Dinding batu Gua Teratai Abadi memancarkan kilau kehitaman yang mencekam. Bau belerang dan busuknya sihir kuno menyelimuti lorong sempit tempat dua belas ksatria terdesak. Di hadapan mereka, berdiri tiga patung gargoyle batu raksasa berpendar merah murni yang terus memuntahkan gelombang racun ketakutan tanpa henti.
"Aura racun ini... menekan pusat koordinasi sihir kita!" jerit Fajar Nur-Zaman sembari memegang kepala, peta angin pusakannya terkulai lemas di atas tanah.
"Aku tidak bisa membentuk kubah pelindung ganda!" tambah Mega Nur-Aisyah dengan wajah pucat kebiruan. "Mantra penenteram jiwaku menetralisir racunnya terlalu lambat!"
"Bertahanlah!" seru Bara Al-Mustafa, memiringkan pedang peraknya untuk menahan benturan cakar gargoyle utama. "Banyu, Guntur, bantu aku menahan barisan depan!"
"Perisai Intanku meretak, Kapten!" Banyu Al-Fatih berteriak seraya menancapkan tumitnya ke tanah gua yang basah. "Setiap kali gargoyle ini menghentak, energi intanku tersedot keluar!"
"Kapak petirku juga kehilangan kilatannya!" timpal Guntur Al-Ghazi, mengayunkan senjata kemburnya yang kini hanya memercikkan api biru redup. CLANG! Hantaman cakar musuh melontarkannya dua langkah ke belakang.
Di tengah ketegangan yang kian menghimpit, Zahra Mentari berdiri di garis tengah. Matanya yang biasa berbinar ceria kini memancarkan kecemasan mendalam saat melihat sahabat-sahabatnya mulai kehilangan stamina.
"Kenapa bola cahayaku tidak bisa membakar kulit batu mereka?" bisik Zahra pada dirinya sendiri, menatap dua bola energi di tangannya yang terus meredup.
"Zahra! Awas di samping kananmu!" jerit Laras Al-Humaira dari kejauhan seraya melepaskan anak panah kayu cendana.
Anak panah Laras menancap di mata gargoyle kedua, menahan sabetan ekor batu yang hampir meremukkan tubuh Zahra. Zahra terperosok jatuh ke dalam ceruk batu di sudut gua yang tertutup semak merambat keemasan.
"Aduh!" ringis Zahra saat sikunya menghantam bongkahan benda keras di dasar ceruk.
"Zahra, kau tidak apa-apa?!" panggil Bayu Al-Asad yang melesat mendarat di depan ceruk, membentengi Zahra dengan pedang anginnya.
"Aku tidak apa-apa, Kak Bayu," sahut Zahra pelan. Namun, pandangannya teralih pada benda yang baru saja disikutnya.
Di bawah tumpukan tanah dan akar purba, tersingkap sebuah artefak kuno berbentuk cermin bundar berkepala teratai terbalik dari emas murni. Di pusat cermin itu, terdapat inti kristal surya yang mendadak meletupkan pendar keemasan begitu tersentuh jemari Zahra.
"Benda apa ini...?" gumam Zahra terpesona.
"Zahra, cepat bangun!" teriak Samudra At-Thahira dari garis belakang. "Gargoyle ketiga melompati benteng Banyu!"
🪷 🪷 🪷
Zahra Mentari menggenggam erat gagang cermin teratai emas tersebut. Seketika, kehangatan yang amat murni merambat dari telapak tangannya, mengalir cepat menuju seluruh pembuluh darah dan menembus inti sihir di dadanya. Pendar keemasan dari artefak itu meledak kecil, mengusir kabut busuk di sekeliling ceruk batu.
"Kehangatan ini... ini bukan sihir biasa!" seru Zahra dengan mata berbinar kembali terang.
"Zahra! Jangan melamun!" bentak Guntur seraya menahan gigitan gargoyle dengan gagang kapaknya. "Kami butuh bantuan cahaya sekarang!"
Zahra melompat keluar dari ceruk batu dengan gerakan lincah. Ia mengangkat cermin emas itu tinggi-tinggi ke udara, mengarahkannya tepat ke wajah gargoyle utama yang sedang menekan Banyu.
