatap wajah Laras yang dipenuhi peluh dan sisa debu bakar. "Itu... berbahaya..."

"Tutup mulutmu, Bara," potong Laras lembut namun penuh penekanan, menyapu darah di bibir Bara dengan jemarinya yang bergetar. "Kau selalu melindungiku tanpa memikirkan nyawamu sendiri. Sekarang, giliran aku yang akan menjadi benteng hidupmu."

"Bocah perempuan pengganggu!" raung Jenderal Kamaluddin yang berbalik murka melihat serangannya digagalkan. "Kau pikir kain perak tipismu itu bisa menahan panasnya lahar abadi?!"

"Kain ini bukan sekadar peninggalan biasa, Kamaluddin!" tegar Laras seraya berdiri tegak di depan Bara, menatap sang Jenderal dengan sorot mata yang memancarkan kewibawaan dan keberanian mutlak. "Ini adalah Sutra Rembulan Penyeimbang, dan malam ini, sihir api harammu tidak akan bisa menyentuhnya!"

🪷 🪷 🪷

Kemurkaan Jenderal Kamaluddin menjelma menjadi badai api yang menyelimuti seluruh ruangan bawah tanah. Ia memutar tombaknya cepat, memanggil lima belas tombak lahar kecil yang melayang melingkari tubuhnya, siap dihujamkan secara serentak ke arah Laras dan Bara.

"Laras! Kembali ke barisan!" teriak Banyu dan Guntur dari platform sebelah, tetapi mereka terhalang oleh tumpukan serpihan batu dan puluhan prajurit api yang terus mengepung.

"Kami tidak bisa menembus barisan ini, Laras!" seru Bayu seraya mengibaskan pisau taufannya yang mulai membara. "Gunakan keahlian khususmu untuk bertahan!"

Laras menarik napas dalam-dalam, meresapi hawa dingin murni yang tersisa di dalam aliran darahnya. Ia merentangkan kedua tangannya, membiarkan selendang sutra peraknya membungkus dirinya dan Bara dalam sebuah kubah melingkar yang memancarkan pendar cahaya perak-keemasan.

"Keahlian khusus klan pesisir: Tembok Sutra Tangan Rembulan!" bisik Laras penuh kepatuhan batin.

SPARKS! CRASH!

Lihat selengkapnya