Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #43

PENGHENTIAN WAKTU

Riak air Danau Teratai Tujuh Misteri yang tadinya tenang mendadak bergetar hebat. Retakan emas pada pilar penyegel kuno merambat cepat, memuntahkan gelombang air berbau belerang yang mendidih. Asap hitam pekat membumbung tinggi, menggulung udara malam menjadi wujud raksasa bermata merah membara yang meraungkan racun ketakutan.

"Segel dasar danau hancur total!" teriak Fajar Nur-Zaman sembari membeberkan peta pusaka berupa gulungan angin di atas dahan pohon. "Energi kegelapan ini merusak alir mana di sekeliling kita!"

"Semuanya, rapatkan barisan!" seru Bara Al-Mustafa menenangkan suasana. Ia menarik pedang peraknya, membiarkan cahaya rembulan memantul tajam pada bilah baja murni tersebut. "Waktunya telah tiba!"

"Aku tidak akan membiarkan kabut racun itu menyentuh kalian!" balas Banyu Al-Fatih mantap. Bersama Guntur Al-Ghazi, ia melompat menghantam permukaan air. Sihir pelindung membuat mereka berpijak kokoh di atas riak danau. Banyu mengangkat perisai intannya, membentengi kawan-kawannya dari hempasan gelombang racun yang meletup-letup.

"Rasakan ini, makhluk busuk!" Mengambil celah dari balik perisai Banyu, Guntur melenting tinggi ke udara. Kapak kemburnya menyemburkan kilatan petir biru pekat. KABOOM! Tebasan petirnya membakar kabut hitam dan memaksa sang raksasa meraung kesakitan.

"Serangan yang bagus, Guntur!" puji Bayu Al-Asad yang melesat secepat kilat menebarkan suar cahaya di delapan penjuru mata angin untuk mengunci area pertempuran.

"Jangan terlena dulu!" panggil Laras Al-Humaira dari garis belakang. Tali busur kayu cendananya ditarik penuh hingga pendar keemasan merekah di jemarinya. SWOOSH! Tiga anak panah energi murni melesat cepat, menancap tepat di sendi-sendi sang makhluk gaib dan mengunci pergerakannya di tengah danau.

"Jantung segelnya ada di dalam rongga dada makhluk itu!" Fajar berteriak memberi petunjuk dari ketinggian.

"Tetap tenang, aura penenteram jiwa aktif!" lantun Mega Nur-Aisyah, menyelimuti seluruh ksatria dengan gelombang cahaya sejuk.

Di sebelahnya, Embun Al-Khansa mengibaskan selendang hijaunya. "Hujan embun murni, pulihkan stamina mereka!" serunya memercikkan tetesan penyembuh ke tubuh Banyu dan Guntur.

"Buka tabir ilusi!" Samudra At-Thahira menghentakkan tongkat airnya ke permukaan danau, menelanjangi wujud asli sang musuh: sebuah batu segel kuno berapi di dada monster itu.

"Hancurkan sisa kegelapan!" Zahra Mentari tertawa riang sambil melempar bola-bola cahaya ceria ke udara, melecut kembali semangat rekannya.

"Dua belas jiwa, satu tujuan!" pekik Bara. Memanfaatkan dorongan angin malam dari Bayu, Bara melompat membelah malam. Dengan satu tebasan vertikal, ia menusukkan pedang peraknya tepat ke batu segel di dada makhluk itu. Cahaya putih menyilaukan meledak, menghancurkan monster tersebut hingga permukaan danau kembali tenang bagai cermin.

Namun, keheningan itu mendadak sirna. Danau yang tenang tiba-tiba bergetar sepuluh kali lebih dahsyat dari sebelumnya.

"Bara! Lihat ke bawah air!" jerit Laras panik. "Ini bukan sekadar kekalahan monster!"

🪷 🪷 🪷

Batu segel yang hancur di dada monster itu ternyata bukanlah inti kekuatan musuh, melainkan kunci pengunci gerbang purba. Air danau berwarna keemasan itu terbelah dua secara ekstrem, tersedot ke dalam pusaran jurang tak berdasar yang muncul di dasar danau. Dari dasar jurang tersebut, merekah delapan pilar batu berukir runa darah yang memancarkan hawa dingin mematikan.

"Apa yang sebenarnya terjadi, Fajar?!" tanya Bara seraya berusaha menancapkan pedang peraknya ke batu tepi danau agar tidak tersedot angin kencang.

"Kita terjebak!" balas Fajar dengan nada panik, jemarinya gemetar membaca peta angin yang kini memerah seluruhnya. "Monster tadi hanyalah wadah penahan! Dengan menghancurkan batu dadanya, kita justru mengaktifkan Ritual Pembalikan Tujuh Misteri!"

