Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #44

SENYUM DI TENGAH BADAI

Bab 44: Senyum di Tengah Badai – Momen Kehangatan Antara Seluruh Anggota Tim

Insiden Pemicu

Dinding-dinding cadas di dalam Gua Kristal Rembulan memancarkan pendar kebiruan yang lembut, memberikan perlindungan dari badai energi gelap yang meraung ganas di luar. Suara gemuruh angin malam Benua Kuno beradu dengan gesekan serpihan es dan pasir hitam, tetapi di dalam ceruk batu ini, hawa dingin perlahan terusir oleh kobaran api unggun buatan Mega Al-Khansa dan Zahra Mentari. Aroma minyak kayu cedar serta rebusan daun herbal buatan Embun Al-Khansa merayap memenuhi udara, menghadirkan rasa tenang yang telah lama hilang.

Bara Al-Mustafa duduk tersandar di dekat tumpukan batu, pedang peraknya diletakkan melintang di atas pahanya. Matanya menatap api unggun yang menari-nari, membiaskan bayangan lembut sepuluh ksatria yang berkumpul melingkar. Di sampingnya, Laras Al-Humaira sibuk menyeduh cangkir tanah liat berisi teh herbal hangat, menyunggingkan senyuman tipis yang memancarkan kelembutan batin.

"Istirahatlah sejenak, Bara," panggil Laras seraya menyerahkan cangkir tanah liat itu. "Dinding kristal gua ini cukup tebal untuk menyembunyikan pendar energi kita dari kejaran pengawal Istana Pusat."

Bara menerima cangkir itu, merasakan kehangatan yang meresap hingga ke ujung jari-jarinya. "Terima kasih, Laras. Melihat kalian semua duduk bersisian seperti ini... rasanya seperti kita kembali berada di tepian Danau Tujuh Misteri."

"Hanya saja di sini tidak ada Guru Penuntun yang memberi kita tugas berburu di tengah malam," sela Bayu seraya meletakkan kedua pisau taufannya di atas kain pelapis, lalu meregangkan otot lehernya yang kaku.

"Jangan sebut nama pria tua itu di saat tehku sedang sedap-sedapnya, Bayu," keluh Guntur seraya tertawa pelan, menepuk bahu Bayu hingga pria berangin itu sedikit terdorong ke depan. "Malam ini milik kita. Malam ini tidak ada sabetan pedang atau pelarian dari raungan monster."

Fajar Nur-Zaman, yang duduk bersandar di dekat Samudra At-Thahira, terkekeh parau. Meskipun tato rantai hitam masih melilit tipis di lehernya, pendar kehitaman itu tampak meredup, terhentikan sementara oleh atmosfer kehangatan yang melingkupi mereka.

"Guntur benar," bisik Fajar, matanya berbinar menatap wajah saudara-saudaranya. "Malam ini... biarkan kita menjadi manusia biasa, bukan cuma ksatria pemikul takdir dunia."

🪷 🪷 🪷

Momen keheningan tanpa tekanan pertarungan membuat batas-batas ketegangan di antara sepuluh ksatria runtuh sepenuhnya. Banyu Al-Fatih menarik sepotong daging rusa panggang dari atas panggangan kayu, membaginya menjadi beberapa bagian seraya menyenggol lengan Guntur yang sibuk memoles perisai perunggunya.

"Simpan dulu lap kainmu itu, Guntur!" seru Banyu seraya menyodorkan sepotong daging tebal. "Perisaimu tidak akan berkarat hanya karena kau meninggalkannya selama setengah jam!"

"Perisai ini adalah nyawaku di medan laga, Banyu!" balas Guntur dengan pura-pura bersikap galak, namun tangannya tetap menyambar daging panggang tersebut dengan gesit. "Tapi karena kau memaksaku dengan aroma panggang yang harum ini, aku terima kebaikanmu."

Tawa renyah pecah di antara mereka. Zahra Mentari mengibaskan jarinya, menciptakan percikan-percikan pendar Sinar Mentari berukuran kecil yang melayang mengelilingi atap gua bagai kunang-kunang keemasan, memperindah pendar kristal kebiruan.

"Lihat itu, Fajar!" panggil Mega Al-Khansa gembira seraya menunjuk ke arah pendar cahaya Zahra. "Ingat tidak saat kita masih sepuluh tahun? Kau menangis seharian hanya karena anak panah bambumu tersangkut di pohon pinus tertinggi!"

Fajar tersentak pelan, wajahnya memerah terusik kenangan masa kecilnya. "Itu... itu bukan karena anak panahnya, Mega! Itu anak panah pertama yang dibuatkan oleh Samudra!"

"Dan kau hampir memanjat pohon itu di tengah hujan deras kalau Bara tidak memanjat duluan untuk mengambilkannya," sela Samudra At-Thahira seraya terkekeh pelan, menutup buku catatannya sejenak. "Bara bahkan jatuh ke semak-semak berduri waktu turun."

Bara mengusap tengkuknya seraya tersenyum canggung. "Kalian masih mengingat hal-hal konyol seperti itu?"

"Bagaimana mungkin kami lupakankannya, Bara?" panggil Laras Al-Humaira, matanya berbinar lembut menatap Bara. "Kenangan-kenangan kecil di danau itulah yang membuat kita tetap bertahan di tengah kegelapan Benua Kuno ini. Kau selalu menjadi saudara tua yang melompat paling depan demi kami."

"Dan kau selalu menjadi saudari yang membalut luka-luka kami setelahnya, Laras," sahut Embun Al-Khansa seraya menyerahkan se mangkuk sup herbal ke pangkuan Laras. "Kalian berdua adalah pasangan yang melengkapi kehangatan kelompok ini."

Laras dan Bara saling berpandangan, merona merah tipis di bawah biasan pendar api unggun, memicu seruan godaan jahil dari Bayu dan Banyu yang membuat suasana gua makin meriah.

🪷 🪷 🪷

Di tengah tawa dan gumpalan kehangatan yang menyelimuti ceruk Gua Kristal Rembulan, rasa haru yang mendalam perlahan menyeruak di dada setiap ksatria. Kelelahan dari puluhan pertempuran berturut-turut—mulai dari penyergapan di Gua Reruntuhan, badai pasir Gurun Tandus, hingga pertarungan mematikan di Lautan Api Lahar—seolah terangkat sementara waktu dari pundak mereka.

"Kadang-kadang..." panggil Banyu pelan, pandangannya tertuju pada daging panggang di tangannya. "...aku merasa takut saat memikirkan apa yang ada di ujung perjalanan ini. Apakah setelah Istana Pusat runtuh, kita masih bisa duduk melingkar seperti ini?"

Keheningan sejenak merayap di dalam gua. Pertanyaan Banyu menyuarakan kekhawatiran terbesar yang terpendam di dalam batin mereka semua. Fajar menatap pergelangan tangannya sendiri, menatap tato sumpah pengorbanan yang menjadi pengingat mutlak akan batas waktu hidupnya.

"Kita pasti bisa, Banyu," jawab Zahra Mentari dengan nada tegas namun penuh kehangatan, melangkah mendekati Banyu dan menepuk bahunya. "Pendar mentari tidak pernah padam selamanya hanya karena malam tiba. Kita akan kembali ke Danau Tujuh Misteri bersama-sama!"

"Zahra benar," sahut Samudra seraya memegang Prasasti Kuno di sampingnya. "Setiap pecahan kunci yang kita kumpulkan bukan hanya tentang membuka pintu istana, melainkan tentang merebut kembali sejarah dan masa depan kita yang dicuri oleh Guru Penuntun."

Lihat selengkapnya