Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #59

PENYIAPAN PASUKAN ALIANSI

Riak air yang tadinya tenang mendadak bergetar hebat ketika segel gaib di dasar Danau Teratai Tujuh Misteri mulai retak. Dari kedalaman air, membumbung tinggi kabut hitam pekat yang bergulung membentuk wujud raksasa bermata merah membara. Meraungkan racun ketakutan dan membangkitkan gelombang raksasa, ancaman besar itu akhirnya menampakkan diri. Kebangkitan legiun kegelapan tak lagi bisa diredam hanya dengan pertahanan lokal.

"Kita tidak bisa menghadapi kehancuran seluas ini sendirian," ucap Bara Al-Mustafa seraya menancapkan pedangnya ke tanah balai kota. Matanya menatap tajam ke arah peta wilayah barat yang terbentang di atas meja batu.

"Apa rencana mu, Bara?" tanya Laras Al-Humaira sembari memperketat genggaman pada busur kayu cendananya. "Kota-kota tetangga memiliki kebanggaan dan kepentingan mereka sendiri. Meminta bantuan mereka bukan perkara mudah."

"Benar kata Laras," sela Fajar Nur-Zaman, jemarinya lincah membuka gulungan peta perak. "Kota Sinar Gemilang di utara, Benteng Lembah Cadas di barat, dan Pelabuhan Angin Timur di selatan. Ketiganya memiliki armada tempur yang sangat kita butuhkan, tetapi hubungan diplomasi kita tidak sedang dalam kondisi terbaik."

"Maka kita buat mereka sadar," Banyu Al-Fatih menimpali dengan nada berat. Ia menegakkan perisai intannya yang memancarkan pendar redup. "Jika Danau Teratai jatuh sepenuhnya, wilayah mereka adalah target berikutnya. Ini bukan lagi soal gengsi, melainkan kelangsungan hidup."

Mega Nur-Aisyah melangkah mendekat, mengusap kristal pelindungnya yang bergetar. "Aku merasakan gelombang ketakutan merayap dari perbatasan. Rakyat di kota-kota tetangga sudah mendengar raungan dari danau. Jiwa mereka terguncang."

"Itu adalah celah sekaligus peluang kita," ujar Samudra At-Thahira dingin, mengetukkan tongkat airnya ke lantai. "Ketakutan akan memaksa para penguasa mereka untuk mendengarkan, atau mereka akan hancur satu per satu dalam isolasi."

"Zahra, Embun, persiapkan perbekalan pemulihan!" perintah Bara berbalik menatap seluruh anggotanya. "Bayu dan Guntur, kalian siapkan pasukan pengawal elit. Hari ini juga, kita berangkat menggalang Aliansi Tiga Kota!"

"Dua belas jiwa, satu tujuan!" seru Zahra Mentari penuh semangat, melompat kecil sambil memercikkan bola cahaya hangat ke udara untuk mencairkan ketegangan.

"Siapkan kudamu, Guntur," bisik Bayu Al-Asad dengan seringai tipis. "Perjalanan ini akan menjadi balapan menembus waktu."

"Kuda? Kapak kembarku sudah menagih darah musuh, Bayu!" balas Guntur Al-Ghazi seraya menyilangkan dua kapak berpetirnya.

Dengan kesepakatan bulat, ke-12 pahlawan mengikrarkan pembentukan aliansi terbesar yang pernah dicatat dalam sejarah lembah tersebut.

🪷 🪷 🪷

Perjalanan diplomasi marathon dimulai saat rombongan Bara tiba di gerbang besi Benteng Lembah Cadas. Komandan Garrick, pemimpin legiun perisai baja yang terkenal keras kepala, berdiri di atas dinding benteng dengan tatapan dingin, menatap deretan ksatria Danau Teratai.

"Aku tidak punya prajurit untuk dibuang di rawa beracunmu, Bara Al-Mustafa!" teriak Garrick dari atas benteng, suaranya menggelegar menembus deru angin malam. "Lembah Cadas memiliki pertahanan sendiri yang tak tertembus!"

"Keangkuhanmu akan menjadi kuburan bagi rakyatmu sendiri, Komandan!" balas Bara, suaranya lantang penuh wibawa tanpa ketakutan. "Kabut hitam di Danau Teratai bukan sekadar monster liar, itu adalah pasukan pelopor kegelapan!"

"Kami punya dinding batu tebal sepuluh meter!" potong Garrick keras. "Sihir kabutmu tidak akan sanggup menembus gerbang baja kami!"

