Malam merayap makin pekat di atas perbukitan gersang yang menjadi benteng terakhir sebelum garis Perbatasan Selatan Benua Kuno. Angin dingin berembus kencang, membawa sisa-sisa bau belerang dan amis darah yang belum sepenuhnya sirna dari pakaian sepuluh ksatria terbuang. Di celah-celah batu cadas yang memantulkan bayangan hitam, napas mereka terengah-engah. Pelarian tanpa henti selama empat hari empat malam dari kejaran Pasukan Pembantai Istana Pusat telah menguras seluruh stamina fisik dan energi spiritual mereka hingga batas paling kritis.
Bara Al-Mustafa bersandar pada dinding batu yang keras. Wajahnya yang biasa memancarkan wibawa kini dipenuhi jelaga pertempuran dan garis-garis kelelahan yang mendalam. Pedang perak Astra-Raja di pinggangnya memancarkan pendar redup, seolah melambangkan keadaannya yang kian melemah.
Di sisinya, Laras Al-Humaira terduduk dengan lutut tertekuk. Tangannya yang lentik gemetar hebat tatkala mencoba memegang busur kayu cendana. Manik matanya menatap tajam ke arah kegelapan hutan di bawah mereka, namun bibirnya yang pucat tak sanggup menyembunyikan rasa dahaga yang menyiksa.
"Kita tidak bisa bertahan lebih lama lagi jika terus berlari tanpa henti seperti ini, Bara," bisik Laras dengan suara serak, suaranya hampir hilang ditelan deru angin malam yang menusuk tulang.
Bara menoleh perlahan, mengulurkan tangan kanannya untuk menggenggam jemari Laras yang terasa dingin bagai es. "Maafkan aku, Laras. Langkahku sebagai pemimpin justru membawa kalian semua ke ambang kehancuran ini. Aku gagal memberikan ruang bernapas untuk kalian."
Laras menggeser duduknya, menyandarkan kepala di bahu Bara yang tegap walau terasa sangat letih. Usapan hangat jemari Laras di dada Bara membuat gejolak kekecewaan di dalam jiwa sang ksatria sedikit mengendur. "Jangan pernah menyalahkan dirimu, Bara. Kami bertahan hingga detik ini bukan karena terpaksa, melainkan karena kepercayaan kami padamu tidak pernah goyah sedikit pun."
"Tapi lihatlah kondisi saudara-saudara kita, Laras," bisik Bara seraya menatap ke sekeliling celah batu.
Banyu Al-Fatih dan Guntur Al-Ghazi terbaring lemas dengan perisai dan kapak kembar yang tergeletak di samping tubuh mereka. Fajar Nur-Zaman meringis kesakitan di sudut gua kecil, memegangi tato rantai hitam di pergelangan tangannya yang kian merayap naik menembus lehernya. Mega Nur-Aisyah dan Embun Al-Khansa berusaha mengumpulkan sisa-sisa air ramuan penawar yang sudah mengering di dasar wadah kuningan mereka.
"Pusat energi spiritual di dalam tubuhku mulai retak, Bara," sahut Bayu Al-Asad yang baru saja mendarat dari pengintaian udara, tubuhnya limbung hingga harus ditopang oleh Samudra At-Thahira. "Pasukan Istana Pusat telah mengepung seluruh jalur utara dan timur. Satu-satunya jalan hanyalah menyeberangi Lembah Jurang Kematian di Perbatasan Selatan."
"Lembah itu adalah rawa beracun tanpa ujung, Bayu," potong Samudra seraya memeluk buku prasastinya yang kusam. "Jika kita melangkah ke sana dalam kondisi sekarat begini, kita hanya menyerahkan nyawa tanpa bertarung."
🪷 🪷 🪷
Keheningan yang mencekam kembali melingkupi celah perbukitan gersang itu. Setiap napas yang ditarik oleh para ksatria terasa bagaikan tebasan pisau berkarat di dalam dada mereka. Kekuatan sembilan elemen yang selama ini menjadi kebanggaan mereka seolah padam ditelan keletihan fisik yang teramat sangat.
"Kita tidak punya pilihan lain, Samudra," ujar Bara Al-Mustafa seraya berdiri secara perlahan, meski tubuhnya bergetar menahan rasa sakit di persendiannya. "Bertahan di sini sama saja menunggu pedang Istana Pusat merobek dada kita saat kita tertidur."
"Bara benar," sela Laras Al-Humaira seraya ikut bangkit, mengikatkan selendang peraknya yang telah terkoyak di bahunya. "Selama kaki kita masih bisa melangkah, harapan itu belum sepenuhnya mati."
"Tapi Laras, Fajar tidak akan sanggup berjalan menembus perbatasan selatan," kata Zahra Mentari dengan mata berkaca-kaca seraya memangku kepala Fajar yang terus mengerang dalam demam tinggi. "Aura racun rantai hitam itu makin pekat seiring meredupnya kekuatan kita."
Fajar membuka matanya yang meredup secara perlahan, menatap wajah kawan-kawannya satu perawat satu. "Tinggalkan... tinggalkan aku di sini, Saudaraku. Aku hanya menjadi beban yang mempercepat kematian kaliansemua."
