Suasana di dalam aula utama markas tersembunyi itu mencekam. Asap tipis beraroma sengit membumbung dari pecahan botol kaca di lantai batu. Di tengah ruangan, seorang perwira muda terbaring kejang dengan bibir membiru dan urat-urat leher yang menegang kaku.
"Mundur! Jangan ada yang menyentuh cairan itu!" seru Mega seraya merentangkan kedua tangannya, menghalangi para prajurit yang panik. Matanya yang tajam menatap teliti lelehan racun yang perlahan mengikis ubin batu.
Embun berlutut di samping tubuh korban, jemarinya bergerak cepat namun tenang memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan pria itu. "Nadinya sangat lemah, Mega. Detaknya tidak teratur dan napasnya dangkal. Ini bukan racun biasa."
"Racun Seringai Hitam," gumam Mega, wajahnya mengeras. "Hanya fraksi pemberontak wilayah utara yang memiliki racun heksagonal jenis ini. Mereka bermaksud menghabisi seluruh komando kita dari dalam."
"Kita tidak punya waktu untuk meratapi pengkhianatan ini," tegas Embun seraya mendongak, menatap Mega dengan tatapan mantap. "Kau tahu komposisi dasarnya, bukan? Kita harus meracik penawarnya sekarang juga sebelum racun ini mencapai jantungnya."
Mega mengangguk cepat. "Formulanya rumit, Embun. Kita butuh kombinasi penawar racun keras dan penstabil aliran darah secara bersamaan. Jika dosisnya meleset sedikit saja, organ dalamnya akan hancur."
"Aku yang akan menangani penstabilnya, kau fokus pada penetral racun utamanya," balas Embun cepat. "Mari kita mulai."
🪷 🪷 🪷
Mega bergegas menuju meja formulasi di sudut ruangan, menyapu bersih gulungan kertas yang tidak berguna dan menyiapkan tabung-tabung reaksi. Jemarinya yang terampil mulai memilih bahan-bahan herbal langka dari kotak penyimpanannya.
"Embun, ambilkan ekstrak akar Lonicera dan serbuk daun Centella di rak paling atas!" perintah Mega tanpa mengalihkan pandangannya dari timbangan kecil.
"Ini," Embun menyerahkan dua wadah porselen dengan sigap. "Berapa takaran yang kau butuhkan untuk fase pertama?"
"Tiga gram ekstrak akar dan dua sendok serbuk daun," jawab Mega seraya memanaskan cairan dasar di atas pembakar spiritus. "Kita harus mengekstrak zat aktifnya dalam waktu kurang dari lima menit. Bagaimana kondisi korban?"
Embun kembali mendekati perwira yang terbaring, menempelkan telapak tangannya di dahi pria itu. "Suhu tubuhnya melonjak drastis. Kulitnya mulai melepuh kebiruan. Jalur darahnya menyempit cepat."
"Sial, reaksinya lebih cepat dari perkiraanku," maki Mega pelan. Ia menuangkan cairan hijau pekat ke dalam mangkuk mortar, lalu menumbuknya dengan ritme yang stabil dan cepat. "Racun ini bekerja dengan mengikat oksigen dalam darah dan membekukannya."
"Kalau begitu kita butuh pemacu sirkulasi," tanggap Embun. Ia mengambil botol kaca berisi cairan merah jernih dari tas medisnya sendiri. "Aku akan menggunakan sari bunga Hibiscus yang sudah difermentasi. Ini bisa membuka kembali pembuluh darah yang menyempit."
"Campurkan itu secara perlahan saat buatanku mulai mendidih," kata Mega. "Jika dicampur terlalu cepat, reaksi kimianya akan menimbulkan ledakan gas beracun baru."
"Aku mengerti. Katakan kapan aku harus menuangkannya," ujar Embun, mengamati gelembung-gelembung kecil yang mulai muncul di permukaan larutan racikan Mega.
"Sekarang! Tuang perlahan dalam hitungan tiga," aba-aba Mega. "Satu... dua... tiga."
Embun meneteskan cairan merah itu titik demi titik. Kepulan asap putih harum serta-merta menyerbak, menggantikan bau busuk racun yang sebelumnya memenuhi udara ruangan.
🪷 🪷 🪷
Meskipun asap harum mulai tercium, warna campuran di dalam kuali kecil itu mendadak berubah menjadi hitam pekat dan mengeluarkan gelembung liar. Reaksi yang terjadi tidak sesuai dengan perhitungan awal mereka.
"Tunggu! Ada yang salah!" teriak Mega seraya menahan tangan Embun yang hendak menuangkan sisa cairan.
"Kenapa? Bukankah apinya sudah sesuai?" tanya Embun heran, matanya membelalak menatap gelembung hitam yang semakin membesar dan meletup-letup.
"Racun di dalam tubuh korban bukan racun murni," bisik Mega dengan wajah pucat. "Penyusup itu telah mencampurnya dengan ekstrak Dhatura kering. Reaksi penawar kita justru memicu pembentukan racun turunan yang lebih fatal!"
Tiba-tiba dari luar gedung, terdengar suara dentuman keras disusul teriakan histeris para penjaga. Pintu gerbang utama dipukul menggunakan balok kayu besar secara bertubi-tubi.
"Pasukan musuh! Mereka sudah menyerang benteng luar!" seru seorang prajurit yang berlari masuk dengan tubuh bersimbah darah. "Kita dikepung!"
Kepanikan hebat melanda isi ruangan. Para prajurit mulai menarik pedang mereka, siap berlari menuju garis depan. Namun Embun berdiri tegak, memotong jalan mereka.