Matahari baru saja terbit di atas Danau Tujuh Misteri, memancarkan pendar keemasan yang menembus kabut tipis di tepian air. Di atas tebing batu yang menghadap langsung ke pusaran danau, Banyu Al-Fatih dan Guntur Al-Ghazi berdiri berhadapan. Banyu menggenggam perisai kristal intannya yang tebal, sementara Guntur menggenggam sepasang kapak kembar yang menyemburkan percikan petir kebiruan. Keduanya tampak terengah-engah, menandakan latihan tanding yang telah berlangsung sejak fajar menyingsing.
Bara Al-Mustafa dan Laras Al-Humaira duduk memperhatikan dari atas batu cadas yang teduh. Di samping mereka, Fajar Nur-Zaman terus mencatat pergerakan energi spiritual kedua ksatria itu pada gulungan kertas kuno.
"Guntur! Kurangi tekanan petirmu saat menyentuh airku!" seru Banyu seraya mengusap peluh di dahinya. "Aura sengatanmu justru memecah dinding pelindung yang sedang kubangun!"
"Aku sudah menahannya, Banyu!" balas Guntur dengan suara menggelegar seperti biasa. "Sifat alami petir adalah melompat dan menghancurkan! Airmu yang terlalu lambat membungkus percikanku!"
Laras tersenyum tipis, menoleh ke arah Bara yang duduk mengamati dengan cermat. "Mereka sudah bertengkar sejak dua jam lalu, Bara. Apakah menurutmu kombinasi elemen mereka benar-benar bisa disatukan?"
"Elemen air milik Banyu adalah ketenangan yang menampung, sedangkan petir milik Guntur adalah ledakan yang mendobrak," sahut Bara lembut seraya menggenggam jemari Laras. "Jika mereka menemukan titik keseimbangan batin, kombinasi itu akan menjadi perisai dan senjata terkuat kelompok kita."
Fajar mendongak dari gulungan kertasnya, menatap Banyu dan Guntur. "Analisis energi menunjukkan kegagalan kalian ada pada tempo. Banyu terlalu fokus memadati molekul air, sementara Guntur melepaskan petir tanpa menyelaraskan frekuensi gelombang air Banyu."
"Dengar itu, Guntur!" ujar Banyu seraya mengarahkan perisainya ke tanah. "Kau harus mengalirkan petirmu mengikuti arusku, bukan menembaknya secara liar!"
"Kau yang harus membuka arusmu lebih lebar, Banyu!" tangkas Guntur seraya mengayunkan kapaknya ke udara hingga memercikkan kilatan membara. "Petir tak pernah menunggu air untuk mengalir!"
"Cukup kalian berdua," panggil Bara seraya berdiri dan berjalan mendekati mereka. "Ancaman dari Istana Pusat makin dekat. Kita tidak punya waktu untuk perdebatan ego. Bersihkan pikiran kalian, lalu mulai lagi dari awal!"
🪷 🪷 🪷
Banyu Al-Fatih menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata untuk menenangkan gejolak emosi di dadanya. Ia merentangkan tangan kirinya, memanggil aliran air murni dari Danau Tujuh Misteri. Seberkas gelombang air yang jernih membumbung tinggi, berputar membentuk naga air raksasa yang melingkupi tubuhnya.
Guntur Al-Ghazi mengangguk pelan, menyerap teguran Bara dengan kejujuran batin. Ia mengangkat kapak kembarnya tinggi-tinggi, memanggil aliran petir murni dari awan tipis di atas mereka. Kilatan listrik membara menjalar di sepanjang bilah kapaknya.
"Banyu, aku akan memasukkan percikan awal ke dalam perut naga airmu!" seru Guntur seraya melangkah maju. "Bersiaplah menahan hantamannya!"
"Salurkan perlahan, Guntur! Jangan hentakkan energimu sekaligus!" balas Banyu penuh konsentrasi.
Guntur menancapkan salah satu kapaknya ke dalam pusaran air Banyu. Kilatan petir kebiruan menyambar masuk, merambat cepat ke dalam molekul air. Namun, alih-alih bersatu membentuk pusaran listrik yang stabil, air milik Banyu justru mendidih hebat dan meledak berantakan!
