Angin kencang berhembus dingin di tepi Danau Tujuh Misteri, menerbangkan dedaunan kering dan debu tanah yang kian membumbung tinggi. Di sepanjang garis pantai berbatu, dua belas ksatria bersama barisan pasukan aliansi berdiri tegap membentuk benteng pertahanan terakhir. Di seberang dataran lumpur, ribuan prajurit berzirah hitam milik Penguasa Teratai Hitam berbaris rapi dengan tombak dan perisai baja yang berkelebat maut.
"Mereka sudah mulai mengepung perimeter selatan!" seru Fajar Nur-Zaman sembari membuka gulungan anginnya yang kini berkilat hijau tajam.
"Jumlah mereka jauh lebih banyak daripada pertempuran di Lembah Tersembunyi," desis Laras Al-Humaira seraya menarik tali busur kayu cendananya, membidik kapten barisan depan musuh.
"Berapa banyak prajurit aliansi yang siap di garis depan, Fajar?" tanya Bara Al-Mustafa penuh penekanan, matanya menatap lurus ke arah kabut hitam di hadapan mereka.
"Sekitar lima ratus prajurit inti, Kapten!" sahut Fajar cepat. "Tapi energi sihir hitam musuh mulai menekan mental pasukan kita!"
"Jangan biarkan mereka gentar sedikit pun!" bentak Guntur Al-Ghazi seraya menghentakkan gagang kapak kemburnya ke tanah. BAM! Percikan petir biru meletup, memutus getaran sihir hitam di sekitarnya. "Siapa pun yang berani melangkah ke tepi danau ini akan kutebas menjadi dua!"
"Guntur, tahan emosimu!" tegur Banyu Al-Fatih yang berdiri di sebelahnya dengan perisai intan yang sudah bersiaga penuh. "Kita harus menjaga formasi rapat agar tidak menembus barisan belakang!"
Tiba-tiba, suara dentuman drum perang raksasa bergema dari dalam barisan musuh. DUM! DUM! DUM! Permukaan air Danau Tujuh Misteri bergetar hebat, memicu riak-riak gelombang yang memutih.
"Pasukan musuh bergerak maju!" jerit Zahra Mentari panik seraya mengangkat Cermin Surya Teratai tingi-tinggi. "Mereka melepas makhluk-makhluk rawa dari dalam air!"
Dari dasar danau yang tenang, muncul puluhan buaya berzirah besi dengan mata merah menyala. Makhluk-makhluk itu merayap naik ke tepi pantai, memuntahkan gelombang asam hitam yang merusak tanah dan vegetasi.
"Barisan depan, tahan posisi!" teriak Bara Al-Mustafa dengan suara menggelegar, mencabut pedang peraknya yang langsung memancarkan pendar putih murni. "Dua belas jiwa, satu tujuan! Lindungi Danau Tujuh Misteri!"
"Serang!" raung Panglima Teratai Hitam dari atas benteng batu gaib.
Gemuruh langkah kaki ribuan prajurit musuh dan lengkingan buaya rawa memecah keheningan tepi danau, menandai dimulainya pertempuran berskala besar yang menentukan nasib Nusantara.
🪷 🪷 🪷
Gelombang pertama serangan musuh menghantam garis pertahanan aliansi dengan benturan dahsyat yang menggetarkan bumi. Bau besi, asam, dan aroma sihir yang membakar menyelimuti udara pantai. Pasukan aliansi berjuang gigih menahan gempuran awal, memanfaatkan celah-celah berbatu untuk menyudutkan barisan depan musuh.
"Perisai Intan: Dinding Kerajaan!" jerit Banyu Al-Fatih, menancapkan kedua tangannya ke tanah basah.
Dinding kristal raksasa setinggi sepuluh meter mencuat dari bawah lumpur, menahan serbuan ratusan buaya rawa bersengat asam. Percikan asam membakar permukaan kristal, namun Banyu terus menyalurkan energi intannya tanpa henti.
"Serangan yang bagus, Banyu!" puji Bayu Al-Asad yang melesat mendarat di atas dinding kristal. "Kini giliran badai angin untuk membalas!"
Bayu mengibaskan pedang ganda anginnya, memutar pusaran angin topan yang menerbangkan puluhan prajurit berzirah hitam kembali ke dalam air danau. SWOOSH!
"Laras, arahkan panah cahayamu ke pemanah musuh di atas bukit!" perintah Samudra At-Thahira seraya memutar tongkat airnya untuk membentengi barisan penyembuh.
"Sudah terkunci!" balas Laras Al-Humaira mantap. Tiga anak panah bercahaya keemasan melesat dari busur cendananya, melintasi udara pantai dan menembus jantung para pemanah musuh di atas bukit batu secara bersamaan.
BOOM! BOOM! BOOM!
"Kerja bagus, Laras!" jerit Zahra Mentari riang. "Cermin Surya Teratai milikku sudah siap memantulkan pendar pemusnah racun!"
Zahra memutar cermin emasnya, menembakkan seberkas pendar surya yang membakar uap asam hitam di udara, mengembalikan kesegaran napas bagi prajurit aliansi yang sempat terengah-engah.
"Bara! Barisan sayap kanan mulai terdesak!" panggil Mega Nur-Aisyah dari garis belakang seraya membaca mantra perlindungan. "Pasukan berkuda hitam menerobos pertahanan Tombak Kayu!"
"Guntur, Embun, ikut aku ke sayap kanan!" tegas Bara Al-Mustafa, berlari melintasi lumpur pantai dengan kecepatan tinggi.
"Rasakan hantaman petirku!" jerit Guntur Al-Ghazi, melompat tinggi dan mengayunkan kapak kemburnya ke tengah-tengah pasukan berkuda hitam.
KABOOM!
Ledakan listrik biru pekat menghentakkan tanah, melontarkan belasan kuda hitam dan penunggangnya ke udara. Embun Al-Khansa segera menyusul, memercikkan embun penawar luka untuk memulihkan puluhan prajurit aliansi yang terluka parah.
"Terima kasih, Ksatria Embun!" teriak seorang kapten aliansi dengan napas memburu. "Tanpa kalian, barisan kami sudah runtuh!"
"Tetap dalam formasi!" balas Embun tersenyum hangat. "Kami akan selalu membentengi kalian dari belakang!"
🪷 🪷 🪷
Meskipun dua belas ksatria dan pasukan aliansi berhasil memukul mundur gelombang pertama, barisan musuh tidak menunjukkan tanda-tanda menyusut. Dari balik kabut hitam yang kian pekat di tengah danau, muncul armada kapal perang kayu hitam berpendar merah yang mengangkut ribuan prajurit tambahan beserta artileri sihir berat.
"Mereka membawa Meriam Giok Hitam!" teriak Fajar Nur-Zaman dengan dahi berpeluh, menunjuk ke arah kapal-kapal perang musuh. "Itu senjata pemusnah benteng!"
"Apakah perisaimu sanggup menahannya, Banyu?" tanya Samudra At-Thahira penuh kekhawatiran.
"Aku akan menahannya sampai batas kemampuan terakhirku!" jawab Banyu Al-Fatih tegas, meski tangannya mulai gemetar akibat menguras banyak mana.
BOOOM! BOOOM! BOOOM!
Tiga bola api giok hitam meledak dari artileri kapal perang musuh, meluncur deras melintasi angkasa dan menghantam langsung benteng kristal Banyu serta barisan pertahanan aliansi.