Angin malam menusuk tulang di lereng Lembah Bayang-Bayang. Suara gemuruh tempur terdengar sayup dari kejauhan, menandakan bahwa pasukan Istana Pusat semakin merangsek mendekat. Di balik reruntuhan pilar batu tua, Mega Nur-Aisyah sedang merapikan cawan-cawan obat dan dedaunan penawar racun. Di sampingnya, Zahra Mentari duduk mengusap pelipisnya yang mengalirkan darah segar.
"Tahan sebentar, Zahra," bisik Mega dengan jemari lembut yang cekatan mengoleskan ekstrak daun rembulan pada luka kawan mudanya itu.
"Ini sangat perih, Mbak Mega," pringas Zahra seraya meremas kain jubahnya sendiri. "Tapi aku tidak boleh berhenti di sini. Bara dan Laras masih bertarung di barisan paling depan."
"Jangan bertindak gegabah, Zahra," potong Mega seraya menatap mata gadis itu dengan kehangatan seorang kakak. "Tugas utamamu saat ini adalah memulihkan pasokan aura cahayamu. Jika kau terburu-buru, wadah energimu akan retak."
"Tapi kita tidak punya banyak waktu!" seru Zahra seraya menatap ke arah langit yang dihiasi kilatan sihir merah kehitaman. "Lihat pertempuran itu! Istana Pusat mengirim unit pembunuh bayangan!"
Bara Al-Mustafa melangkah mendekati pilar tempat mereka berdua bersembunyi. Pedang peraknya ternoda oleh darah musuh, sementara napasnya terdengar memburu.
"Bagaimana kondisi Zahra, Mega?" tanya Bara dengan tatapan penuh kewaspadaan.
"Aura cahayanya belum sepenuhnya stabil, Bara," jawab Mega seraya membalut luka Zahra dengan kain kasa murni. "Dia butuh setidaknya sepuluh menit lagi untuk memulihkan daya intinya."
"Kita tidak memiliki sepuluh menit," sela Laras Al-Humaira yang baru saja melompat turun dari atas pilar. Busur kayu cendananya masih terentang dengan anak panah cahaya yang siap dilepaskan. "Pasukan Pemburu Cahaya milik Istana Pusat telah menembus pertahanan luar Banyu dan Guntur."
"Apakah sasaran utama mereka adalah Zahra?" tanya Fajar Nur-Zaman yang datang tergesa-gesa seraya memegang kitab catatannya.
"Benar," jawab Laras tegas. "Sihir pemurni milik Zahra adalah satu-satunya hal yang bisa merusak jaring racun mereka. Mereka ingin menghabisi Zahra sebelum ia sempat meledakkan aura intinya."
"Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh Zahra!" seru Mega seraya berdiri mengadang di depan Zahra dengan mata memancarkan tekad bulat.
"Mbak Mega..." gumam Zahra dengan tatapan terharu.
"Tetap di belakangku, Zahra," bisik Mega pelan namun sarat keteguhan. "Selama aku masih bernapas, tidak akan ada satu pun bilah musuh yang menyentuh kulitmu."
🪷 🪷 🪷
Tepat ketika ucapan Mega selesai, udara di sekitar reruntuhan batu mendadak menjadi sangat dingin. Bayangan hitam yang pekat merayap cepat dari celah-celah tanah, membentuk belasan sosok pembunuh berzirah legam dengan pedang beracun di tangan mereka.
"Serahkan gadis pembawa cahaya itu!" gertak pemimpin Pemburu Cahaya seraya mengacungkan pedang hitamnya. "Istana Pusat telah memerintahkan agar darah pemurninya dihapuskan dari bumi!"
"Langkahi dulu mayat kami!" tentang Bara Al-Mustafa seraya menerjang maju dengan tebasan pedang perak yang membelah kegelapan!
SPARKS!
Pertempuran sengit meletus dalam sekejap. Laras Al-Humaira melepaskan rentetan panah cahaya untuk menahan pergerakan musuh dari kejauhan, sementara Fajar Nur-Zaman menciptakan barikade mantra untuk memecah barisan Pemburu Cahaya. Namun, jumlah musuh terlalu banyak dan mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar.
"Bara! Dua pembunuh berhasil menerobos garis kiri!" jerit Laras dari atas batu.
"Guntur! Banyu! Tahan mereka!" teriak Bara seraya memutar pedangnya untuk menangkis tusukan tiga lawan sekaligus.
"Kami terkurung di sektor selatan, Pemimpin!" balas raungan Guntur Al-Ghazi dari balik kepulan uap ledakan. "Sihir berat mereka mengunci langkah kami!"
Dua pembunuh bayangan meluncur cepat menembus pertahanan barisan depan, melayang lurus menuju posisi Zahra Mentari yang masih berlutut memulihkan tenaga.
"Mati kau, Gadis Cahaya!" seru pembunuh itu seraya mengayunkan belati beracunnya ke arah leher Zahra!
"Jangan harap!" bentak Mega Nur-Aisyah.
Mega melangkah maju tanpa ragu, merentangkan kedua tangannya seraya memanggil seluruh aura tanaman penyembuh dari dalam dirinya.
"Perisai Kelopak Herbal: Dinding Flora Sakral!" teriak Mega.
Ratusan daun dan kelopak bunga hijau membumbung tinggi, membentuk tameng tebal yang menahan tebasan belati beracun musuh. Benturan keras membuat Mega terdorong mundur beberapa langkah, namun tameng vegetasinya berhasil menyelamatkan jiwa Zahra.
"Mbak Mega! Kau tidak boleh bertarung terlalu depan!" seru Zahra penuh kekhawatiran. "Kekuatanmu adalah penyembuhan, bukan pertarungan jarak dekat!"
"Kekuatanku adalah melindungi kehidupan, Zahra!" jawab Mega tegas seraya menyapukan tangannya kembali untuk mempertebal lapisan daun. "Dan hidupmu sangat berharga bagi masa depan kita semua!"
"Hahaha! Penyembuh lemah sok pahlawan!" ejek sang pembunuh bayangan seraya memadatkan sihir racun hitam pada ujung pedangnya. "Akan kuhancurkan dedaunan busukmu ini bersama tubuhmu!"
🪷 🪷 🪷
Serangan beruntun yang dilancarkan oleh para Pemburu Cahaya semakin gila-gilaan. Sihir racun yang menyelimuti bilah-bilah pedang musuh mulai mengikis sedikit demi sedikit keutuhan perisai kelopak milik Mega Nur-Aisyah. Uap beracun berwarna keunguan menyebar di sekitar tempat bersembunyi mereka, membuat napas Mega terasa sesak dan berat.
"Racun ini... sangat pekat," desah Mega seraya memegangi dadanya yang mulai terasa panas membakar.
"Mbak Mega! Hentikan penggunaan jurus itu! Racun mereka terserap ke dalam aliran energimu!" panggil Zahra Mentari seraya mencoba berdiri tegak untuk membantu.
"Jangan bergerak, Zahra!" cegah Mega dengan nada setengah membentak. "Proses pemulihan auramu belum selesai! Jika kau menghentikannya sekarang, jiwamu akan cacat selamanya!"
"Tapi aku tidak bisa melihatmu tersiksa seperti ini!" jerit Zahra dengan mata berkaca-kaca.
Di barisan depan, Bara Al-Mustafa bertarung dengan membabi buta untuk kembali ke posisi Mega dan Zahra, namun pemimpin Pemburu Cahaya menahannya dengan jaring sihir bayangan yang sangat kuat.
"Laras! Bantu Mega!" seru Bara seraya menebas jaring sihir tersebut dengan aura emasnya.