Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #61

MENEMBUS KABUT HITAM

Langkah kaki Bara Al-Mustafa terhenti tepat di tepi jurang batu yang menghadap ke Lembah Tujuh Misteri. Angin dingin berembus kencang membawa kabut hitam pekat yang berbau amis darah dan belerang. Wilayah yang dahulu menjadi tempat perlindungan nan asri kini berubah menjadi hamparan tanah mati yang mengerang dalam penderitaan. Di sisinya, Laras Al-Humaira memegang busur kayu cendananya dengan jemari yang gemetar tipis.

"Atmosfer tempat ini benar-benar telah rusak, Bara," bisik Laras dengan nada prihatin seraya menatap lautan kegelapan di bawah sana.

"Ini bukan lagi Danau Tujuh Misteri yang kita kenal, Laras," sahut Bara Al-Mustafa seraya meraba hulu pedang peraknya. "Racun Istana Pusat telah meresap sampai ke akar tanah ini."

Fajar Nur-Zaman melangkah mendekat, memegangi dadanya yang masih terasa nyeri. "Prasasti kuno mencatat bahwa jika jantung danau terus meratap, seluruh wilayah perbatasan akan runtuh dalam hitungan hari."

"Apakah kita benar-benar harus menerobos kabut hitam pekat ini, Fajar?" tanya Banyu Al-Fatih seraya mengetuk-ngetuk perisai intannya yang penuh goresan.

"Kita tidak punya pilihan lain, Banyu," potong Guntur Al-Ghazi seraya menggeledak sepasang kapak kembarnya. "Makin lama kita ragu di sini, makin kuat cengkeraman musuh atas tempat ini!"

"Guntur benar," sela Bayu Al-Asad yang baru mendarat dari pengintaian udara. "Namun udara di dalam sana sangat beracun. Pusaran angin gelap bergerak tanpa pola dan siap merobek siapa saja."

"Mega, Embun, apakah ramuan penawar kita cukup untuk semua orang?" tanya Laras seraya menoleh ke belakang.

Mega Nur-Aisyah mengangguk pelan seraya membagikan botol-botol kecil berisi cairan hijau muda. "Ini akan menahan racun kabut selama tiga jam, Nona Laras."

"Gunakan ramuan itu sekarang," perintah Bara dengan tatapan tajam membakar. "Ingat, tujuan utama kita adalah menembus jantung danau dan menghentikan ratapan misteri tersebut."

"Kami siap, Pemimpin!" seru seluruh ksatria terbuang secara bersamaan.

"Rapatkan barisan dan jangan pernah terpisah satu sama lain!" seru Bara seraya melompat menuruni jurang, memimpin rombongan menerobos dinding kabut hitam yang pekat.

🪷 🪷 🪷

Kegelapan gulita langsung menyergap saat sepuluh ksatria terbuang menjejakkan kaki di tanah rawa Danau Tujuh Misteri. Kabut hitam yang tebal membuat jarak pandang tak lebih dari dua langkah. Suara jeritan gaib dan erangan pilu membentak telinga mereka dari segala arah, menciptakan bayangan-bayangan ilusi yang mencoba merusak ketenangan batin.

"Suara ratapan ini... berasal langsung dari jiwa air danau yang tersiksa," desah Samudra At-Thahira seraya membuka lembaran bukunya yang terpancar redup.

"Pertahankan fokus pikiran kalian!" teriak Bara Al-Mustafa seraya memutarkan pedang peraknya untuk memotong kabut. "Jangan biarkan suara ilusi itu menguasai kesadaran kalian!"

"Bara! Ada gelombang energi aneh meluncur dari arah timur!" jerit Zahra Mentari seraya menunjuk ke dalam kegelapan.

Swoosh! Swoosh! Swoosh!

Dari balik kabut pekat, puluhan rantai hitam berduri meluncur secepat kilat, mengincar leher dan dada para ksatria!

"Perisai Intan Raksasa!" raung Banyu Al-Fatih seraya menghentakkan perisainya ke tanah basah!

CRASH!

Benturan keras meretakkan tanah rawa tempat mereka berdiri. Rantai-rantai berduri itu memantul keras dihantam dinding kristal Banyu, namun jumlahnya justru makin bertambah banyak.

"Siapa yang berani mengusik ketenangan ritual kematian ini?!" tawa melengking memecah keheningan kabut.

Dari udara kegelapan, muncul sesosok pria berzirah tulang hitam yang membawa sabit raksasa—Panglima Ksatria Kabut, Morvath sang Pembantai!

"Morvath..." gumam Fajar Nur-Zaman dengan mata membelalak. "Dia adalah pembunuh berdarah dingin yang dikirim Istana Pusat untuk memurnikan tempat ini dengan kematian!"

"Hahaha! Cendekiawan lemah!" ejek Morvath seraya memutar sabitnya hingga memercikkan api merah. "Danau ini sudah menjadi milik Istana Pusat! Kalian kembali hanya untuk menyerahkan nyawa!"

"Danau ini adalah rumah kami, Morvath!" bentak Laras Al-Humaira seraya melepaskan tiga anak panah cahaya emas tepat ke arah mata Morvath!

Morvath mengibaskan sabitnya, menghancurkan anak panah Laras menjadi debu. "Rumah? Tempat ini akan menjadi kuburan massal bagi kalian semua!"

🪷 🪷 🪷

Pertempuran sengit meletus di tengah hamparan tanah rawa yang beracun. Morvath mengayunkan sabit raksasanya, memuntahkan gelombang kabut pembunuh yang mengikis zirah dan pakaian para ksatria. Pasukan siluman bayangan bermunculan dari dasar tanah basah, mengurung sepuluh pendekar terbuang dalam lingkar kematun.

"Guntur! Bantu aku membendung sayap kanan!" teriak Banyu Al-Fatih seraya menahan tusukan lima siluman bayangan sekaligus.

"Rasakan petirku, Iblis-Iblis Laknat!" raung Guntur Al-Ghazi seraya menebaskan kapak kembarnya, menciptakan ledakan petir kebiruan yang menghancurkan barisan depan musuh!

Namun, makin banyak siluman yang mereka hancurkan, makin pekat kabut hitam yang menyelimuti area pertempuran. Efek ramuan penawar milik Mega dan Embun mulai pudar, membuat napas para ksatria mulai terasa sesak dan berat.

"Bara... racun kabut ini mulai meresap ke dalam aliran darahku," desah Bayu Al-Asad yang jatuh bertumpu pada satu lutut di tanah basah.

"Bayu!" Zahra Mentari berlari merangkul Bayu, menembakkan bola cahaya untuk menghancurkan siluman yang mengincar saudaranya.

"Mega! Embun! Berapa lama lagi ramuan itu bertahan?" panggil Laras Al-Humaira seraya terus melepaskan panah-panah cahaya untuk melindungi barisan tengah.

Lihat selengkapnya