Dinding-dinding lorong bawah tanah Istana Pusat bergetar hebat ketika ledakan sihir hitam menghancurkan gerbang utama di belakang mereka. Debu obsidian dan serpihan batu runtuh bertubi-tubi, memadamkan pendar lentera minyak yang tergantung di sepanjang lorong. Di dalam kegelapan yang kian pekat, gema langkah ratusan prajurit zirah besi dan raungan anjing pemburu gaib terdengar makin mendekat.
Sepuluh ksatria terbuang berlari cepat menelusuri lorong yang makin menyempit dan curam ke bawah. Pakaian tempur mereka koyak, memancarkan bau sangit dan sisa asap pertempuran sengit yang baru saja mereka lalui di Aula Singgasana. Bara Al-Mustafa berjalan paling depan, membimbing saudara-saudaranya dengan sisa pendar perak dari pedang Astra-Raja.
"Cepat! Jangan sampai ada yang tertinggal!" seru Bara dengan napas terengah-engah, matanya memindai kegelapan di hadapan mereka. "Pasukan Eksekutor terus mengejar dari lorong atas!"
"Jalan ini makin menurun drastis, Bara!" panggil Guntur dari barisan belakang seraya mengangkat perisai perunggunya untuk membendung reruntuhan batu. "Langkah kaki musuh makin dekat!"
"Samudra! Berapa jauh lagi jarak menuju jalan keluar?!" tanya Bayu seraya mengibaskan pisau taufannya untuk halau serpihan batu.
Samudra At-Thahira membuka gulungan peta kulit kuno di bawah pendar redup pedang Bara. "Menurut catatan prasasti, di balik dinding cadas ini mengalir Sungai Kuno Gelap—satu-satunya jalur air purba yang menembus dasar Gurun Tandus menuju luar benua!"
"Tapi tempat ini tertutup rapat oleh dinding batu raksasa!" seru Banyu Al-Fatih seraya menepuk dinding cadas di ujung lorong yang buntu.
BOOM!
Sebuah dentuman dahsyat menghentak lorong. Pintu besi tebal di belakang mereka retak dihantam bola api raksasa milik para Eksekutor.
"Dinding ini keras sekali! Kita terkurung!" jerit Mega Al-Khansa penuh kepanikan.
Embun Al-Khansa melangkah maju ke depan barisan. Mata jernihnya memancarkan pendar kebiruan yang tenang saat ia menempelkan kedua telapak tangannya ke dinding batu yang dingin. Suara gemuruh air yang amat deras terpancar jelas di balik lapisan cadas tebal tersebut.
"Serahkan dinding ini padaku," bisik Embun lembut namun penuh keyakinan. "Air di balik batu ini mendengarkan panggilanku!"
🪷 🪷 🪷
Embun memejamkan mata, membiarkan aura kebiruan khas klan air memancar dari dadanya dan merambat menembus retakan tipis pada dinding batu raksasa. Gesekan air bertekanan tinggi di balik cadas bergetar merespons sihir penyelarasan milik Embun.
"Keahlian khusus klan air: Pembalik Arus Cadas!" jerit Embun seraya menghentakkan kedua tangannya ke depan.
CRASH! BOOM!
Dinding batu raksasa itu pecah terbelah dua dari dalam! Semburan gelombang air berwarna biru pekat meloncat keluar dengan tekanan luar biasa, merobohkan sisa barikade batu dan membuka lorong menuju jurang bawah tanah yang amat luas. Di dasar jurang tersebut, mengalir Sungai Kuno Gelap—sebuah sungai purba selebar lima puluh meter dengan arus deras yang bergolak liar memutihkan buaian air di atas batuan tajam.
"Luar biasa, Embun!" puji Laras Al-Humaira seraya mendekap selendang peraknya yang bergetar tertiup angin basah.
"Jangan senang dulu!" panggil Embun seraya menunjuk ke tepi sungai bawah tanah, tempat tiga buah perahu kayu purba berlapis besi pelindung terikat pada pilar obsidian. "Arus sungai ini memiliki pusaran racun dan batuan siluman. Kita harus bergerak sekarang sebelum pasukan utama mendobrak masuk!"
BREAK!
Pintu besi lorong atas hancur berkeping-keping. Puluhan prajurit panah api Istana Pusat melompat keluar dari asap, langsung membidikkan anak panah membara ke arah sepuluh ksatria.
"Tembak mereka! Jangan biarkan para pengkhianat itu lolos ke sungai!" teriak komandan prajurit dengan suara melengking.
"Banyu! Guntur! Lindungi perahu!" perintah Bara seraya menebaskan pedang peraknya untuk menangkis hujan anak panah api yang meluncur deras.
"Naik ke perahu! Cepat!" seru Fajar Nur-Zaman seraya membalas tembakan panah energi ke arah barisan musuh di atas tebing.
Sepuluh ksatria dengan sigap melompat turun ke atas tiga perahu kayu purba. Banyu dan Guntur menebas tali pengikat pilar dengan cepat, membiarkan tiga perahu tersebut seketika terseret masuk ke dalam pusaran arus deras Sungai Kuno Gelap yang membawa mereka meluncur cepat ke kegelapan abadi!
🪷 🪷 🪷
Tiga perahu kayu purba meluncur dengan kecepatan menakutkan di atas permukaan Sungai Kuno Gelap. Dinding-dinding gua bawah tanah yang pekat melintas bagai bayangan kelam di kanan dan kiri mereka. Gelombang air raksasa berulang kali menghantam lambung perahu, memercikkan air dingin yang menyengat kulit hingga menusuk tulang.
Banyu dan Guntur bersusah payah memegang dayung besi besar di perahu pertama, berusaha menjaga keseimbangan agar kapal tidak terbalik dihantam gundukan batu obsidian yang mencuat dari dasar air.