Langit di atas dataran gersang bergemuruh hebat, memancarkan kilatan cahaya kehitaman yang membakar udara sore. Rombongan ksatria terbuang terjebak di lembah batu sempit tanpa ada celah untuk melarikan diri. Dari puncak tebing, ribuan prajurit Istana Pusat menyiagakan meriam sihir berat dan artefak penghancur jiwa yang mengarah lurus ke posisi mereka.
Bara Al-Mustafa menggenggam erat hulu pedangnya, berdiri memimpin di barisan paling depan. Di sisinya, Laras Al-Humaira menarik tali busur cendananya seraya mengawasi pergerakan energi jahat yang kian memadat di udara.
"Kadar sihir di atas sana terlalu pekat, Bara!" ujar Laras dengan suara bergetar pelan. "Mereka telah memadatkan energi elemen berat untuk meratakan seluruh lembah ini!"
Bara menoleh ke sekeliling, menatap wajah-wajah saudaranya yang mulai kelelahan. "Kita tidak boleh mundur, Laras. Jika barisan kita terpecah di lembah ini, kita hanya akan menjadi sasaran empuk bagi tembakan mereka."
"Bara benar," sela Banyu Al-Fatih yang melangkah maju melewati Bara. Ia mengangkat perisai intannya yang besar, menancapkan bagian bawahnya ke tanah cadas. "Serangan artefak berat seperti itu bukan tandingan pedang atau panah biasa. Biarkan aku yang berdiri paling depan."
"Apakah kau yakin sanggup menahannya sendirian, Banyu?" tanya Guntur Al-Ghazi penuh rasa cemas seraya memegang kapak kembarnya. "Tembakan meriam sihir Istana Pusat sanggup meremukkan gunung batu dalam sekali tembak!"
"Perisaimu memang kuat, Banyu, tapi intensitas sihir mereka kali ini berbeda," tambah Fajar Nur-Zaman seraya mengamati pendar merah gelap di puncak tebing. "Itu adalah Sihir Pemutus Jiwa."
Banyu menyunggingkan senyum tipis, menatap Fajar dan Guntur dengan pandangan mata yang sangat mantap. "Selama air di dalam jiwaku masih mengalir, perisai ini tidak akan pernah membiarkan satu pun serpihan sihir menyentuh kalian."
"Banyu," panggil Laras seraya menyentuh bahunya. "Jangan memaksakan diri jika batas energimu sudah tercapai."
"Percayalah padaku, Nona Laras," sahut Banyu tenang. "Ini adalah tugasku sebagai benteng kalian semua."
Bara mengangguk perlahan, meletakkan tangannya di pundak Banyu. "Kami menyatukan tenaga di belakangmu, Banyu. Pertahankan garis ini!"
"Tembak!" jerit suara penglima musuh dari atas tebing, menggelegar membelah keheningan.
Seketika itu juga, ratusan bola cahaya sihir hitam kemerahan meluncur deras dari puncak tebing, menyambar turun bagaikan hujan meteor yang hendak meremukkan tanah lembah!
🪷 🪷 🪷
Ledakan pertama menghantam permukaan lembah dengan suara gemuruh yang meretakkan batuan cadas. Gelombang panas dan tekanan udara beracun membumbung tinggi, mengancam akan melumat apa saja di sekitarnya. Namun, sebelum kehancuran itu menyentuh rombongan, Banyu Al-Fatih menghentakkan kaki kanannya ke tanah, memanggil aliran air purba dari kedalaman bumi.
"Perisai Tirta Intan: Tirai Samudra Abadi!" teriak Banyu dengan suara menggelegar.
Gelombang air jernih berkilauan membumbung tinggi dari sekeliling perisainya, membeku membentuk kubah intan air yang melapisi seluruh anggota kelompok. Tembakan sihir berat yang datang beruntun menghantam kubah air tersebut, menimbulkan benturan dahsyat yang memercikkan uap panas ke angkasa.
BANG! BANG! BANG!
