Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #65

TEROBOSAN BARA DAN LARAS

Angin malam berdesir dingin di atas permukaan Danau Tujuh Misteri, mengoyak kabut tipis yang menyelimuti ribuan kelopak bunga teratai. Di tengah danau, di atas selembar daun teratai raksasa yang mengapung kokoh, berdiri seorang pemuda bernama Bara Al-Mustafa. Dengan tubuh tegak, jubah putih yang berkibar, dan sebilah pedang perak di pinggangnya, Bara menatap jauh ke cakrawala, menanti takdir besar yang siap menguji keberaniannya.

Bara tidak berjuang sendirian. Di sisinya, hadir Laras Al-Humaira, seorang perempuan berjiwa tangguh yang menjadi pelita sekaligus penyeimbang dalam setiap pertempuran. Perjalanan mereka mengarungi marabahaya didampingi oleh rekan-rekan setia: Banyu Al-Fatih, Guntur Al-Ghazi, Fajar Nur-Zaman, Bayu Al-Asad, Mega Nur-Aisyah, Embun Al-Khansa, Samudra At-Thahira, dan Zahra Mentari.

"Laras, apakah kau merasakan getaran aneh di bawah air ini?" tanya Bara seraya memegang hulu pedangnya.

"Ya, Bara. Dasar danau ini seperti bergolak. Sesuatu sedang memaksa naik ke permukaan," jawab Laras seraya merentangkan busur keperakannya dengan tatapan waspada.

Tiba-tiba, permukaan air danau terbelah secara brutal. Sebuah ledakan energi pekat berwarna ungu kehitaman membumbung tinggi, meremukkan ratusan bunga teratai di sekeliling mereka. Dari dalam pusaran air yang bergolak itu, bermunculan puluhan bayangan makhluk berwujud prajurit tirta bercangkang keras dengan mata menyala merah.

"Mereka datang! Ini bukan sekadar gangguan biasa!" seru Banyu seraya mencabut pedang besarnya.

"Tahan posisi kalian! Jangan biarkan mereka membelah formasi kita!" panggil Guntur, menghentakkan perisai bajanya ke permukaan daun teratai hingga menciptakan gelombang kejut pelindung.

"Insiden ini... ini adalah pemicu segel raksasa yang melingkupi pusat danau!" teriak Samudra dari garis belakang, matanya menatap prasasti cahaya yang mendadak muncul di udara. "Seseorang telah meretas pilar pelindung kuno Danau Tujuh Misteri!"

"Jika segel itu pecah sepenuhnya, seluruh wilayah danau ini akan tenggelam dalam energi kegelapan!" tambah Zahra dengan nada cemas, menggenggam kristal pendar di dadanya.

"Bara, Laras! Kalian harus merangsek ke pusat danau sekarang juga!" perintah Fajar dengan cepat, membaca pergerakan angin malam yang kian kacau. "Hanya kekuatan gabungan kalian yang bisa menembus inti badai ini!"

"Tapi bagaimana dengan kalian semua?" tanya Laras penuh kekhawatiran, menatap kepungan prajurit tirta yang kian rapat.

"Jangan cemaskan kami! Fajar dan aku akan mengatur jalur udara untuk kalian!" balas Bayu seraya mengibaskan tangannya, memicu pusaran angin kencang yang menebas barisan depan musuh.

"Pergilah! Kami akan menjadi benteng yang tak terkalahkan di sini!" seru Banyu dan Guntur bersamaan, menerjang gempuran musuh dengan semangat membara.

"Iya, Bara, Laras, cepat bergerak! Kami jaga garis belakang ini!" sambung Mega dan Embun, mempersiapkan sihir pemulihan untuk melapis benteng pertahanan rekan-rekan mereka.

Bara menatap Laras dan mengangguk mantap. "Tidak ada waktu lagi, Laras. Ayo kita terobos pusat danau ini sekarang!"

"Mari kita selesaikan ini bersama, Bara!" sahut Laras penuh keyakinan.

