Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #56

SERANGAN BALIK PERTAMA

Riak air yang tadinya tenang mendadak bergetar hebat ketika segel gaib di dasar Danau Teratai Tujuh Misteri mulai retak. Dari kedalaman air yang berubah sehitam jelaga, membumbung tinggi kabut pekat yang bergulung membentuk wujud raksasa bermata merah membara. Meraungkan racun ketakutan dan membangkitkan gelombang raksasa, ancaman besar itu akhirnya menampakkan diri. Pos terdepan pasukan kegelapan yang tersembunyi di balik ilusi danau kini sepenuhnya aktif, memancarkan aura busuk yang mengancam wilayah sekitar.

Bara Al-Mustafa berdiri paling depan di tepi dermaga tua, memandangi pusaran air yang kian liar. Angin malam meniup jubah tebalnya, namun tatapannya tak bergeming sedikit pun dari pusat ketegangan.

"Lihat pola getarannya, Bara!" panggil Fajar Nur-Zaman seraya mengamati pantulan air di sekitarnya. "Ini bukan sekadar monster liar yang terbangun dari tidur panjangnya. Ini adalah pertahanan terluar dari pos terdepan mereka."

"Aku sudah menduganya," sahut Bara, tangannya menggenggam erat hulu pedangnya. "Pasukan kegelapan sengaja menanamkan pilar busuk ini untuk mengunci energi spiritual danau. Jika kita biarkan, seluruh lembah akan beracun sebelum fajar menyingsing."

Laras Al-Humaira melangkah mendekat, jemarinya membelai tali busur kayu cendananya yang mulai bergetar merespons aura jahat. "Sihir kegelapan ini sangat pekat. Bahkan udara di sekitar kita terasa tebal dan membakar dada saat dihirup."

"Maka dari itu kita tidak boleh mengulur waktu," tegas Bara. Ia berbalik menatap sebelas rekannya yang berdiri bersiap di bawah naungan pohon teratai purba. "Target kita malam ini jelas: hancurkan pos terdepan ini dan rebut kembali Danau Teratai Tujuh Misteri!"

"Apakah rencana serangan balik ini tidak terlalu terburu-buru, Bara?" tanya Mega Nur-Aisyah dengan nada khawatir. Ia mengusap permukaan kristal pelindungnya yang tampak memudar. "Aura intimidasi mereka sangat kuat. Aku merasakannya menusuk hingga ke tulang."

"Tidak ada kata terlalu cepat jika musuh sudah mengarahkan ujung tombaknya ke dada kita, Mega," Banyu Al-Fatih menimpali. Ia mengangkat perisai intannya yang berat, membiarkan ujung perisai menghantam tanah hingga menimbulkan dentuman mantap. "Biar perisaiku yang menahan gelombang pertama serangan mereka."

Guntur Al-Ghazi menyeringai lebar, menyilangkan dua kapak kembarnya di atas dada hingga memercikkan bunga api biru. "Bicara soal serangan balik, aku sudah gatal ingin meremukkan kabut busuk itu menjadi debu!"

"Simpan energimu untuk pertarungan sesungguhnya, Guntur," potong Samudra At-Thahira dingin, mata dalamnya menatap lurus ke arah kegelapan yang kian menggebu. "Air danau ini sedang menjerit. Kita harus membebaskannya."

🪷 🪷 🪷

"Rencana kita tetap sama," Bara menegaskan suaranya, memecah kepulan kabut awal yang mulai menjangkau tepian. "Kita bagi tugas sesuai dengan keahlian masing-masing. Banyu dan Guntur, kalian buka jalan di garis paling depan!"

"Siap, Ketua!" seru Banyu dan Guntur serempak.

"Laras, kunci pergerakan monster pilar itu dari jarak jauh," lanjut Bara. "Bayu, Fajar, kalian ambil posisi di ketinggian. Petakan medan dan pastikan tidak ada jebakan samping yang luput dari pengamatan kita."

Bayu Al-Asad mengangguk cepat, tubuhnya sudah dikelilingi pusaran angin tipis. "Suar cahaya siap kusebarkan di delapan penjuru. Tak akan ada bayangan yang bisa bersembunyi dari pandanganku."

