Malam di lembah perbatasan Danau Teratai Tujuh Misteri mendadak pekat oleh bau hangus belerang dan besi panas. Angin malam yang biasanya membawa keheningan kini mengangkut gemuruh langkah kaki bersenjata heavy-armor yang menggetarkan permukaan tanah. Dari balik bukit batu, seribu prajurit berkulit pucat bermata merah menyala mengepung posisi dua belas ksatria.
"Jumlah mereka... terlalu banyak," bisik Mega Nur-Aisyah, jemarinya memeluk manuskrip pelindung dengan wajah pucat.
"Ini bukan prajurit biasa," sahut Fajar Nur-Zaman sembari membuka gulungan anginnya cepat. "Mereka adalah Pasukan Bayangan Kelam. Seseorang telah menggerakkan garnisun terlarang untuk menghabisi kita!"
"Bara! Mereka mulai bergerak mengurung kita dari empat sisi!" teriak Bayu Al-Asad yang baru saja kembali setelah melesat dari puncakan pohon tertinggi.
"Tetap tenang!" seru Bara Al-Mustafa, memicu pendar perak pada bilah pedangnya. "Kita tidak boleh panik. Samudra masih belum pulih total dari sihir penghentian waktu!"
"Bara benar. Samudra butuh perlindungan kita," ujar Laras Al-Humaira seraya menarik tali busur kayu cendananya. Tiga anak panah cahaya terwujud di sela jemarinya. "Aku siap membidik siapapun yang mendekatinya."
"Jangan cemas, Laras! Pasukan rongsokan ini harus melompati mayatku dulu!" bentak Guntur Al-Ghazi, menghentakkan kapak kemburnya ke tanah hingga memercikkan kilatan petir biru.
"Biar aku yang menjadi benteng terdepan," sela Banyu Al-Fatih dengan nada tenang namun berwibawa. Ia melangkah maju dua tindak, mengangkat perisai intannya yang kembali memancarkan pendar kristal kokoh. "Guntur, kau di sampingku. Kita buat tembok tak tertembus di jalur sempit ini!"
"Haha! Itu baru gagasan bagus, Banyu! Ayo kita tunjukkan cara bertarung ksatria sejati!" tawa Guntur membahana, membakar semangat rekan-rekannya di garis belakang.
"Kalian berdua, berhati-hatilah!" puji Zahra Mentari seraya melempar bola cahaya ceria ke udara untuk menerangi barisan musuh. "Kami ada di belakang kalian!"
"Dua belas jiwa, satu tujuan!" seru Banyu dan Guntur serempak.
Di garis depan garis musuh, seorang panglima bayangan berzirah hitam mengacungkan tombaknya ke udara. "Serang! Bawa kepala mereka ke hadapan Yang Mulia Teratai Hitam!"
"SERAAAANG!" raung seribu prajurit bayangan itu.
Gelombang prajurit berzirah baja merangsek maju bagai bah tumpah. Langkah kaki mereka menghentak bumi, menciptakan getaran hebat yang merobohkan barikade batu di sekitar lembah. Banyu dan Guntur berdiri menancapkan kaki di mulut celah tebing, bersiap menerima hantaman pertama dari invasi pasukan mematikan tersebut.
🪷 🪷 🪷
Gelombang seribu prajurit musuh menghantam mulut celah tebing dengan kekuatan yang sanggup merubuhkan benteng batu. Puluhan tombak dan pedang hitam terayun serentak menembus kegelapan, mengincar dada Banyu Al-Fatih dan Guntur Al-Ghazi di baris terdepan.
"Perisai Intan: Dinding Kebal Segala Arah!" teriak Banyu Al-Fatih menghentakkan kaki kanannya ke tanah.
BOOM!
Cahaya kristal bening meledak dari dasar perisainya, membentuk barikade cahaya tebal setinggi tiga meter yang memblokir celah sempit itu secara sempurna. Puluhan senjata musuh menghantam dinding intan Banyu, memancarkan percikan api hebat namun tak sanggup menggeser posisi berdiri sang ksatria perisai walau satu inci pun.
"Giliran aku beraksi! Petir Biru Pemutus Barisan!" jerit Guntur Al-Ghazi.
Melompati bahu Banyu, Guntur mengayunkan kapak kemburnya membentuk lingkaran penuh di udara. Kilatan petir biru pekat menyambar puluhan prajurit bayangan di barisan terdepan, membumihanguskan zirah baja mereka dan melontarkan tubuh musuh hingga bertabrakan dengan rekan-rekan di belakangnya.
