Angin dingin bertiup kencang melintasi menara suci Kota Benteng Bentana, mengibarkan panji-panji perak yang bersinar di bawah terik matahari sore. Kota pelindung yang berdiri megah di gerbang utara Benua Kuno itu selama ratusan tahun menjadi benteng pertahanan terakhir yang tak tertembus dari gempuran pasukan Istana Pusat. Bara Al-Mustafa berdiri di puncak tembok benteng, menggenggam hulu pedang peraknya dengan tatapan waspada mengawasi hamparan lembah gersang di bawah sana.
Di sisinya, Laras Al-Humaira berdiri anggun seraya membawa busur cendananya. Jemari lentiknya menyentuh lengan Bara, menyalurkan kehangatan yang mengikis kegelisahan sang ksatria.
"Kau mengkhawatirkan sesuatu, Bara?" bisik Laras pelan, suaranya lembut membelah deru angin.
Bara menoleh, menatap dalam ke sepasang mata bening Laras. "Pondasi energi benteng ini terlalu tenang, Laras. Perasaanku mengatakan ada pusaran racun yang sedang mengintai di balik kedamaian ini."
"Sembilan pasak aura milik Bentara masih menyala utuh di sekeliling dinding benteng," sahut Laras seraya menunjuk kubah cahaya perak yang melingkupi seluruh kota. "Selama pasak sakral itu berdiri, tak ada satu pun sihir Istana Pusat yang bisa menembus masuk."
"Bara benar, Laras," sela Fajar Nur-Zaman yang datang melangkah mendekat bersama Bayu Al-Asad. Wajah Fajar masih tampak pucat, namun matanya menatap tajam ke arah gerbang utama. "Gerakan udara di luar batas benteng terasa sangat aneh. Aliran angin membawa aroma minyak terlarang dan belerang."
"Apakah kau mencium sesuatu, Bayu?" tanya Bara seraya menatap Sang Penjelajah Angin.
Bayu memejamkan mata sejenak, meresapi setiap molekul udara yang berdesir di jemarinya. "Ada desakan energi gelap yang tertahan di celah-celah tebing, Bara. Namun yang aneh, energi itu tidak berusaha menembus perisai dari luar. Mereka seperti menanti penanda dari dalam."
"Penanda dari dalam?" ulang Laras dengan dahi berkerut cemas.
Sebelum pertanyaan Laras terjawab, Panglima Gardan—pemimpin garda kehormatan Benteng Bentana—berjalan mendekat dengan langkah tergesa-gesa. "Tuan Bara, Nona Laras! Pasukan pengintai melaporkan ada pergerakan mencurigakan di batas lembah! Kita harus segera mengunci gerbang bawah!"
"Panglima Gardan, apakah seluruh penjaga pasak utama berada di posisinya?" tanya Fajar penuh selidik.
Panglima Gardan tersenyum tipis, mengangguk mantap. "Tentu saja, Tuan Fajar. Pasak aura terlindung aman di bawah penjagaan prajurit terbaik saya."
Namun, di tengah ucapan sang panglima, guncangan hebat mendadak meremukkan dasar bumi tempat mereka berdiri!
BOOM!
Suara ledakan dahsyat terdengar menggelegar dari lorong bawah tanah benteng! Kubah cahaya perak yang membentengi Kota Bentana mendadak bergetar hebat, memancarkan kilatan merah darah sebelum akhirnya retak berantakan bagaikan cermin runtuh!
🪷 🪷 🪷
Asap hitam pekat membumbung tinggi dari lorong bawah tanah Benteng Bentana, membumbungi udara sore yang mendadak berubah mencekam. Suara jeritan warga dan kepanikan prajurit menggema di seluruh sudut kota. Kubah perisai sakral yang menjadi pelindung utama telah sirna, menyisakan Kota Bentana yang telanjang di hadapan ancaman musuh.
"Perisai benteng runtuh! Pasak utama hancur dari dalam!" jerit seorang prajurit dengan pakaian penuh noda darah yang berlari keluar dari lorong bawah tanah.
Bara Al-Mustafa menghunus pedang peraknya seketika. "Panglima Gardan! Apa yang sebenarnya terjadi di lorong bawah tanah?!"
