Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #58

PENGAKUAN MUSUH

Reruntuhan Benteng Pasir Hitam mengepulkan asap kelabu yang merayap lambat di atas tanah berbatu. Di tengah lorong batu yang setengah hancur, Komandan Garth berdiri menyandar pada tiang utama yang mulai retak. Baju zirah hitamnya yang tebal kini terkoyak di beberapa bagian, memancarkan bau sangit logam terbakar dan darah segar. Di depannya, Arya menarik napas panjang, menancapkan ujung pedang peraknya ke celah batu untuk menahan bobot tubuhnya yang gemetar.

"Menyerahlah, Garth," bisik Arya, suaranya parau tertutup gemuruh sisa-sisa pertempuran di luar benteng. "Pasukanmu sudah berantakan. Tidak ada lagi pangeran atau pasukan bayaran yang akan datang menyelamatkanmu di celah ini."

Garth tertawa pelan, sebuah tawa kering yang langsung berubah menjadi batuk berdarah. "Menyerah? Kepada seorang bocah yang bahkan tidak paham peta permainan yang sedang dimainkannya?"

"Leluconmu selalu membosankan sejak kita bertemu di Gerbang Selatan," sela Kirana seraya melangkah maju dari balik bayangan koridor. Busurnya masih terentang rapat, panah berujung pirus terarah lurus ke dada Garth. "Katakan di mana gulungan segel itu berada, atau panah ini akan menembus tenggorokanmu sebelum kau sempat bernapas lagi."

"Panah yang indah, Gadis Pemburu," ujar Garth sambil perlahan mengusap darah di dagunya dengan punggung sarung tangan besinya. "Tapi percayalah, jika aku mati detik ini, kalian berdua hanya akan menjadi bangkai berikutnya yang membusuk di lembah ini."

"Jangan mencoba mengulur waktu," pangkas Arya, memajukan langkahnya hingga jarak mereka tersisa tiga meter. "Sihir kegelapan yang kau gunakan di benteng ini... dari mana kau mendapatkannya? Itu bukan mantra kuno klan barat."

"Kau mulai cerdas, Arya," jawab Garth, matanya memancarkan kilatan dingin yang aneh. "Kalian kira aku bertempur untuk memperebutkan tahta tanah pasir ini? Kalian pikir ini semua tentang perebutan wilayah kekuasaan yang picik?"

"Lalu apa lagi?" seru Kirana tegas, jarinya tidak bergeming dari tali busur. "Kau menghancurkan lima desa, membantai para pengawal danau, dan meracuni sumur-sumur purba hanya untuk ambisi kosong!"

"Ambisi?" Garth menegakkan tubuhnya perlahan, membiarkan pelindung dadanya jatuh menimpa lantai batu dengan bunyi dentang yang nyaring. "Ini bukan ambisi. Ini adalah kepatuhan pada takdir yang baru."

"Takdir siapa?" tanya Arya, matanya menyipit penuh kewaspadaan. "Siapa yang memberimu kekuatan beracun ini?"

"Seseorang yang membuat raja-raja kalian tampak seperti anak kecil yang bermain lumpur," bisik Garth. Udara di sekitar mereka mendadak terasa amat dingin, membuat helaan napas mereka mengembun di udara malam yang pekat.

🪷 🪷 🪷

Cahaya obor di dinding batu berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari melingkupi mereka bertiga. Garth merogoh kantong kulit di pinggangnya yang terkoyak, lalu menjatuhkan sebuah medali perunggu berukir logo naga melingkar tanpa mata ke atas lantai basah.

"Apakah ukiran itu tampak asing bagimu, Arya?" tanya Garth seraya menunjuk medali yang tergeletak di antara mereka.

Arya melirik sebentar ke arah benda itu, matanya melebar seketika saat mengenali garis pahatan pada logam purba tersebut. "Simbol ini... ini adalah Segel Kerajaan Langit yang sudah punah lima abad lalu."

"Itu tidak mungkin," potong Kirana tanpa menurunkan pandangan dari musuhnya. "Kerajaan Langit hancur dalam Perang Besar. Tidak ada bangsawan atau keturunan yang tersisa dari era itu."

"Sejarah selalu ditulis oleh para pemenang yang bohong, Gadis Kecil," sahut Garth dengan nada mengejek. "Mereka membuang nama 'Sang Tuan' dari catatan sejarah karena mereka takut pada bayangannya sendiri."