"Tutup mulutmu, Fajar!" bentak Guntur Al-Ghazi seraya memaksa tubuh raksasanya untuk duduk tegak, walau luka tebasan di bahunya kembali memuntahkan darah segar. "Kita bersumpah di Danau Tujuh Misteri untuk hidup dan mati bersama! Jika kami harus mati di Perbatasan Selatan, maka kau akan mati di samping kami, bukan di celah batu ini!"
"Guntur benar, Fajar," bisik Banyu Al-Fatih seraya merangkak mendekat, menepuk dada Fajar pelan. "Perisaiku mungkin sudah retak, tapi pundakku masih cukup kuat untuk membopong tubuhmu menyeberangi rawa itu."
"Kalian semua... benar-benar bodoh," desah Fajar seraya menyunggingkan senyum getir di tengah penderitaannya, air mata menetes di pipinya yang kotor oleh debu pertempuran.
Bara melangkah mendekati Fajar, lalu berlutut di depannya. Ia meletakkan telapak tangannya di atas dada Fajar, mengalirkan sisa-sisa aura Astra-Raja yang masih tersisa di dalam tubuhnya. "Bukan bodoh, Fajar. Ini adalah ikatan jiwa. Samudra, petakan jalur teraman menembus Lembah Jurang Kematian!"
Samudra At-Thahira mengangguk cepat, membuka lembaran prasastinya dengan tangan yang bergetar. "Jalur barat rawa memiliki semak-semak peneduh yang bisa menyamarkan hawa keberadaan kita. Tapi kita harus bergerak sekarang sebelum fajar menyingsing, karena saat matahari terbit, kabut beracun di perbatasan akan mencapai tingkat kepekatan tertinggi."
"Bayu, kau dan Zahra menjadi penunjuk jalan di garis depan," perintah Bara dengan nada suara yang membakar kembali sisa-sisa semangat bertarung saudaranya. "Laras dan aku akan menjaga garis belakang. Mari kita selesaikan pelarian ini!"
"Dua belas jiwa, satu tujuan!" seru seluruh ksatria terbuang secara bersamaan, meski suara mereka parau dan bergetar ditelan deru angin malam Perbatasan Selatan.
🪷 🪷 🪷
Rombongan ksatria terbuang melangkah pincang menembus kegelapan Lembah Jurang Kematian. Tanah rawa yang becek dan berbau busuk meletupkan gas beracun setiap kali telapak kaki mereka memijak. Kabut hitam pekat merayap sangat rendah, menyelimuti pandangan mata hingga jarak lima langkah saja.
Banyu Al-Fatih membopong Fajar Nur-Zaman di punggungnya, sementara Guntur Al-Ghazi berjalan bersisian dengan Mega dan Embun untuk melindungi mereka dari vegetasi beracun yang menjulur bagaikan jemari siluman. Bara dan Laras berjalan paling belakang, memasang indera pendengaran mereka pada tingkat kewaspadaan tertinggi.
"Suasana ini terlalu sunyi, Bara," bisik Laras seraya memegang erat lengan baju Bara. "Aliran angin di sekitar rawa ini mendadak berhenti berdesir."
"Kau benar, Laras. Ini bukan sunyinya alam," jawab Bara dengan suara rendah, jemarinya mengepal di hulu pedang peraknya. "Ini adalah keheningan sebelum jebakan dinyalakan."
CRACK!
Suara rantai besi yang terseret di atas batu tajam mendadak memecah keheningan rawa dari delapan penjuru mata angin! Dari balik kabut hitam yang pekat, bermunculan ratusan pasang mata berwarna merah membara. Pasukan elit Penjagapintu Kematian milik Istana Pusat telah melompati benteng cadas dan mengurung pergerakan para ksatria yang sedang berada di titik terendah fisik mereka!
"Hahaha! Akhirnya tikus-tikus terbuang ini terdesak sampai ke ujung perbatasan!" tawa melengking menggema dari udara malam.
Dari atas pohon rawa yang lapuk, melayang turun seorang wanita berpakaian sutra kehitaman berselimut duri besi—Panglima Ksatria Gelap, Helga sang Pencabut Nyawa!
"Helga..." gumam Samudra At-Thahira dengan wajah pucat pasi. "Dia adalah pembantai dari Divisi Eksekusi Istana Pusat!"
"Kalian sudah tidak punya jalan lari lagi, Bara Al-Mustafa!" ejek Helga seraya mengibaskan cambuk rantai bergerigi di tangannya. "Tubuh kalian sudah dipenuhi racun, energi kalian sudah terkuras habis. Menyerahlah dan serahkan kepala Fajar Nur-Zaman, maka aku akan membiarkan sisanya mati tanpa penderitaan!"
"Jangan mimpi, Iblis!" bentak Guntur Al-Ghazi seraya mengangkat kapak kembar petirnya, namun keseimbangannya mendadak koyak saat rasa pening luar biasa menghantam kepalanya akibat efek racun rawa.
"Lihatlah kalian! Berdiri saja sudah tak sanggup, masih berani menggertakku?" tawa Helga kian keras dan menusuk telinga. "Prajurit! Bantai mereka semua dan sisakan Fajar dalam keadaan bernapas!"