Rintik hujan es mengguyur pelataran Lereng Kematian di Pegunungan Hitam. Bau belerang dan aroma tanah basah menusuk hidung, menyelimuti rombongan Aliansi Teratai Purba yang berdiri mematung di sekeliling pilar kristal utama.
"Bara, ada yang tidak beres dengan hawa sihir di sekitar tempat ini," bisik Laras Al-Humaira, merapatkan jubah sutranya seraya menggenggam erat jemari Bara Al-Mustafa.
"Kau benar, Laras. Tempat ini terlalu hening setelah kepergian pasukan Valerius," sahut Bara Al-Mustafa dengan mata emasnya yang terus mengawasi kegelapan tebing. "Fajar, bagaimana dengan indikator kompasmu?"
"Jarum navigasiku mati total, Bara," pangkas Fajar Nur-Zaman, mengetuk-ngetuk bingkai tembaga kompasnya yang tak bergerak. "Ada medan magnetik kelam yang memblokir seluruh aliran elemen murni."
Mendadak, Mahkota Teratai Tujuh Warna di dada Laras Al-Humaira bergetar hebat. Pendaran cahaya keemasan yang biasanya memancar hangat tiba-tiba meredup, berganti menjadi denyutan warna merah tua yang tidak stabil.
"Laras! Mahkotamu!" jerit Zahra Mentari, refleks melangkah mendekat seraya memegang gagang belati suryanya.
"Ugh... d-dadaku... terasa sangat dingin!" ringis Laras Al-Humaira, bertumpu pada satu lututnya saat rasa sakit yang amat sangat menghantam jiwanya.
Di saat yang bersamaan, bunga teratai suci yang tumbuh di atas telaga pilar—pusat sumber energi Mahkota Teratai—mulai menguncup secara perlahan. Helai demi helai kelopak merah muda yang indah itu secara gaib merubah warnanya menjadi hitam pekat bagaikan arang membara.
"Lihat bunga teratai itu!" seru Bayu Al-Asad menunjuk ke arah telaga. "Kelopaknya... merubah warna menjadi hitam!"
"Teratai yang layu..." gumam Tetua Samudra At-Thahira dengan wajah memucat bagaikan mayat. "Ini bukan sekadar perubahan warna biasa! Ini adalah Tanda Pembusukan Jiwa Purba!"
"Bara! Tolong... energi terataiku membusuk dari dalam!" jerit Laras histeris sebelum pingsan di dalam pelukan Bara Al-Mustafa.
"Laras!" teriak Bara histeris, merangkul tubuh gadis itu yang mendadak terasa dingin bagaikan es abadi.
🪷 🪷 🪷
Bara Al-Mustafa memangku tubuh Laras Al-Humaira di atas batuan dingin altar, memancarkan api perak dari telapak tangannya untuk menyalurkan kehangatan. Namun, aura hitam yang keluar dari bunga teratai di telaga kian menggelembung tebal, merayap menembus udara dan melilit tubuh Laras.
"Pusatkan energi penyembuh kalian!" perintah Bara Al-Mustafa dengan nada panik yang belum pernah terdengar sebelumnya. "Embun! Banyu! Bantu aku memurnikan hawa hitam ini!"
"Sinar Pemurni Jiwa!" seru Embun Al-Khansa, menangkupkan kedua tangannya di atas dahi Laras seraya memancarkan sihir hijau murni.
"Air Penyeimbang Teratai!" tambah Banyu Al-Fatih, mengalirkan pusaran air jernih dari tombaknya untuk membentengi Mahkota Teratai di dada Laras.
Namun, saat energi hijau Embun dan air Banyu menyentuh Mahkota Teratai yang menghitam, sihir mereka justru terpental hebat. Sebuah dentuman aura kegelapan meledak, melemparkan Embun dan Banyu sejauh tiga langkah ke belakang.
DUAAARRR!
"Ugh! Energi penyembuh kita ditolak secara paksa!" pangkas Embun Al-Khansa sambil memegang pergelangan tangannya yang terasa melepuh.
"Bukan ditolak, Embun!" sela Fajar Nur-Zaman yang sedang mengamati perubahan zat teratai menggunakan kaca pembesar energinya. "Teratai itu tidak tercemar dari luar, melainkan membusuk dari dalam inti jiwanya sendiri!"
"Apa maksudmu membusuk dari dalam, Fajar?!" bentak Bayu Al-Asad gusar. "Laras adalah wadah murni! Bagaimana mungkin jiwa teratainya membusuk?!"
"Misteri teratai hitam ini..." potong Tetua Samudra At-Thahira dengan nada berat yang dipenuhi duka mendalam. "...berhubungan erat dengan kutukan purba yang ditanamkan oleh Kaisar Kegelapan lima belas tahun lalu saat pembantaian klan."
"Kutukan lima belas tahun lalu?" ulang Bara Al-Mustafa, menatap Tetua Samudra dengan mata melebar tajam. "Bicara yang jelas, Tetua! Apa yang sebenarnya terjadi pada Laras?!"
"Mahkota Teratai Tujuh Warna tidak pernah ditakdirkan untuk bertahan selamanya, Bara," jawab Tetua Samudra lirih. "Jika tiga pecahan Batu Jiwa didekatkan tanpa ritual penyucian sempurna, energi kegelapan di dalam batu akan menyerap kesucian teratai dan mengubahnya menjadi Teratai Hitam Pembawa Kematian!"
🪷 🪷 🪷
Penjelasan Tetua Samudra menyatarkan seluruh ksatria Aliansi Teratai Purba dalam keheningan yang membekukan darah. Teratai hitam di dalam telaga kini mengepakkan aura pekat setinggi sepuluh meter, menyerap warna dari langit perbukitan dan mengubah siang hari menjadi malam gulita.
"Artinya... kemenangan kita mengumpulkan tiga pecahan Batu Jiwa selama ini... justru membunuh Laras secara perlahan?!" seru Zahra Mentari dengan air mata yang mulai menetes di pipinya.