Laras melangkah ke depan, menarik tali busur kayu cendananya tanpa anak panah fisik. Pendar keemasan merekah saat tiga anak panah energi murni terwujud di jemarinya. SWOOSH! Panah cahaya itu melesat membelah udara dan menancap tepat di puncak bendera benteng, membakar simbol kebanggaan Garrick menjadi abu emas.

"Peringatan yang bagus, Laras," gumam Guntur seraya tertawa terkekeh di samping Banyu.

"Dinding batumu tidak ada artinya jika musuh menyerang dari dalam tanah dan meracuni sumber airmu, Garrick!" teriak Laras dengan mata berkilat teguh. "Lihatlah langit di utara! Apakah itu warna langit yang aman bagimu?"

Garrick mendongak, menyaksikan gumpalan awan merah darah yang mulai menggerogoti cakrawala Lembah Cadas. Wajah kerasnya perlahan memucat saat menyadari kebenaran ucapan para utusan.

"Komandan!" Fajar membeberkan peta pusaka berupa gulungan angin yang memancarkan proyeksi ilusi pergerakan musuh di udara. "Lihat garis merah ini! Legiun kegelapan sedang mengepung lembahmu dari jalur bawah tanah. Jika kau tidak bergabung dengan aliansi sekarang, besok subuh bentengmu tinggal kenangan!"

"Sialan..." umpat Garrick melepaskan helm bajanya. Ia menatap para prajuritnya yang mulai kasak-kusuk ketakutan. "Apa jaminanmu jika aku mengirim setengah pasukanku ke danau?"

"Jaminannya adalah perisai intanku dan pedang perak Bara!" Banyu Al-Fatih melangkah maju, menghantamkan perisainya ke tanah hingga menggetarkan gerbang benteng. "Kami berdiri di garis paling depan, Garrick! Kami tidak meminta pasukanku mati untuk kami, kami mengajak kalian bertarung bersama kami!"

Garrick diam seribu bahasa selama beberapa detik yang menegangkan, sebelum akhirnya mengacungkan tangannya ke udara. "Buka gerbang! Siapkan lima ratus prajurit berat Lembah Cadas!"

🪷 🪷 🪷

Penggalangan kekuatan berlanjut ke Kota Sinar Gemilang, tempat di mana para penyihir dan pemanah elit berkumpul di bawah naungan Cendekiawan Elian. Namun, kedatangan mereka disambut oleh keraguan para tetua kota yang enggan terlibat dalam pertempuran terbuka.

"Sihir kami adalah untuk melindungi perpustakaan dan artefak kuno, bukan untuk perang kasar di danau beracun," ujar Elian dingin saat menerima rombongan di aula kristal.

"Artefakmu akan menjadi mainan pasukan kegelapan jika fondasi lembah ini hancur, Elian!" tegas Samudra At-Thahira sambil menghentakkan tongkat airnya ke lantai kristal, memercikkan gelombang pembersih yang menelanjangi ilusi ketakutan di hati para tetua.

"Lihatlah ini," Mega Nur-Aisyah melangkah maju, melantunkan mantra pelindung yang menyelimuti seluruh ruangan dengan aura sejuk penenteram jiwa. "Intimidasi gaib telah meracuni pikiran kalian. Kalian bukan enggan bertarung, kalian sedang diselimuti racun ketakutan!"

"Mantra ini... begitu murni," gumam Elian, matanya terbelalak saat aura gelap yang menyelimuti benaknya mendadak buyar. "Bagaimana mungkin sihir kegelapan sudah menyusup sampai ke aula ini tanpa kita sadari?"

"Karena kalian mengurung diri dalam menara gading!" cetus Bayu Al-Asad yang baru saja mendarat di jendela aula setelah menebarkan suar cahaya di delapan penjuru kota. "Pasukan bayangan sudah merayap di pinggiran kotamu, Elian!"

"Apakah itu benar, Bayu?" tanya Embun Al-Khansa memastikan.

"Sangat benar. Jika Zahra tidak membakar sisa kegelapan di gerbang selatan tadi, kota ini sudah terkepung dari tadi," jawab Bayu cepat.

Zahra Mentari tertawa riang sambil memutar-mutar bola cahaya di tangannya. "Yup! Kembang api cahayaku berhasil membuat mereka lari tunggang-langgang! Tapi jumlah mereka makin banyak, tahu!"

Elian menatap para tetua yang kini mengangguk setuju. "Baiklah. Penyihir Sinar Gemilang akan meminjamkan sihir elemen kami. Tapi siapa yang akan memimpin komando gabungan ini?"

Lihat selengkapnya