Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #57

KEMENANGAN GEMILANG

Pilar asap hitam meliuk-liuk di atas perbukitan Benteng Karang Samudra, menandakan sisa-sisa kehancuran Legiun Bayangan Merah. Di tengah puing-puing pertempuran, Fajar Nur-Zaman berdiri tegak, membentangkan peta taktik terbarunya di atas meja kayu yang retak.

"Fajar! Apakah rencana gila ini benar-benar tidak akan memakan korban dari pihak kita?!" seru Bayu Al-Asad, mengusap peluh di dahinya seraya menunjuk garis-garis merah pada peta.

"Taktik tidak diciptakan untuk mengorbankan nyawa, Bayu, melainkan untuk melindunginya," jawab Fajar Nur-Zaman tenang, jarinya membelai kompas navigasi barunya dengan presisi tinggi. "Rencana ini memanfaatkan bias cahaya dan hembusan angin malam."

"Tapi musuh yang tersisa di Lembah Seribu Karang berjumlah tiga ribu prajurit berzirah besi!" sela Zahra Mentari, memperketat genggaman pada dua belati suryanya. "Bagaimana mungkin kita menundukkan mereka tanpa ada darah saudara kita yang menetes?!"

"Sihir Ilusi Cahaya dan Jebakan Gelombang Suara," potong Fajar mantap, menatap satu per satu kawan-kawannya dengan pandangan penuh keyakinan. "Kita tidak akan menyerang tubuh mereka, melainkan pikiran dan keberanian mereka."

"Aku setuju dengan Fajar," sahut Bara Al-Mustafa, melangkah maju dan menepuk bahu sang ahli taktik. "Kemenangan sejati bukan diukur dari berapa banyak musuh yang kita bunuh, melainkan berapa banyak kawan yang bisa kita bawa pulang dengan selamat."

"Laras, bagaimana dengan persiapan sihir ilusimu?" tanya Fajar menoleh ke arah Laras Al-Humaira.

"Pita Mahkota Teratai Tujuh Warna siap membiaskan cahaya rembulan menjadi ribuan bayangan prajurit gaib," jawab Laras Al-Humaira penuh percaya diri, menyunggingkan senyum anggun. "Setiap sudut lembah akan dipenuhi gema pasukan sakral."

"Banyu, Guntur! Kalian akan memimpin pengalihan di garis perbatasan," perintah Fajar. "Ingat, tugas kalian hanya memancing mereka ke dalam perangkap racun tidur, bukan melakukan kontak fisik!"

"Siap, Komandan Fajar!" seru Guntur Al-Ghazi seraya menghentakkan Perisai Naga Emasnya ke tanah. "Kami akan memastikan tidak ada satu pun anak panah musuh yang menyentuh barisan kita!"

"Pergerakan dimulai saat bintang utara sejajar dengan puncak benteng!" tegas Fajar.

🪷 🪷 🪷

Lembah Seribu Karang terselimuti kegelapan pekat ketika pasukan gabungan Aliansi Teratai Purba bergerak dalam keheningan mutlak. Tak ada denting zirah maupun derap langkah kasar; setiap ksatria melangkah mengikuti jejak energi yang dipetakan oleh Fajar Nur-Zaman.

"Perhatikan jarak antar barisan!" bisik Fajar Nur-Zaman dari atas tebing tinggi, memantau posisi pasukan melalui lensa teropong energinya. "Banyu, bawa timmu memutar lewat celah tebing sebelah kiri sekarang!"

"Diterima, Fajar! Pasukan Air bergerak tanpa suara!" balas Banyu Al-Fatih melalui benang sihir transmisi suara di telinganya.

Di dasar lembah, tiga ribu prajurit Orde Bayangan berdiri tegang dengan senjata terhunus. Panglima perang mereka, seorang iblis berzirah hitam bernama Jenderal Malakor, berjalan menatap kegelapan malam dengan kecurigaan mendalam.

"Mengapa lembah ini mendadak menjadi begitu hening?!" bentak Jenderal Malakor pada prajurit di sampingnya. "Di mana pasukan pengintai yang kukirim sepuluh menit lalu?!"

"M-maafkan kami, Jenderal!" jawab prajurit itu gemetar. "Mereka... mereka mendadak lenyap ditelan kabut tanpa memicu suara benturan sedikit pun!"

"Pengecut! Siapkan meriam peledak jiwa!" raung Malakor murka. "Tembak setiap sudut tebing!"

Sebelum para prajurit musuh sempat menyulut sumbu meriam, cahaya keemasan lembut mendadak membumbung tinggi dari balik puncak tebing. Laras Al-Humaira mengayunkan selendang teratainya, membiaskan sinar rembulan menjadi bayangan raksasa seribu ksatria berzirah pelangi di udara.

"Lihat ke atas tebing! Pasukan teratai purba... jumlah mereka jutaan!" jerit salah seorang prajurit musuh ketakutan.

"Jangan panik, itu hanya sihir murah!" bentak Malakor mengayunkan pedang besarnya. "Tembak cahaya itu sekarang juga!"

"Sekarang, Guntur!" teriak Fajar Nur-Zaman memberi komando tajam melalui sinyal cahaya.

"Dinding Pemantul Naga Emas!" seru Guntur Al-Ghazi membahana dari arah kegelapan.

Guntur menghantamkan perisainya, menciptakan kubah cermin keemasan raksasa yang memantulkan kembali seluruh tembakan meriam musuh lurus ke arah kawah kosong di belakang markas mereka sendiri.

DUAAAAAAAAARRRRR!

Ledakan dahsyat menghancurkan gudang senjata musuh tanpa melukai satu pun prajurit, memicu kepanikan luar biasa di barisan Orde Bayangan.

🪷 🪷 🪷

Kepanikan meluas cepat di dalam perkemahan musuh bagaikan api menyambar jerami kering. Prajurit Orde Bayangan berlarian gila-gilaan, saling sikut dan berteriak ketakutan saat melihat bayangan raksasa di angkasa kian mendekat.

"Tembak! Tembak mereka semua!" jerit Jenderal Malakor, mengayunkan pedangnya membabi buta ke arah udara hampa.

Lihat selengkapnya