"Fajar," Bara menatap sang taktisi, "peta pusakamu adalah mata kita malam ini. Cari inti dari kekuatan pos terdepan ini."

"Serahkan padaku," balai Fajar sambil membuka gulungan angin pusakanya yang melayang di udara. "Begitu posisinya teridentifikasi, aku akan langsung memberi aba-aba."

Tanpa ragu, Bara Al-Mustafa menarik pedang peraknya. Cahaya rembulan memantul tajam pada bilahnya yang berkilat-kilat, membelah kegelapan yang mulai mengepung mereka dari segala sisi. Pendar perak itu menjadi satu-satunya lentera penerang di tengah gulita yang semakin pekat.

"Waktunya telah tiba!" serunya teguh, memancarkan wibawa yang membuat keraguan di hati kawan-kawannya sirna seketika. "Serang!"

Tepat di sampingnya, Laras Al-Humaira merentangkan tali busur kayu cendananya dengan gerakan membentang yang begitu anggun namun penuh kekuatan. Pendar keemasan merekah membungkus jemarinya saat tiga anak panah energi murni terwujud secara gaib di antara jemari yang kokoh itu.

"Jangan biarkan makhluk itu melangkah lebih jauh ke daratan!" teriak Laras memberi peringatan.

SWOOSH!

Melesat cepat menembus malam, panah-panah cahaya milik Laras membelah udara dengan suara mendesis yang nyaring. Anak-anak panah itu menancap tepat di sendi-sendi sang makhluk gaib yang membumbung di tengah danau. Ledakan cahaya emas meletup, menciptakan belenggu energi murni yang serta-merta mengunci pergerakan raksasa kabut tersebut.

"Bagus sekali, Laras!" puji Guntur sambil melompat ke tepi dermaga. "Sekarang giliran kami menghantam mereka!"

"Tetap di belakang perisaiku, Guntur!" peringat Banyu yang mengekor rapat. "Lapis gelombang pertama musuh mulai bereaksi!"

Dari dalam danau, puluhan tengkorak hitam berlapis api belerang muncul dari balik kabut, menyemburkan cairan beracun ke arah para ksatria. Banyu melempar perisai intannya ke depan, mengaktifkan bidang pelindung bersudut gemerlap yang menolak setiap tetes racun tersebut.

"Aura racun ini sangat korosif!" teriak Banyu sambil menahan tekanan gelombang. "Zahra, Embun, persiapkan bantuan kalian!"

"Tenang saja, Banyu! Aku tidak akan membiarkan cahaya kita redup di tempat berlumpur ini!" sahut Zahra Mentari dari garis belakang, jemarinya memancarkan percikan api ceria yang siap dilepaskan kapan saja.

🪷 🪷 🪷

Di garis depan, Banyu Al-Fatih dan Guntur Al-Ghazi melompat menghantam permukaan air tanpa sedikit pun rasa gentar. Sihir pelindung yang teranyam sempurna membuat mereka mampu berpijak kokoh di atas riak danau yang bergulung keras, seolah-olah danau itu adalah daratan padat.

Banyu mengangkat perisai intannya tinggi-tinggi, membentengi kawan-kawannya dari hempasan gelombang racun belerang yang dimuntahkan oleh pos terdepan musuh. Dentuman keras berkali-kali menghantam perisai intan tersebut, memercikkan uap berbau menyengat yang membakar udara.

"Awas, Banyu! Tekanan dari bawah danau semakin kuat!" seru Embun Al-Khansa dari tepi pantai. "Staminamu bisa terkuras cepat dalam kondisi seperti ini!"

"Aku masih bisa menahannya!" Banyu menggeram, menancapkan kakinya lebih dalam pada pijakan sihir air. "Guntur, sekarang! Ambil celahnya!"

Mengambil celah dari balik perisai kokoh Banyu, Guntur melenting tinggi ke udara. Kapak kembarnya melayang bebas di samping tubuhnya, menyemburkan kilatan petir biru pekat yang menyambar-nyambar liar ke segala arah.

"Rasakan ini, musuh-musuh tak berwajah!" teriak Guntur dengan raungan penuh semangat.

KABOOM!

Lihat selengkapnya