Angin malam menusuk hingga ke tulang ketika Sekar melangkah mendekati tepian tebing. Di bawah sana, Danau Tujuh Misteri yang biasanya memancarkan cahaya kebiruan kini tampak gulita, menyerupai kawah beracun yang mati. Kabut hitam tebal merayap di atas permukaan air yang biasanya tenang tanpa riak.
"Lihatlah airnya, Sekar," bisik Raden, tangannya terkepal erat pada hulu pedangnya. "Ikan-ikan perak yang biasanya menjadi penanda kesucian tempat ini... semuanya mengapung mati."
Sekar berlutut, menyentuhkan jemarinya ke tanah basah di tepi tebing. Rasa dingin yang abnormal menembus kulitnya, membawa getaran kegelapan yang membuat dadanya sesak.
"Ini bukan sekadar kabut biasa, Raden," kata Sekar, suaranya bergetar menahan cemas. "Sihir Hitam telah merusak lanskap magis danau ini secara menyeluruh."
"Apakah menurutmu Utusan Kegelapan sudah berhasil menembus Segel Utara?" tanya Raden seraya menatap ke tengah telaga yang kian pekat.
"Jika Segel Utara jebah, air ini tidak hanya mati, Raden," jawab Sekar seraya berdiri perlahan. "Air ini akan menelan siapa saja yang mencoba mendekatinya."
Tiba-tiba, suara kepakan sayap yang berat memecah kesunyian malam. Seekor burung merpati berbulu kelabu mendarat muram di bahu Sekar. Di kakinya terikat tabung tembaga kecil berukir simbol klan air.
"Kabar dari pengawas danau?" Raden mendekat, matanya meneliti burung yang tampak ketakutan itu.
"Ya," Sekar melepas tabung itu dengan jemari gemetar. "Surat ini basah oleh tinta merah."
"Buka dan bacakan untukku, Sekar," desak Raden dengan napas terengah.
Sekar menarik gulungan kertas kecil itu, membaca larik demi larik kalimat yang tertulis tergesa-gesa. "Kabut hitam muncul dari dasar danau sejak tengah malam. Tetua Danau jatuh pingsan setelah menghirup uapnya. Kegelapan telah menguasai lima dari tujuh wilayah danau."
"Lima dari tujuh?" Raden mengumpat pelan. "Artinya tinggal dua tempat yang tersisa sebelum seluruh danau menjadi sarang iblis."
"Kita terlambat," gumam Sekar, menatap gulungan kertas yang kini mulai menghitam di genggamannya. "Sesuatu yang jauh lebih besar dari yang kita duga sedang bangkit dari dasar air."
"Kita harus turun ke dermaga sekarang juga," tegas Raden sambil menarik napas dalam-dalam. "Kita tidak boleh melepaskan dua wilayah terakhir itu."
"Tunggu, Raden!" tahan Sekar seraya memegang lengan temannya. "Mendekati air itu dalam kondisi seperti ini sama saja dengan bunuh diri."
"Lalu kita diam saja melihat danau ini mati?" bentak Raden, frustrasi menumpuk di wajahnya.
"Tidak," balas Sekar tegas. "Kita cari jalan masuk tersembunyi lewat Gua Teratai."
🪷 🪷 🪷
Langkah kaki mereka bergema rapat di dalam lorong Gua Teratai yang lembap. Batuan stalaktit meneteskan air yang berbau sangit, menandakan infiltrasi racun kegelapan sudah merembet jauh ke dalam perut bumi. Raden mengangkat obor, menerangi dinding gua yang dipenuhi ukiran kuno.
"Ukiran ini mulai pudar, Sekar," ujar Raden sambil menyusuri relief batu dengan ujung jarinya. "Energi pelindung tempat ini benar-benar tergerus."
"Kegelapan itu mengonsumsi semua mana alami di sekitar danau," sahut Sekar dari belakang, matanya waspada memperhatikan bayang-bayang di dinding gua. "Semakin lama kita di sini, semakin lemah sihir kita."
"Apakah kau mendengar sesuatu?" Raden mendadak berhenti melangkah, mengangkat tangannya memberi isyarat agar Sekar diam.
Suara gesekan halus berbisik di kegelapan lorong depan. Seperti derap langkah ratusan kaki kecil yang bergerak serempak di atas tanah basah.
"Kembali berpaling!" teriak Sekar mendadak saat puluhan mahluk hitam melompat dari kegelapan.
"Laba-laba Lumpur!" seru Raden seraya menarik pedangnya. Bilah besinya menyala terang saat dialiri energi api, menebas makhluk pertama yang mencoba melompat ke arah dadanya.
Sekar merentangkan tangannya, membentuk perisai angin yang menolak gelombang serangan berikutnya. "Mereka terpengaruh oleh racun danau! Mereka menjadi jauh lebih agresif!"
"Tahan posisi mu!" teriak Raden seraya mengayunkan pedang melingkar, menciptakan lingkaran api yang membakar makhluk-makhluk beracun itu. "Kita harus menerobos ke pintu keluar selatan!"
"Aku akan membuka jalannya!" Sekar memusatkan energinya, memanggil angin kencang yang menghantam barisan mahluk di depan mereka hingga hancur berkeping-keping.
Mereka berlari melintasi lorong yang menyempit, napas mereka terengah-engah di udara dingin yang kian meracuni paru-paru. Di ujung lorong, cahaya redup dari permukaan danau tampak bergetar.
"Itu pintunya!" tunjuk Raden.
Namun sebelum mereka berhasil mencapainya, sebuah ledakan energi hitam merobohkan atap gua tepat di depan mereka. Bebatuan besar berjatuhan, menutup akses menuju permukaan.
"Sial!" pungkasi Raden, menghentakkan kakinya ke tanah. "Jalan kita terputus!"
"Lihat ke atas!" seru Sekar mendadak.
Sesosok figur tinggi berjongkok di atas reruntuhan batu. Jubah hitamnya berkibar meski tak ada angin di dalam gua, dan matanya menyala merah dalam kegelapan.
"Kalian terlalu lambat, para penjaga muda," ucap figur itu dengan suara serak bergema. "Danau Tujuh Misteri kini milik Tuan Kegelapan."
"Siapa kau?" tantang Raden, mengarahkan ujung pedangnya yang membara ke arah sosok itu.
"Aku adalah akhir dari harapan kalian," jawab sosok itu seraya melompat turun, mendarat tanpa suara tepat di depan mereka.
🪷 🪷 🪷
Udara di dalam gua terasa sangat menekan saat sosok berjubah hitam itu melangkah mendekat. Setiap pijakan kakinya meninggalkan bekas kehitaman yang membakar batu lembap di bawahnya. Raden menggertakkan gigi, mengetatkan genggamannya pada gagang pedang.
"Sekar, bersiaplah," bisik Raden tanpa mengalihkan pandangannya dari musuh. "Sosok ini bukan monster biasa. Energinya setara dengan Panglima Kegelapan."