Matahari remang-remang membiaskan pendar keemasan dari balik celah cadas Gua Tebing Halimun, menyinari sepuluh ksatria yang sedang memulihkan diri. Bau sangit sisa pembakaran racun Istana Pusat masih samar-samar tercium di udara dingin Lembah Kuno. Di sudut ruangan batu, Bara Al-Mustafa duduk bertumpu pada satu lutut, mengusap lembut jemari Laras Al-Humaira yang tertidur lelap akibat keletihan mengalirkan aura penyembuh.
"Kau terlalu memaksakan dirimu lagi, Laras," bisik Bara pelan, mengusap rambut sang kekasih dengan penuh kehangatan.
"Aku tidak apa-apa, Bara," bisik Laras seraya membuka matanya perlahan. Ia menyunggingkan senyuman tipis yang menenangkan batin sang pendekar. "Selama aku bisa menopang bebanmu, rasa lelah ini tidak ada artinya."
Di sisi lain gua, Fajar Nur-Zaman duduk bersila membelakangi dinding batu. Tato rantai hitam di pergelangan tangannya masih menyala redup, namun binar matanya memancarkan ketajaman yang tak terbendung. Di sampingnya, Bayu Al-Asad sedang meruncingkan beberapa bilah pisau angin seraya mengamati peta kulit kayu yang terhampar di atas tanah.
"Pasukan Bayangan Istana Pusat sudah menutup tiga jalur keluar dari Lembah Halimun," kata Bayu seraya menunjuk tiga titik merah di peta. Suaranya rendah namun penuh penekanan.
"Mereka mengira kita terjebak seperti kelinci dalam cengkeraman elang," sahut Fajar dengan senyum tipis yang penuh makna. "Mereka lupa bahwa elang yang terlalu percaya diri sangat mudah dipancing masuk ke dalam perangkap."
Bara berdiri perlahan, melangkah mendekati Fajar dan Bayu. Laras menyusul di sampingnya, meletakkan busur cendananya di bahu.
"Bagaimana kondisi lukamu, Fajar?" tanya Bara penuh keprihatinan. "Apakah kutukan rantai itu masih menggerogoti jiwamu?"
"Rasa sakit ini justru mempertajam pikiranku, Bara," jawab Fajar mantap seraya menatap Bara dan Laras bergantian. "Istana Pusat memanfaatkan kelengahan kita di Lembah Kelabu. Sekarang, giliranku dan Bayu yang membalikkan papan catur ini."
"Kalian berdua sudah punya rencana?" tanya Banyu Al-Fatih seraya melangkah mendekat bersama Guntur Al-Ghazi, mengapit barisan depan.
"Bukan sekadar rencana, Banyu," panggil Bayu Al-Asad seraya mengibaskan jarinya di udara, memunculkan pusaran angin kecil yang membentuk replika topografi lembah. "Ini adalah rencana eksekusi total untuk membinasakan Divisi Pemburu Bayangan."
"Ceritakan pada kami, Sang Maestro," pinta Laras dengan tatapan penuh kepercayaan.
Fajar menatap seluruh saudaranya yang kini melingkar di sekeliling peta. "Kita akan memanfaatkan kesombongan Panglima Cakra Bayangan. Dia mengira aku adalah titik terlemah dalam kelompok ini. Maka, aku sendiri yang akan menjadi umpan utama di Celah Tengkorak!"
🪷 🪷 🪷
Keputusan Fajar Nur-Zaman menjadikan dirinya sebagai umpan seketika memicu gejolak reaksi dari kawan-kawannya. Banyu Al-Fatih melangkah maju, perisai intannya berdentang saat dihantamkan pelan ke lantai batu gua.
"Tidak! Aku tidak setuju!" tegas Banyu dengan suara bass yang berat. "Kondisi fisikmu belum pulih sepenuhnya, Fajar! Menjadikanmu umpan sama saja menyodorkan lehermu ke parang musuh!"
"Tenanglah, Banyu," sela Bayu Al-Asad seraya mengibaskan tangannya, menciptakan aliran angin sejuk yang meredakan ketegangan di udara. "Fajar tidak akan berdiri sendirian di Celah Tengkorak. Aku akan menjadi bayangan yang mengawasinya dari angkasa."
"Tapi Bayu, musuh kita kali ini adalah Panglima Cakra Bayangan!" potong Mega Nur-Aisyah dengan raut wajah cemas. "Sihir pemutus sukma miliknya sangat mematikan. Sekali saja kalian tergelincir, konsekuensinya adalah kematian!"