🪷 🪷 🪷

Dengan dorongan angin dari Bayu dan Fajar, Bara dan Laras melompat tinggi melintasi barisan prajurit tirta. Pijakan demi pijakan di atas daun teratai yang mengapung menjadi tumpuan langkah mereka yang amat cepat. Namun, semakin mendekati pusat danau, tekanan udara terasa kian berat, seolah-olah atmosfer di sekeliling mereka berubah menjadi cairan kental yang menekan dada.

"Tekanan sihir ini sungguh luar biasa, Bara!" seru Laras, napasnya mulai terengah-engah saat mengimbangi kecepatan lari Bara.

"Tetap di belakangku, Laras! Aku akan membelah jalannya!" balas Bara seraya menarik pedang peraknya dari sarung.

Seketika, kilatan cahaya perak menyelimuti bilah pedang Bara. Ia mengibaskan pedangnya ke udara, menciptakan tebasan gelombang cahaya yang menghancurkan barikade ombak hitam di hadapan mereka. Namun, dari dasar air yang pekat, muncul dua ekor naga air raksasa bersisik hitam yang mengaung dahsyat, menutupi akses menuju inti danau.

"Pencuri! Kalian tidak boleh melintasi batas suci ini!" gaung suara gaib dari mulut naga air tersebut, menggetarkan gendang telinga.

"Kami bukan pencuri! Kami datang untuk memulihkan keseimbangan!" teriak Laras menanggapi ancaman naga tersebut.

"Bicara tanpa kekuatan adalah kesia-siaan di tempat ini!" balas naga air itu seraya menyemburkan gelombang es hitam berkadar racun tinggi ke arah mereka berdua.

"Laras, gunakan teknik pembiasan cahaya!" perintah Bara cepat.

"Dimengerti! Panah Pembias Bulan!" Laras melepaskan tiga anak panah ke udara secara beruntun. Anak panah itu meledak di udara, menciptakan tirai cahaya keperakan yang membekukan semburan es racun menjadi kristal tak berbahaya.

Bara memanfaatkan celah itu untuk meloncat melompati kepala naga pertama. Dengan satu gerakan memutar yang anggun dan mematikan, ia menebas tanduk naga air itu hingga terputus. Naga itu meraung kesakitan sebelum akhirnya melarut kembali menjadi air danau yang jernih.

"Satu tumbang! Laras, giliran naga kedua!" seru Bara dari udara.

"Serahkan padaku, Bara!" balas Laras. Ia memusatkan seluruh konsentrasinya pada ujung anak panahnya, menyerap pendar sinar rembulan malam. "Panah Penembus Jiwa!"

Anak panah Laras meluncur bagai kilat keperakan, menembus tepat di bagian dada naga air kedua. Naga tersebut kejang sejenak sebelum meledak menjadi ribuan gelembung air yang memantulkan warna pelangi. Langkah mereka menuju pusat danau kini terbuka lebar, memperlihatkan sebuah kubah energi raksasa yang berdenyut misterius di tengah danau.

"Kita berhasil meretas pertahanan terluar, Bara!" ujar Laras seraya mendarat mulus di samping Bara.

"Ini baru awal, Laras. Titik plot sebenarnya baru saja dimulai di dalam kubah itu," sahut Bara dengan tatapan tajam menembus kubah energi.

🪷 🪷 🪷

Bara dan Laras melangkah menerobos lapisan kubah energi tersebut. Seketika, suasana sekitar mereka berubah drastis. Suara gemuruh angin dan erangan pertempuran rekan-rekan mereka di luar mendadak senyap total. Di dalam kubah ini, air danau tidak lagi mengalir liar, melainkan melayang-layang dalam bentuk ribuan bola air transparan di udara. Di pusat ruangan tak bertepi itu, melayang sebuah altar batu pirus dengan bayangan hitam berwujud manusia yang terikat rantai energi.

"Siapa kau?" tanya Bara tegas, mengeratkan genggamannya pada hulu pedang perak.

Lihat selengkapnya