Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #70

Misteri Segel Samudra Langit

“Rahasia terbesar di palung terdalam Danau Tujuh Misteri tempat kekuatan purba yang tertidur mulai menggeliat.”

---o0o---

Kisah Kuno & Asal-Usul Rahasia

Tersimpan prasasti zaman kuno yang mencatat bahwa bila keseimbangan dunia runtuh, danau ini akan menjadi garis pemisah antara cahaya dan kehancuran. Hanya persatuan sepuluh jiwa murni yang mampu mengunci kembali segel ini selamanya.

Singkapan Takdir Terhadap Ancaman Purba

Ancaman besar telah bangkit di kedalaman, menguji apakah keberanian Bara, kebijaksanaan Laras, dan kesetiaan delapan sahabatnya mampu menyelamatkan peradaban.

---

Kabut keperakan yang biasanya melayang damai di atas permukaan Danau Tujuh Misteri mendadak koyak oleh pusaran uap panas. Permukaan air yang biasanya sejernih cermin kaca kini menggelegak liar, memuntahkan busa keunguan yang menyengat hidung. Dari dasar palung terdalam, raungan tumpul bergetar merayapi tanah, mengguncang bebatuan tebing tempat Bara dan Laras sedang memeriksa tiang pancang kuno.

“Bara, kau merasakan getaran itu?” seru Laras seraya berpegangan erat pada tonjolan batu pualam basah. Matanya membelalak menatap pusaran di tengah danau yang kian menganga.

Bara mencabut obor berapi abadi dari pinggangnya, sorot matanya mengeras penuh kewaspadaan. “Bukan sekadar gempa biasa, Laras! Air danau naik sepuluh jengkal dalam hitungan detik. Danau ini seperti hendak menumpahkan isinya ke langit!”

“Lihat prasasti di bawah kaki kita!” pekik Laras sambil menunjuk ukiran glif purba yang merekah menyala kemerahan. “Aksara Samudra Langit berdarah! Segel dasar danau tidak hanya longgar, ia sedang dipaksa pecah dari bawah!”

Dari arah perkemahan di lereng barat, delapan sahabat mereka berlari kencang menerobos rimbun pepohonan cemara. Kaelan memimpin dengan tameng basalt terangkat tinggi, disusul Aruna yang telah membidikkan busur fajar ke udara berkabut.

“Apa yang sebenarnya terjadi di palung utama?” teriak Kaelan serak menahan deru angin yang tiba-tiba berhembus kencang bagai badai topan.

“Kekuatan purba itu telah bangun!” sahut Bara lantang, melompat menyeberangi celah batu yang merekah. “Segel Samudra Langit bergolak hebat! Jika kita membiarkan palung ketujuh runtuh malam ini, gelombang air purba akan menenggelamkan seluruh lembah peradaban kita!”

Rian meluncur lincah di sisi bebatuan terjal, telapak tangannya menyentuh permukaan air yang mendidih. “Suhunya membakar tanganku, kawan-kawan! Gelembung gas belerang bercampur plasma gelap terus melonjak ke atas!”

“Maya, kumohon senandungkan bait pembendung!” pinta Kirana panik sambil merangkul pundak Sinta yang menggigil gemetar menatap bayangan raksasa di balik air.

“Aku sudah mencobanya, Kirana!” desah Maya dengan suara tercekat di tenggorokan. “Gema suaraku dipantulkan kembali oleh jeritan makhluk purba di bawah sana. Nada-nada suci tak mampu menembus gelombang amarahnya!”

Dewa membuka gulungan peta rasi bintang sutra miliknya yang kini menyala dalam percikan bunga api keemasan. “Sepuluh bintang pelindung telah berbaris tegak lurus tepat di atas pusaran! Ini adalah tanda takdir yang tertulis tiga ribu tahun lalu! Keseimbangan dunia telah runtuh!”