Bara Al-Mustafa menatap Fajar dengan pandangan yang dalam, mencari kebenaran dan keteguhan di balik manik mata ahli strateginya itu. "Fajar, jelaskan padaku bagaimana kau dan Bayu akan mengeksekusi taktik ini tanpa mengorbankan jiwamu."
Fajar tersenyum tenang, menunjuk celah sempit di antara dua tebing batu raksasa pada peta. "Celah Tengkorak memiliki struktur geologis unik. Dinding batu di sana mengandung endapan kristal angin dan sulfat murni. Jika kita memicu resonansi energi petir dan angin di tempat itu, Celah Tengkorak akan bertransformasi menjadi tungku pembakaran alami."
"Pusaran Angin Penghancur Sukma..." gumam Samudra At-Thahira seraya membelalakkan mata, langsung membuka lembaran buku prasastinya. "Taktik kuno dari Era Sembilan Elemen! Kau berniat memanfaatkan sifat alami tebing itu untuk mengurung seluruh Divisi Pemburu Bayangan?"
"Tepat sekali, Samudra," jawab Bayu Al-Asad dengan pendar mata yang berkilat. "Aku akan menempatkan delapan suar angin di sepanjang tebing untuk mengunci udara. Ketika musuh merangsek masuk mengepung Fajar, Guntur dan Banyu akan memicu ledakan di pintu masuk, membendung jalan keluar mereka!"
"Bagaimana dengan keselamatan Fajar saat ledakan terjadi?" tanya Laras Al-Humaira, menyuarakan keraguan terbesarnya. Jemarinya menggenggam erat lengan Bara.
"Di sinilah peranmu dan Bara, Laras," sahut Fajar seraya menatap Laras penuh penghormatan. "Resonansi Astra-Rembulan milikmu dan Bara adalah satu-satunya pelindung yang sanggup menahan tekanan kejut dari ledakan tersebut. Begitu musuh terperangkap, kalian berdua harus melesat menarikku keluar sebelum tungku membakar seluruh area."
"Sebuah jebakan bertingkat yang teramat sangat berani," gumam Bara Al-Mustafa seraya meremas hulu pedang peraknya. "Taktik ini membutuhkan presisi waktu yang mutlak. Keterlambatan satu detik saja akan merenggut nyawa kita semua."
"Apakah kau mempercayai kami, Bara?" tanya Bayu Al-Asad penuh kesungguhan.
Bara menatap Laras, lalu mengedarkan pandangannya ke arah seluruh ksatria terbuang. Senyuman tipis dan penuh kepastian terukir di wajah sang pemimpin. "Aku mempercayai pikiranmu, Fajar, dan aku mempercayai anginmu, Bayu. Mari kita siapkan panggung bagi kekalahan Panglima Cakra Bayangan!"
🪷 🪷 🪷
Kabut tipis menyelimuti pelataran gersang Celah Tengkorak saat matahari mulai meninggi. Keheningan mendalam melingkupi celah tebing cadas yang menjulang tinggi hingga menutupi cakrawala. Fajar Nur-Zaman berjalan sendirian di tengah celah, menggunakan tongkat kayu sederhana sebagai penopang langkah kakinya yang tampak gontai dan lemah.
Swoosh! Swoosh! Swoosh!
Tiba-tiba, puluhan bayangan hitam meluncur turun dari puncak tebing, melayang tanpa suara bagaikan burung pemakan bangkai. Dalam hitungan detik, lima puluh prajurit elit Divisi Pemburu Bayangan telah mengepung Fajar dari segala penjuru, mengekang ruang geraknya dengan rantai-rantai besi beracun.
Dari balik kegelapan kabut, melangkah keluar sesosok pria bertopeng baja dengan jubah hitam berkibar—Panglima Cakra Bayangan!
"Akhirnya aku menemukanmu, Sang Cendekiawan Terbuang," ejek Panglima Cakra Bayangan dengan suara serak bergema yang bergetar menusuk telinga. "Di mana ksatria-ksatriamu yang lain? Apakah mereka telah meninggalkanmu yang cacat ini untuk mati sendirian?"
Fajar terbatuk pelan, menyapu sudut bibirnya seraya menatap sang panglima tanpa rasa takut sedikit pun. "Seorang pembalas dendam tidak membutuhkan pasukan besar untuk menghabisi pengkhianat sepertimu, Cakra."
"Sombong sekali mulutmu!" bentak Cakra Bayangan seraya mengibaskan tangannya. "Ikat dia dengan Rantai Pemutus Sukma! Bawa kepalanya ke Istana Pusat!"
Dua belas prajurit bayangan melompat maju, melemparkan rantai-rantai beracun yang mengincar leher dan tangan Fajar!