BOOM!
Semburan air dan muatan listrik menghempaskan Banyu dan Guntur ke belakang hingga menghantam batu cadas!
"Uhuk! Uhuk!" Banyu terbatuk-batuk, bajunya basah kuyup dan ternoda jelaga hitam. "Sudah kubilang, Guntur! Petirmu terlalu ganas!"
"Aku sudah menekan energinya hingga separuh, Banyu!" tangkas Guntur seraya mengusap mukanya yang hitam terkena ledakan. "Airmu yang terlalu ringkih untuk menampung kekuatanku!"
Bayu Al-Asad yang sedang melayang di udara mendarat di dekat mereka seraya tertawa terkekeh-kekeh. "Kalian berdua terlihat seperti dua siluman Rawa Hitam yang gagal meledakkan diri!"
"Diam kau, Bayu!" seru Guntur dan Banyu secara bersamaan dengan nada jengkel.
Laras Al-Humaira berjalan mendekati Banyu dan Guntur, menyodorkan dua cangkir air herbal hangat. "Minumlah ini dulu untuk memulihkan saluran energi kalian."
"Terima kasih, Nona Laras," puji Banyu seraya menerima cangkir tersebut dengan tangan gemetar.
"Bara, apakah tebakan kita salah?" tanya Samudra At-Thahira yang ikut mendekat membawa buku catatan kuno. "Secara teori naskah kuno Danau Tujuh Misteri, elemen air dan petir memang paling sulit disatukan karena sifat destruktif listrik terhadap kerapatan air."
"Tidak ada teori yang salah jika ada keikhlasan untuk saling mengisi, Samudra," jawab Bara tegas seraya menatap Banyu dan Guntur bergantian. "Masalah mereka bukan pada elemennya, melainkan pada ketidakmampuan mereka untuk saling percaya secara penuh saat mengalirkan jurus."
🪷 🪷 🪷
Di tengah usaha Banyu dan Guntur yang masih menemui jalan buntu, langit di atas Danau Tujuh Misteri mendadak berubah menjadi abu-abu gelap. Angin kencang berembus membawa bau belerang dan bau racun busuk yang teramat pekat. Pendar perlindungan danau bergetar hebat saat suara lolongan makhluk gaib membahana dari balik bukit batu.
"Bara! Ada pergerakan musuh di garis luar perbatasan!" jerit Zahra Mentari yang datang berlari dari arah pos pengintai.
"Berapa banyak pasukan yang mendekat, Zahra?" tanya Bara cepat seraya menghunus pedang perak Astra-Raja.
"Satu Batalyon Garda Siluman Listrik Merah milik Istana Pusat!" jawab Zahra dengan wajah pucat. "Mereka dipimpin langsung oleh Panglima Voltarius!"
"Voltarius..." gumam Fajar Nur-Zaman seraya membuka prasastinya. "Panglima yang menguasai sihir petir darah! Dia sengaja datang karena mencium kelemahan formasi kita di area tepian danau ini!"
"Kita tidak boleh membiarkan mereka menerobos masuk ke area pemukiman warga!" seru Laras Al-Humaira seraya menarik tali busur cendananya.
"Banyu, Guntur! Kalian tetap di sini dan selesaikan jurus gabungan itu!" perintah Bara seraya menatap kedua saudaranya itu dengan tajam. "Kami akan menahan gelombang pertama serangan musuh di celah bukit!"
"Tapi Bara! Kami harus ikut bertarung!" bantah Guntur seraya mengangkat kapaknya.
"Kalian belum siap jika bertarung sendiri-sendiri melawan Voltarius!" potong Bara tegas. "Hanya jurus gabungan Air dan Petir yang sanggup menembus zirah besi merah milik Voltarius! Pahami itu!"
Bara, Laras, Fajar, Bayu, dan Zahra melesat meninggalkan tebing batu menuju celah bukit untuk menyambut serbuan pasukan musuh. Suara dentuman senjata dan ledakan sihir segera membahana memecah keheningan pagi.