"Sinar Mentari Suci: Pembuka Kegelapan!" jerit Zahra penuh keyakinan.
FLASH!
Seberkas pendar cahaya emas yang memancarkan energi matahari murni meledak dari permukaan cermin. Sinar itu memantul menyilaukan, menghantam langsung mata merah gargoyle raksasa tersebut. Makhluk batu itu melengking kesakitan, melangkah mundur secara liar sembari menutupi wajahnya yang mulai membatu hangus.
"Luar biasa!" pekik Banyu Al-Fatih yang merasa tekanan di perisainya mendadak lenyap. "Racun ketakutan di sekeliling kita... mendadak netral!"
"Benda apa yang kau temukan itu, Zahra?" tanya Bara Al-Mustafa seraya merangsek maju dan menebas leher gargoyle yang terhuyung.
"Aku tidak tahu nama pastinya, Kak Bara!" balas Zahra tertawa riang, rasa percaya dirinya telah kembali seratus persen. "Tapi cermin ini merespons energi ceriaku dan memperkuatnya sepuluh kali lipat!"
"Itu adalah Artefak Cermin Surya Teratai!" jerit Fajar Nur-Zaman dari dahan batu gua setelah memeriksa catatan antik di peta anginnya. "Artefak pendukung legendaris yang dibuat untuk menghancurkan sihir ilusi dan racun kegelapan!"
"Artefak pendukung?!" ulang Laras Al-Humaira seraya menarik kembali tali busur cendananya dengan senyum terukir di bibir. "Artinya kita punya kunci untuk melumpuhkan pertahanan batu mereka!"
"Zahra, bisakah kau memantulkan cahayanya ke dua gargoyle lainnya?" tanya Bayu Al-Asad yang bersiap melesat.
"Tentu saja! Serahkan padaku, Kak Bayu!" jawab Zahra lincah. Ia memutar tubuhnya, mengarahkan pendar cermin emas ke arah dua gargoyle tersisa di sudut kiri dan kanan.
FLASH! FLASH!
Dua gelombang cahaya keemasan kembali meletup, membakar lapisan sihir hitam yang melapisi kulit batu kedua gargoyle tersebut hingga meretak parah.
"Guntur, Banyu, sekarang!" perintah Bara Al-Mustafa.
"Rasakan petir biruku yang telah kembali membara!" jerit Guntur melompat tinggi. KABOOM! Kapaknya meremukkan gargoyle kedua menjadi kepingan batu tak berguna.
"Dua belas jiwa, satu tujuan!" seru Embun Al-Khansa dan Mega Nur-Aisyah serempak, mengibaskan selendang dan membaca mantra untuk memulihkan stamina kawan-kawannya yang kini kembali membara.
🪷 🪷 🪷
Kemenangan kecil atas tiga gargoyle batu sempat menghembuskan napas lega di antara dua belas ksatria. Namun, keheningan di Gua Teratai Abadi hanya bertahan beberapa detik. Getaran dahsyat kembali mengguncang dasar gua, memicu runtuhnya pilar-pilar batu di langit-langit.
"Awas batu runtuh!" teriak Banyu Al-Fatih seraya mengacungkan perisai intannya ke atas untuk melindungi Embun dan Mega.
Dari balik reruntuhan pilar, muncul gelombang baru: ratusan kalajengking batu hitam berukuran sebesar serigala. Mata mereka berpider merah menyala, dan sengat mereka meneteskan racun cair yang sanggup melumerkan lantai batu gua.
"Jumlah mereka terlalu banyak!" desis Fajar Nur-Zaman panik. "Peta anginku mendeteksi lebih dari lima ratus ekor!"
"Zahra, bisakah cermin itu memusnahkan mereka sekaligus?" tanya Samudra At-Thahira seraya menopang tubuhnya dengan tongkat air.
"Cermin ini butuh waktu untuk mengumpulkan energi surya kembali!" jawab Zahra dengan dahi berpeluh. "Inti kristalnya meredup setelah memantulkan tiga sinar besar tadi!"