Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #51

SENJATA LARAS

Gumpalan asap beracun dan sisa pembakaran sihir hitam dari sisa-sisa pasukan Istana Pusat masih membumbung tinggi di sekitar tebing cadas Puncak Hitam. Di balik dinding batu yang gersang, sepuluh ksatria terbuang terduduk lemas merawat luka-luka usai pertempuran sengit mengikis sisa penjaga gerbang. Hawa dingin dari malam Benua Kuno menekan hingga ke tulang, tetapi keringat dingin di dahi Laras Al-Humaira tidak juga mengering.

Selendang sutra peraknya yang berhiaskan benang-benang energi rembulan terkoyak parah di beberapa bagian. Serangan panah beracun milik Jenderal Kegelapan sebelumnya telah mengikis lapisan aura pelindung kain tersebut, membuat pendar cahayanya meredup menyerupai abu yang hampir padam.

"Laras, biarkan aku mengobati luka di pergelangan tanganmu," panggil Bara Al-Mustafa seraya berlutut di samping Laras, memegang sehelai kain bersih dan ramuan herbal.

Laras menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan, menggeser duduknya di atas batu cadas yang dingin. "Luka fisik ini tidak seberapa, Bara. Hanya saja... selendang ini adalah satu-satunya warisan klan pesisir milik Ibuku yang tersisa."

"Kita akan menyatukan kembali serat-seratnya setelah semua ini selesai," bisik Bara lembut, mengusap pelan jemari Laras yang gemetaran.

"Masalahnya bukan cuma kain yang sobek, Bara," sela Samudra At-Thahira seraya mendekati mereka dengan buku catatan prasasti di tangannya. "Musuh di dalam Puncak Hitam memegang Perisai Zirah Kegelapan. Tanpa senjata berdaya tembus aura spiritual tingkat tinggi, tebasan fisik pedangmu dan panah Fajar tidak akan mampu menembus pertahanan mereka."

"Lalu apa yang harus kita lakukan, Samudra?" tanya Banyu Al-Fatih yang sedang menyandarkan tubuhnya pada perisai perunggu bersama Guntur. "Kita tidak punya waktu lagi untuk menempa senjata baru!"

"Ada satu cara," jawab Samudra seraya menunjuk ke arah celah jurang yang memancarkan pendar perak kebiruan di dasar lembah batu. "Di bawah lembah ini terdapat Telaga Air Mata Rembulan—situs penyucian kuno klan pesisir yang tersisa dari zaman perang purba."

Laras menatap ke arah pendar kebiruan itu, merasakan denyut kehangatan asing yang mendadak bergetar hebat di dalam intinya. "Telaga itu... memanggil namaku."

🪷 🪷 🪷

Tanpa membuang waktu, sepuluh ksatria bergerak menyusuri jalan setapak yang curam menuju dasar lembah cadas. Di tengah lembah yang terisolasi dari angin gurun, terhampar sebuah telaga jernih berdiameter belasan meter. Air telaga itu tidak bergelombang, memancarkan pendar perak murni yang membiaskan bayangan purnama Benua Kuno dengan sangat sempurna.

Laras melangkah perlahan mendekati tepi telaga. Begitu kakinya menyentuh tepian air, selendang sutra perak di bahunya bergetar hebat, memancarkan pendar cahaya yang bersahut-sahutan dengan riak air telaga.

"Energi di tempat ini sangat murni," bisik Embun Al-Khansa seraya memejamkan mata, merasakan keselarasan elemen air yang mengalir tenang. "Ini bukan sekadar air biasa, Laras. Ini adalah akumulasi aura spiritual klan pesisir yang terkumpul selama ratusan tahun."

"Tapi bagaimana cara memperbaikinya?" tanya Bayu seraya mengamati telaga dengan hati-hati. "Kita tidak memiliki pandai besi atau penempa sihir di sini."

"Senjata klan pesisir tidak ditempa dengan api dan palu, Bayu," jelas Laras seraya menatap pantulan dirinya di atas permukaan air. "Kain ini ditempa dengan ikatan jiwa, keselarasan niat, dan pengorbanan batin."

Zahra Mentari melangkah mendekati Laras, menggenggam lembut pundak saudarinya. "Kau telah mengorbankan begitu banyak energi jiwamu untuk melindungi kami semua, Laras. Tempat ini menyambutmu untuk mengembalikan kekuatanmu yang hilang."

Bara berdiri tepat di samping Laras, menatap lurus ke dalam matanya yang tenang. "Aku akan menjagamu di sini, Laras. Masuklah dan ambil kembali apa yang menjadi hakmu."

"Terima kasih, Semuanya," jawab Laras penuh keharuan.

Laras melangkah masuk ke dalam telaga perlahan-lahan. Saat air dingin yang bening menyentuh pinggangnya, selendang sutra perak yang terkoyak terlepas dari bahunya, melayang bebas di atas permukaan telaga seraya menyerap butiran-butiran cahaya perak dari dasar air.

🪷 🪷 🪷

Namun, proses penyucian di Telaga Air Mata Rembulan tidak berjalan semudah yang mereka bayangkan. Begitu Laras memejamkan mata untuk memulai ritual penyelarasan jiwa, permukaan air yang tadinya tenang mendadak bergolak liar!

RUMBLE!

Gelombang air berkecepatan tinggi berputar membentuk pusaran raksasa di tengah telaga. Dari dasar air yang pekat, membumbung bayangan hitam berwujud Cermin Siluman Rembulan—sebuah penjaga kuno berbentuk aura kegelapan yang menirukan wujud Laras sendiri!

"Penjaga situs ini menguji kelayakan jiwa!" seru Samudra penuh kepanikan dari tepi telaga. "Laras harus mengalahkan bayangan ketakutannya sendiri sebelum air telaga menerima energinya!"

Bayangan Laras di dalam telaga membuka matanya yang memancarkan pendar merah kelam. Bayangan itu mengibaskan selendang hitam ilusi, menciptakan gelombang kejut air beracun yang menghantam Laras dari jarak dekat!

BOOM!

Laras terlempar ke belakang, memuntahkan darah segar dari mulutnya saat air beracun menghantam dadanya. "Khhh!"

"Laras!" jerit Bara seraya hendak melompat masuk ke dalam telaga, tetapi Guntur dan Banyu menahannya dengan cepat.

Lihat selengkapnya