Angin berembus kencang menebarkan bau sengit mesiu dan darah di celah Lembah Tiga Tengkorak. Di atas bukit batu yang terjal dan gersang, pasukan ksatria terdesak hebat. Dentuman panah bermata baja berulang kali menghantam tanah, memutus laju barisan depan. Dari balik rimbun semak duri hitam di tebing tinggi, puluhan pemanah bayangan Orde Kegelapan terus melepas hujan anak panah beracun tanpa henti. Setiap detik yang berlalu mengikis pertahanan para ksatria yang mulai kelelahan.
"Tundukkan kepala kalian! Jangan ada yang menampakkan diri dari balik barikade!" teriak Bara Al-Mustafa seraya menancapkan pedang peraknya ke tanah, menahan tameng kayu yang sudah retak parah.
"Sialan! Hujan panah ini benar-benar tidak memberi kita celah untuk maju sedikit pun!" bentak Banyu Al-Fatih seraya mengusap darah kering di dahinya. "Dari mana asal tembakan presisi yang merusak barisan kita ini?!"
"Tembakan itu berasal dari Puncak Batu Hitam!" sahut Bayu Al-Asad yang merayap di dekat ceruk batu. Matanya melirik tajam ke arah tebing setinggi lima puluh meter di atas mereka. "Di sana ada penembak runduk legendaris musuh, Komandan Kestrel!"
"Kestrel?!" bisik Laras Al-Humaira terperanjat seraya mengintip dari celah perisai. "Pemanah berdarah dingin yang tidak pernah meleset dari jarak seribu langkah itu?!"
"Benar, Laras," jawab Bayu Al-Asad dengan napas teratur. "Setiap kali busurnya melengkung, satu nyawa pasukan kita pasti melayang."
"Bayu, apakah kau bisa menghentikan bajingan itu sebelum dia menghabisi seluruh barisan belakang kita?!" tanya Bara Al-Mustafa menatap serius ke arah sang ksatria angin.
"Jika aku tidak melumpuhkannya sekarang, kita semua hanya akan menjadi sasaran empuk di lembah mati ini, Bara," tegas Bayu Al-Asad seraya menarik Busur Angin Bayu dari punggungnya.
"Hati-hati, Bayu! Kestrel membubuhi racun kelumpuhan abadi di setiap ujung anak panahnya!" peringat Embun Al-Khansa seraya menyerahkan ramuan penguat penglihatan.
"Racunnya tidak akan menyentuh kulitku jika angin berpihak padaku hari ini," sahut Bayu Al-Asad mantap.
"Aku akan memberikan tembakan pengalih perhatian dari sini!" seru Zahra Mentari seraya membidikkan busurnya ke arah lereng bawah.
"Terima kasih, Zahra. Tetaplah berada di zona aman!" balas Bayu.
Dengan gerakan sehalus daun jatuh, Bayu Al-Asad melompat keluar dari balik barikade batu. Ia meluncur cepat menerobos badai angin lembah, melintasi terjalnya tebing batu untuk memburu sang pemanah bayangan.
🪷 🪷 🪷
Langkah kaki Bayu Al-Asad bergerak sangat ringan menapaki dinding batu yang hampir tegak lurus. Penguasaan sihir elemen angin membuat tubuhnya seolah tidak memiliki bobot saat melompati retakan-retakan tebing yang membahayakan. Namun, udara di sekitar Puncak Batu Hitam mendadak bergetar hebat ketika sebuah siulan melengking membelah hembusan angin malam.
SHIIIUT!
Anak panah bermata tiga menyambar tepat di samping telinga Bayu, memotong beberapa helai rambutnya sebelum menancap dalam di dinding cadas. Gesekan anak panah itu memicu percikan api yang membakar batu hitam di sekelilingnya.
"Refleks yang sangat mengagumkan, Bocah Angin!" suara parau bergema dari balik pepohonan kering di puncak tebing.
"Langkahmu sudah tertebak dari jauh, Kestrel!" teriak Bayu Al-Asad seraya bertengger stabil di atas ranting pohon mati yang mencuat dari tebing.
"Kau pikir sihir angin konyolmu bisa menandingi kecepatan panah beracun milikku?!" ejek Kestrel seraya menampakkan diri di atas puncak batu, berdiri anggun dengan busur raksasa berwarna hitam legam.
"Panahmu digerakkan oleh kebencian, sedangkan panahku dipandu oleh kebebasan angin!" balas Bayu Al-Asad seraya menarik tali Busur Angin Bayu hingga melengkung sempurna.
"Bicara besar!" bentak Kestrel seraya melepaskan tiga anak panah sekaligus dalam satu hentakan tali busur. "Seni Panah Bayangan: Tiga Bayang Maut!"
Tiga anak panah beracun itu meluncur membakar udara, berputar membentuk gelombang kegelapan yang mengincar dada, leher, dan tumpuan kaki Bayu secara bersamaan.
"Tebasan Angin Topan!" seru Bayu Al-Asad seraya mengibaskan busurnya mendatar.
Gelombang udara bertekanan tinggi meledak dari busur Bayu, membelah laju tiga anak panah musuh hingga hancur menjadi serpihan kayu dan besi. Namun, dampak ledakan udara tersebut mematahkan ranting tempat Bayu bertengger, memaksanya melompat bebas di udara tanpa tumpuan.
"Di udara kau tidak punya pijakan, Bayu!" seru Kestrel dengan tawa kemenangan seraya membidikkan anak panah keempat tepat ke jantung Bayu yang melayang.
"Di mana ada udara, di situ ada pijakanku!" sahut Bayu Al-Asad dengan tenang.
Menggunakan sihir pusaran angin mini di bawah telapak kakinya, Bayu melakukan pijakan ganda di udara kosong. Ia meluncur melintasi garis tembak Kestrel, mendarat dengan mulus di pelataran batu puncak tebing hanya berjarak dua puluh langkah dari sang musuh.
"Sekarang pertempuran sejati baru saja dimulai, Kestrel!" pangkas Bayu Al-Asad dengan mata menyala terang.
🪷 🪷 🪷
Angin Puncak Batu Hitam berembus semakin kencang, membawa aura hening yang mencekam di antara dua pemanah ulung tersebut. Kestrel menggeser posisi kakinya perlahan, menatap Bayu Al-Asad dengan pandangan penuh kewaspadaan. Ia menyadarkan diri bahwa anak muda di hadapannya bukanlah lawan sembarangan yang bisa ditundukkan hanya dengan trik tembakan standar.
"Kau memiliki mata penembak yang tajam, Anak Muda," puji Kestrel seraya merogoh kantong panah khusus di pinggangnya. "Tapi bertarung di puncaknya angin adalah wilayah kekuasaanku selama puluhan tahun."
"Pengalamanmu telah terkontaminasi oleh kejahatan Orde Kegelapan, Kestrel," sahut Bayu Al-Asad seraya memasang anak panah berbulu perak di tali busurnya. "Kecepatanmu tidak lagi murni."
"Akan kulihat sejauh mana kemurnianmu bertahan saat racun ini menembus jantungmu!" raung Kestrel seraya menarik busurnya dengan sekuat tenaga.