Galih menghantamkan palu tempa raksasanya ke tanah untuk menstabilkan pijakan mereka yang kian retak. “Kalau begitu jangan banyak membuang waktu dalam ketakutan! Katakan apa yang harus kita perbuat sebelum daratan ini amblas ditelan pusaran!”

Laras menatap sepuluh pasang mata sahabatnya satu per satu, menemukan ketetapan jiwa di balik kepanikan yang melanda. “Prasasti menuntut sepuluh jiwa murni berdiri di altar lingkar danau. Keberanian Bara harus memimpin mata rantai ini!”

Bara mengacungkan lentera apinya tinggi-tinggi ke angkasa pekat. “Kita tidak akan lari walau selangkah pun! Bersiaplah, sepuluh pilar cahaya harus dinyalakan sekarang juga!”

🪷 🪷 🪷

Deru air danau semakin memekakkan telinga ketika lidah-lidah air hitam melompat setinggi pohon cemara, menantang nyali sepuluh pemuda yang berdiri di tubir jurang. Langit malam yang tadinya cerah kini tertutup jelaga kelabu yang berputar mengikuti pusaran air di bawah mereka. Tidak ada lagi jalan untuk berpaling mundur; desa-desa di hilir bergantung sepenuhnya pada tindakan mereka malam ini.

“Perhatikan baik-baik lingkaran altar terapung itu!” teriak Laras sambil menunjuk sepuluh batu monolit hitam yang perlahan timbul di sekeliling pusaran. “Monolit itu adalah Cincin Segel Pertama. Masing-masing batu menuntut resonansi jiwa yang selaras dengan unsur asalnya!”

Aruna menarik tali busurnya kencang, mata panah cahayanya mendesis terang membelah kegelapan. “Bagaimana kita bisa menyeberang ke sana sementara airnya saja sanggup melelehkan zirah tembaga?”

“Kita gunakan jembatan angin dan akar!” balas Rian cepat seraya melompat ke dahan tertinggi. “Sinta, satukan sulur terataimu dengan hembusan bayuku!”

“Aku siap, Rian!” sahut Sinta penuh tekad. Dari telapak tangannya memancar jalinan sulur hijau berpendar yang meluncur membelah uap panas, bertaut kokoh pada monolit terdekat. “Akar purba ini dilapisi getah pelindung jiwa. Cepat menyeberang sebelum asam air danau melarutkannya!”

Kaelan menoleh ke arah Bara yang berdiri tegap di barisan terdepan. “Bara, jika kita melompat ke altar itu, kita tidak akan bisa kembali ke daratan sampai segel ini terkunci sempurna. Apakah kau yakin kesepuluh jiwa kita cukup murni untuk menanggung beban pusaka kuno?”

Bara menatap mata sahabat karibnya tanpa secuil pun keraguan yang tersisa. “Keraguan adalah racun terbesar bagi keberanian, Kaelan. Jika bukan kita yang melangkah maju, peradaban di luar sana akan lenyap menjadi abu dan lumpur sebelum fajar tiba!”

“Bara benar,” sela Dewa seraya mengunci kompas astrologinya. “Rasi Bintang Samudra Langit hanya membuka gerbangnya satu kali dalam seribu tahun putaran bumi. Detik ini adalah puncak pembukaan poros takdir!”

“Dengarkan aku, saudaraku!” seru Galih sambil mengikatkan rantai besi tempa ke pinggang rekan-rekannya sebagai pengaman bersama. “Kita masuk sebagai sepuluh kawan seperjuangan, dan kita keluar sebagai pemenang takdir!”

Kirana melangkah mendekati Laras dan Bara, memercikkan air embun penawar racun ke kening mereka bertiga. “Kekuatan fisik kita mungkin terbatas, tetapi kesucian ikrar kita tak tertembus kegelapan. Semoga berkah para leluhur menaungi setiap ayunan langkah kita.”

“Terima kasih, Kirana,” ucap Laras lembut sembari menggenggam jemari sang penyembuh. “Sekarang, Bara, berikan komando penyeberanganmu!”

Lihat selengkapnya