Namun Panglima Gardan tidak menjawab. Ia melangkah mundur beberapa tindak, menyunggingkan senyuman sinis yang teramat asing di wajahnya. Pakaian zirah peraknya perlahan terkelupas, memunculkan jubah sutra hitam berduri milik Istana Pusat!
"Maafkan aku, Bara Al-Mustafa," ejek Gardan dengan suara yang mendadak berubah menjadi melengking dan berat. "Setia kepada benteng tua ini tidak memberi kami kejayaan! Istana Pusat telah menjanjikan tahta bagi siapa pun yang membukakan pintu bagi Sang Penguasa!"
"Kau... kau mengkhianati tokomu dan rakyatmu sendiri, Gardan?!" bentak Laras Al-Humaira dengan mata membelalak tak percaya. Tangannya refleks menarik tali busur cendana, mengarahkan anak panah cahaya emas tepat ke dada Gardan.
"Rakyat? Mereka hanyalah domba-domba lemah yang layak dikorbankan!" tawa Gardan menggema seraya mengibaskan tangannya ke udara.
Swoosh!
Sebuah suar cahaya merah gelap meluncur dari telapak tangan Gardan ke angkasa luar. Seketika itu juga, trompet perang Istana Pusat membahana dari balik bukit lembah! Ribuan prajurit bersenjata hitam dan ratusan makhluk siluman bertanduk merangsek maju, menerjang gerbang utama benteng yang kini tanpa perlindungan perisai!
"Banyu! Guntur! Tahan gerbang utama sekarang!" perintah Bara Al-Mustafa seraya meloncat menyerang Gardan!
"Siap, Pemimpin!" raung Guntur Al-Ghazi seraya melompat menuruni tangga menara bersama Banyu Al-Fatih. Banyu merentangkan perisai intannya yang membesar, menghantam tanah tepat di ambang gerbang utama untuk menahan tubrukan awal siluman musuh!
"Laras, lindungi Fajar dan Bayu! Pengkhianat ini harus kita selesaikan dengan cepat!" teriak Bara seraya memutar pedang peraknya, menebaskan gelombang cahaya keemasan ke arah Gardan!
CRASH!
Gardan menangkis tebasan Bara dengan sepasang belati hitam beracun. "Kalian terlambat, Bara! Dua pertiga prajurit garda telah meminum racun pelemah jiwa sejak makan siang tadi! Kota ini sudah gugur sebelum pertempuran dimulai!"
"Kau iblis tanpa nurani!" jerit Laras seraya melepaskan tiga anak panah emas berturut-turut!
Anak panah Laras menembus belati Gardan, menghentakkan tubuh pengkhianat itu hingga menabrak dinding benteng! Gardan terbatuk darah hitam, namun tawa gilanya terus memecah keheningan. "Lihatlah ke luar, Anak-Anak Terbuang! Pasukan Pembantai telah tiba!"
🪷 🪷 🪷
Kekacauan melanda seluruh Kota Benteng Bentana. Racun pelemah jiwa yang disebarkan para pengkhianat membuat ribuan prajurit garda tergeletak lemas di lorong-lorong benteng, tak sanggup mengangkat senjata mereka. Di gerbang utama, Banyu Al-Fatih dan Guntur Al-Ghazi bertarung membabi buta menahan gempuran ribuan pasukan musuh dan siluman besi.
DENG! DENG! DENG!
"Banyu! Perisaimu retak!" jerit Zahra Mentari seraya menembakkan bola-bola cahaya ceria ke arah siluman yang mencoba melompati barikade.
"Selama kakiku masih menapak bumi, tidak ada satu pun iblis yang boleh melintasi gerbang ini!" raung Banyu Al-Fatih seraya menghentakkan perisainya kembali, memancarkan gelombang kejut kristal yang menghempaskan puluhan musuh.
Namun dari balik gelombang pasukan musuh, melangkah keluar Jenderal Vespera—pemimpin Pasukan Pembantai Istana Pusat—yang membawa tombak raksasa berkepala tiga. Dengan sekali hayunan tombak, gelombang asam pekat meluncur membasahi perisai Banyu, mengikis lapisan kristal pelindungnya secara ganas!