"Maksudmu, kita yang membuka gerbang ini?!" seru Guntur tak percaya, menggenggam erat kapak birunya yang mulai padam pancaran petirnya.

"Secara tidak langsung, ya!" sahut Fajar. "Energi gabungan kita bertindak sebagai pemicu alir mana untuk membangkitkan Inti Kegelapan Purba!"

Dari tengah dasar danau yang mengering, membumbung delapan tentakel cairan hitam pekat yang masing-masing berdiameter setara pohon kelapa tua. Tentakel itu bergerak liar, menghantam tepian danau dan meremukkan batuan tebal menjadi debu dalam sekejap.

"Awas di kiri kalian!" teriak Bayu Al-Asad. Ia melesat membendung satu hantaman tentakel menggunakan pedang anginnya, namun erangan keras keluar dari tenggorokannya saat ia terlempar puluhan meter. THUD!

"Bayu!" jerit Zahra Mentari. Dengan cepat ia melempar tiga bola cahaya untuk menahan laju tentakel kedua yang hendak menginjak tubuh Bayu. "Jangan sentuh sahabatku!"

"Banyu, Mega, buat barikade pelindung ganda sekarang!" perintah Bara tegas sembari menyapu keringat yang bercampur darah di dahinya. "Kita tidak boleh terpecah!"

"Perisai Intan: Dinding Pertahanan Agung!" puji Banyu menghentakkan kakinya. Cahaya kristal tebal meletup, membentuk kubah transparan di sekeliling mereka.

"Mantra Suci: Benteng Penenteram Jiwa!" sambung Mega Nur-Aisyah, menambahkan aura perak di atas kubah kristal Banyu.

BOOM! BOOM! BOOM!

Tiga tentakel hitam menghantam kubah pelindung secara bersamaan. Suara retakan terdengar amat nyaring, membuat Banyu memuntahkan darah segar dari mulutnya akibat tekanan balik sihir yang begitu masif.

"Banyu!" Embun Al-Khansa segera menempelkan kedua tangannya di punggung Banyu. "Selendang Embun Penyembuh! Bertahanlah, Banyu, jangan biarkan pelindung ini hancur!"

"Aku... aku masih bisa bertahan..." bisik Banyu dengan gigi bersimbah darah. "Tapi kekuatan makhluk ini... ini jauh di atas tingkatan monster yang kita lawan tadi!"

"Laras, bisakah kau membidik pilar runa darah di dasar danau itu?" tanya Samudra At-Thahira yang berdiri diam memandangi struktur aliran mana musuh dengan tatapan sangat dalam.

"Jaraknya terlalu jauh dan terhalang pusaran angin beracun," jawab Laras seraya mencoba menarik tali busur cendananya, namun lengannya gemetar hebat. "Anak panahku akan terbias sebelum mencapai target."

"Kalau begitu, kita berada dalam posisi terkepung total," gumam Samudra pelan. "Pilihan kita hanya satu."

🪷 🪷 🪷

Aura kegelapan semakin pekat menekan dada para ksatria. Udara di sekitar Danau Teratai terasa sangat berat, seolah-olah oksigen telah digantikan oleh asap belerang yang mencekik paru-paru. Kubah pelindung buatan Banyu dan Mega terus terkikis, meretak di berbagai sisi akibat pukulan bertubi-tubi dari delapan tentakel hitam.

"Bara, pelindung kita hanya sanggup bertahan kurang dari dua menit!" seru Mega Nur-Aisyah dengan napas tersengal-sengal.

"Apakah ada jalan keluar lain dari peta anginmu, Fajar?" tanya Bara penuh penekanan.

"Tidak ada!" balas Fajar frustrasi, memukulkan kepalan tangannya ke dahan pohon. "Seluruh area danau ini telah dikunci oleh Formasi Delapan Pilar Darah. Ruang di sekitar kita terisolasi total dari dunia luar. Teleportasi atau lari secara fisik adalah hal yang mustahil!"

"Kalau begitu kita lawan secara terbuka!" pekik Guntur Al-Ghazi, mengacungkan kapaknya ke langit. "Aku lebih baik mati bertarung daripada terperangkap bagai tikus di dalam sangkar ini!"

"Jangan gegabah, Guntur!" cegah Laras Al-Humaira. "Serangan tanpa rencana hanya akan membuang-buang stamina kita yang tersisa!"

"Lalu kita harus diam saja menunggu benteng ini pecah?!" tentang Guntur dengan napas memburu.

"Cukup!" sela Samudra At-Thahira. Suaranya tidak keras, namun mengandung wibawa yang mendalam hingga membuat perdebatan itu terhenti seketika. "Ada satu cara untuk menghancurkan formasi ini, tapi membutuhkan risiko yang sangat besar."

Bara menoleh tajam ke arah Samudra. "Teknik rahasia keluargamu?"

Lihat selengkapnya