"Tahan posisimu, Banyu!" seru Guntur Al-Ghazi seraya menopang punggung Banyu dengan telapak tangannya, menyalurkan sedikit dorongan fisik.
"Tekanan sihir mereka sangat padat, Guntur!" ujar Banyu seraya menggerakkan jemarinya untuk mempertebal lapisan kristal airnya. "Mereka tidak hanya menggunakan api, tapi juga sihir gravitasi berat!"
"Banyu, pusatkan auramu pada titik puncak kubah!" panggil Fajar Nur-Zaman seraya membaca pergerakan energi musuh. "Mereka mengarahkan gempuran terbesar tepat di atas kepalamu!"
"Diterima, Fajar!" balas Banyu tegas. Ia menggeram pelan, mengalirkan seluruh energi spiritualnya ke dalam perisai, membuat kubah airnya berputar lebih cepat untuk mengikis daya hancur tembakan musuh.
Di balik perlindungan Banyu, Bara Al-Mustafa dan Laras Al-Humaira tetap bersiap. Laras mengawasi setiap retakan kecil pada kubah air dengan cemas.
"Banyu menyerap terlalu banyak dampak benturan, Bara," bisik Laras seraya menggenggam lengan Bara. "Getaran sihir itu meresap ke dalam pembuluh darahnya."
"Aku tahu, Laras," sahut Bara dengan mata menajam. "Kita harus mencari celah untuk membalas, tapi saat ini Banyu adalah satu-satunya alasan kita masih bernapas."
"Banyu!" teriak Mega Nur-Aisyah dari barisan belakang. "Air di dalam perisaimu mulai tercemar oleh racun sihir hitam!"
"Jangan hiraukan racunnya, Mega!" sahut Banyu seraya memuntahkan sedikit darah dari sudut bibirnya. "Fokuslah menyembuhkan yang lain! Aku masih bisa menahannya!"
"Jangan konyol, Banyu!" potong Bayu Al-Asad seraya melayang rendah. "Jika kau terus menelan efek balik sihir itu, jantungmu bisa berhenti!"
"Aku tidak konyol, Bayu!" tegas Banyu seraya menatap kawan-kawannya. "Ini adalah satu-satunya cara agar kita semua selamat dari jebakan ini!"
🪷 🪷 🪷
Gempuran sihir berat dari puncak tebing makin menjadi-jadi. Panglima musuh tampaknya menyadari bahwa ada benteng kokoh yang menahan serangan mereka, sehingga mereka memusatkan seluruh daya tempur meriam sihir ke satu titik fokus di mana Banyu Al-Fatih berdiri. Warna kubah air yang tadinya jernih kini mulai berubah menjadi keunguan akibat terkontaminasi oleh racun sihir hitam.
"Hahaha! Lihat benteng bodoh itu!" tawa panglima musuh menggema dari atas tebing. "Mari kita lihat berapa lama air murahanmu itu sanggup menahan Sihir Pemutus Jiwa kami!"
Dua meriam raksasa di puncak tebing menyala terang, mengumpulkan energi merah pekat yang membentuk bola sihir berdiameter lima meter. Cahaya itu begitu menyilaukan, membuat tanah lembah bergetar hebat sebelum tembakan dilancarkan.
"Banyu! Tembakan utama mereka datang!" jerit Zahra Mentari seraya menutupi matanya dari kesilauan energi musuh.
"Banyu, mundur satu langkah! Biarkan aku menahannya bersama kapakku!" seru Guntur Al-Ghazi seraya bersiap melompat ke depan.
"Jangan bergerak, Guntur!" bentak Banyu dengan napas memburu. "Jika kau keluar dari kubah, sihir gravitasi mereka akan meremukkan tulang-tulangmu seketika!"
"Tapi kau sudah mencapai batasmu, Banyu!" balas Guntur dengan mata merah menahan amarah dan kekhawatiran.
"Aku belum selesai!" teriak Banyu. Ia menancapkan kedua tangannya langsung ke dalam kristal air perisainya, mengalirkan darah jiwanya sendiri untuk memperkuat struktur pertahanan.