"Serangan balasan yang gila, Guntur!" puji Bayu Al-Asad dari atas dahan tebing sembari menerbangkan suar cahaya penanda arah.
"Ini baru pemanasan, Bayu! Masih ada sembilan ratus prajurit lagi yang antre untuk kuhancurkan!" balas Guntur tertawa puas, mendarat kembali di samping Banyu.
"Jangan sombong dulu, Guntur! Musuh meluncurkan panah beracun dari balik bukit!" peringat Fajar Nur-Zaman, membaca pergerakan mana di peta anginnya.
Ratusan anak panah berujung api hitam meluncur dari kegelapan, membumbung tinggi sebelum menukik turun mengincar formasi dua belas ksatria.
"Laras, lindungi garis belakang!" perintah Bara Al-Mustafa.
"Serahkan padaku! Hujan Cahaya Cendana!" seru Laras Al-Humaira. Tali busurnya ditarik lepas, merilis puluhan anak panah energi yang melesat ke angkasa dan menghancurkan ratusan panah racun musuh sebelum sempat menyentuh tanah.
"Luar biasa, Laras!" jerit Zahra Mentari kegirangan, melemparkan bola-bola energi peledak ke tengah-tengah kerumunan pamanas musuh di atas bukit. "Rasakan letupan ceria ini!"
"Banyu, perhatikan sisi bawah perisaimu!" panggil Embun Al-Khansa dari baris tengah. "Ada penyusup bayangan yang mencoba merayap dari tanah!"
"Tidak akan kubiarkan!" Banyu menghentakkan perisainya ke bawah, memicu gelombang getaran kristal yang meremukkan prajurit bayangan tanah tersebut. "Terima kasih atas peringatannya, Embun!"
"Sama-sama, Banyu! Selendang embunku siap menyembuhkan stamina kalian!" balas Embun penuh kehangatan.
"Mega, perkuat aura pelindung jiwa Banyu dan Guntur!" instruksi Samudra At-Thahira yang bersandar lemas pada tongkat airnya, mencoba memberikan petunjuk taktis meski kondisinya sangat lemah.
"Mantra Suci: Keteguhan Jiwa Ksatria!" lantun Mega Nur-Aisyah. Aura perak murni menyelimuti tubuh Banyu dan Guntur, membuat pertahanan fisik dan stamina mereka berlipat ganda.
"Terima kasih semuanya!" panggil Banyu, memperketat cengkeraman jarinya pada gagang perisai. "Selama aku dan Guntur berdiri di sini, tak akan ada satu musuh pun yang bisa melewati jalur ini!"
🪷 🪷 🪷
Meskipun puluhan prajurit bayangan tumbang di setiap detiknya, jumlah seribu prajurit itu seolah tak pernah berkurang. Musuh mulai menggunakan taktik pengepungan brutal dengan menumpuk mayat rekan mereka sebagai pijakan untuk melompati barikade perisai Banyu.
"Banyu! Mereka mencoba menembus dari atas!" teriak Guntur seraya mengayunkan kapaknya memotong dua prajurit yang melompati benteng intan.
"Aku bertahan semampuku, Guntur!" balas Banyu dengan otot lengan menegang keras. Peluh bercampur tanah mengucur dari dahinya. "Tapi dorongan massa mereka di depan perisai ini beratnya seperti gunung!"
"Banyu, jangan memaksakan diri sendiri!" seru Bara, melangkah mendekat dengan pedang perak teracung. "Aku akan membantumu menahan garis depan!"
"Jangan, Kapten!" tahan Banyu tegas tanpa menoleh. "Simpan energimu untuk menghadapi panglima mereka! Biarkan aku dan Guntur yang menyelesaikan barisan kroco ini!"
"Tapi Banyu—"
"Percayalah pada dinding pertahananmu, Bara!" sela Guntur mantap, memicu petir biru yang lebih tebal di sekujur tubuhnya. "Banyu adalah perisai terkuat di benua ini, dan aku adalah kapaknya! Tidak ada yang boleh menghina kombinasi kami!"
Tiba-tiba, dari arah bukit barat, panglima musuh berzirah hitam melangkah maju. Ia mengangkat cawan perunggu berisi cairan darah teratai hitam dan menuangkannya ke atas tanah.
"Dengan darah sang Penguasa..." raung panglima tersebut. "...bangkitlah Prajurit Berserk!"