Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #68

TEKANAN JIWA

Langkah kaki para ksatria terhenti di ambang Lorong Tengkorak Hitam. Udara di dalam lorong bawah tanah itu terasa sangat pekat, berat, dan dipenuhi aroma amis belerang yang menusuk hidung. Dinding-dinding batu pualam hitam memancarkan pendar gelombang ungu kehitaman yang berdenyut bagaikan pembuluh darah raksasa. Tiba-tiba, gelombang aura kejahatan yang meluap menyerang kesadaran seluruh anggota rombongan tanpa peringatan.

"Argh! Kepala... kepalaku terasa mau pecah!" jerit Banyu Al-Fatih seraya mencengkeram kepalanya erat-erat dan berlutut di tanah.

"Tekanan jiwa ini... sangat mengerikan!" tambah Laras Al-Humaira seraya menyandarkan tubuhnya pada dinding lorong, napasnya tersengal parah.

"Tetap tenang, Semuanya! Jangan biarkan aura ini menguasai pikiran kalian!" teriak Bara Al-Mustafa seraya berusaha mencabut pedang peraknya, namun tangannya gemetaran hebat.

"Aura jahat ini bukan sekadar sihir penekan fisik, Bara!" pangkas Fajar Nur-Zaman seraya memegang dadanya yang sesak. "Ini adalah Aura Kebencian Purba yang dirancang khusus untuk mematahkan kehendak bertarung kita!"

"Setiap kali aku mencoba fokus, pikiran buruk dan kegagalan masa lalu membayang di benakku!" rintih Zahra Mentari seraya menjatuhkan busurnya ke batuan lembab.

Samudra At-Thahira melangkah ke depan barisan. Wajahnya tenang, namun tatapan matanya memancarkan keprihatinan yang mendalam melihat rekan-rekannya mulai kehilangan kesadaran diri.

"Aura ini memanfaatkan keraguan dan luka batin kita untuk merusak Inti Jiwa," ucap Samudra At-Thahira dengan suara lembut namun berwibawa.

"Apakah kau bisa menahannya, Samudra?!" tanya Embun Al-Khansa seraya menahan tubuh Mega Nur-Aisyah yang nyaris pingsan. "Jika ini dibiarkan semenit saja, kesadaran kita semua akan hancur total!"

"Aku tidak hanya akan menahannya, Embun," jawab Samudra At-Thahira seraya menancapkan Tongkat Kearifan Samudra ke lantai batu. "Aku akan menetralisir aura jahat ini sampai ke akar-akarnya."

"Hati-hati, Samudra!" peringat Bayu Al-Asad dari garis belakang. "Pusat aura ini memancar dari dalam ruang utama!"

"Percayalah padaku, Ksatria," bisik Samudra seraya memejamkan mata dan mulai memusatkan seluruh energi spiritualnya.

🪷 🪷 🪷

Pendar cahaya biru jernih mulai terpancar dari permata yang tertanam di ujung Tongkat Kearifan milik Samudra At-Thahira. Cahaya itu membentuk gelombang riak air murni yang merayap perlahan melintasi lantai Lorong Tengkorak Hitam, membentenginya dari gempuran aura ungu kehitaman.

"Rasakan ketenangan air murni, Teman-teman," bisik Samudra At-Thahira seraya merentangkan tangan kirinya ke udara. "Air tidak pernah melawan arus, ia memeluk dan memurnikan segala kekotoran."

"Napas... napasku mulai terasa lebih ringan," gumam Banyu Al-Fatih seraya perlahan-lahan kembali berdiri tegak. "Luar biasa, Samudra!"

"Tapi pendar aura jahat di depan sana justru semakin menebal!" pangkas Zahra Mentari seraya mengambil kembali busurnya.

Dari dalam kegelapan lorong, muncul sesosok manifestasi aura berbentuk iblis raksasa berwajah seribu jiwa yang meraung histeris. Iblis itu adalah Penjaga Tekanan Jiwa, yang dikenal sebagai Roh Kebencian Malakor.

"Manusia-manusia lemah!" raung Roh Kebencian Malakor dengan suara bergema yang memecahkan batuan atap lorong. "Kalian tidak akan pernah bisa menembus benteng pikiran yang diciptakan oleh Ratu Eclipsa!"

"Pikiran manusia memang lemah jika berdiri sendiri, Roh Jahat!" balas Samudra At-Thahira seraya melangkah maju menghadap sang iblis. "Namun kehendak yang disatukan oleh kasih sayang tidak akan pernah bisa kau hancurkan!"

"Sombong sekali kau, Ksatria Air!" gelak iblis itu seraya mengibaskan tangannya, melepaskan gelombang histeria masal berupa ribuan bayangan tengkorak menangis yang meluncur menyerang Samudra.

"Samudra! Awas!" teriak Bara Al-Mustafa seraya bersiap menerjang membantu.

"Jangan mendekat, Bara!" cegah Samudra At-Thahira tegas. "Serangan ini hanya bisa dihadapi dengan kesucian jiwa, bukan dengan tajamnya bilah pedang!"

Samudra mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi, memutarkannya memutar lingkaran sempurna di udara. "Teknik Tirai Suci: Luapan Samudra Kedamaian!"

Gelombang air raksasa yang bening bagaikan kristal meledak dari ujung tongkat Samudra, membentang menjadi dinding pelindung air yang menelan seluruh bayangan tengkorak menangis tersebut. Bentrokan dua energi berlawanan itu memicu suara hissed nyaring bercampur asap putih yang memenuhi ruang lorong.

"Bagaimana mungkin sihir airmu sanggup memadamkan api kebencian jiwaku?!" jerit Roh Kebencian Malakor tak percaya.

"Karena air suci ini dialiri oleh keikhlasan, bukan nafsu untuk membunuh!" pangkas Samudra dengan mata berkilat tegas.

🪷 🪷 🪷

Melihat gelombang pertamanya berhasil diredam dengan mudah, Roh Kebencian Malakor meraung murka. Seluruh dinding pualam hitam Lorong Tengkorak Hitam bergetar hebat, memuntahkan kabut pekat kehitaman yang langsung mengepung posisi Samudra At-Thahira dari segala penjuru.

"Jika aku tidak bisa merusak jiwamu dari luar, maka aku akan meracuni Inti Jiwamu dari dalam!" ancam iblis itu seraya mengubah wujudnya menjadi ribuan benang aura hitam yang menusuk masuk ke dalam pori-pori kulit Samudra.

"Arghhh!" rintih Samudra At-Thahira saat benang-benang aura kejahatan itu mulai merayap di dalam pembuluh darahnya.

"Samudra!" jerit Embun Al-Khansa dan Mega Nur-Aisyah panik melihat tubuh sahabat mereka mulai diselimuti garis-garis ungu kehitaman.

Lihat selengkapnya