"Jadi kau bekerja untuk seorang hantu?" tanya Arya, suaranya dipenuhi ketidakpercayaan. "Kau mengorbankan ribuan nyawa pasukanku hanya demi mitos masa lalu?"

"Dia bukan hantu, Arya!" bentak Garth, suara beratnya bergema hebat menembus dinding-dinding lorong yang retak. "Dia hidup! Dia berada di antara kalian, bernapas di udara yang sama, menyaksikan setiap langkah bodoh yang kalian ambil sejak awal perjalanan ini!"

"Apa maksudmu berada di antara kami?" desak Kirana, matanya bergerak gelisah menatap kegelapan di luar celah benteng. "Jangan mencoba memecah belah kami dengan omong kosongmu!"

"Aku tidak perlu memecah belah kalian," balas Garth, wajahnya mengukir senyum miring yang penuh keputusasaan. "Kalian sendiri yang berjalan masuk ke dalam perangkapnya dengan suka cita. Setiap kemenangan kecil yang kalian peroleh... semuanya adalah bagian dari rencananya."

"Katakan siapa dia!" teriak Arya seraya menerjang maju, menempelkan mata pedangnya yang dingin tepat di kulit leher Garth. "Sebutkan namanya sekarang juga, Garth!"

"Nama?" Garth menatap langsung ke dalam mata Arya tanpa rasa takut sedikit pun. "Nama aslinya telah dihapus dari dunia ini. Namun kalian mengenalnya dengan sebutan lain... sebutan yang sangat amat kalian hormati."

"Siapa?" desak Arya lagi, jemarinya mengepal erat pada hulu pedang hingga buku-buku jarinya memutih.

"Sang Penjaga Segel Utama," bisik Garth lirih. "Sosok yang mengirim kalian ke benteng ini... dialah 'Sang Tuan' yang sebenarnya."

🪷 🪷 🪷

Kata-kata Garth terpental di udara seperti gumpalan es yang membekukan darah Arya dan Kirana secara seketika. Lorong benteng meredup, hanya diselimuti suara derak kayu terbakar dari kejauhan.

"Tetua Seraph?" suara Kirana bergetar, jari tangannya melonggar di tali busur hingga panahnya hampir merosot. "Kau bohong! Tetua Seraph adalah orang yang membesarkan kami! Dia yang memimpin Dewan Pelindung!"

"Bohong?" Garth tertawa sumbang, menggelengkan kepalanya pelan. "Siapa lagi yang tahu jalur rahasia melewati Pegunungan Hitam? Siapa yang memberi kalian peta rahasia Gua Teratai? Apakah kalian pikir racun di danau itu muncul dengan sendirinya tanpa bantuan dari dalam?"

"Cukup, Garth!" potong Arya dengan amarah yang meluap, memajukan pedangnya hingga setetes darah segar mengalir dari leher musuhnya. "Kau berusaha memfitnah Pemimpin Dewan agar kami kehilangan arah!"

"Lihatlah dirimu, Arya," cibir Garth, matanya memancarkan rasa kasihan yang ganjil. "Kau begitu buta oleh rasa hormat hingga tidak melihat serigala yang berpakaian jubah putih di hadapanmu. Mengapa kau pikir dia membiarkan pasukan bawah tanah menembus benteng ini tanpa perlawanan?"

"Dia sedang mengumpulkan pasukan di Ibukota!" seru Kirana meyakinkan dirinya sendiri. "Dia berjanji akan menyusul kita dengan armada utama!"

"Armada utama tidak akan pernah datang, Gadis Pemburu," sahut Garth dingin. "Armada itu tidak pernah disiapkan untuk menyelamatkan benteng ini. Armada itu disiapkan untuk meratakan Ibukota begitu kalian menyerahkan kunci segel kepadanya."

Arya melangkah mundur satu tapak, matanya menatap kosong ke lantai batu yang tergenang darah. Kenangan masa lalu berputar cepat di benaknya: senyuman Tetua Seraph saat menyerahkan pedang perak ini, nasihat-nasihatnya yang lembut, serta permintaannya agar Arya mencari Inti Danau tanpa melibatkan pengawal kerajaan yang lain.

Lihat selengkapnya