Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #71

MEMASUKI ISTANA DASAR DANAU

Angin malam berdesir dingin di atas permukaan Danau Tujuh Misteri, mengoyak kabut tipis yang menyelimuti ribuan kelopak bunga teratai. Di tengah danau, di atas selembar daun teratai raksasa yang mengapung kokoh, berdiri Bara Al-Mustafa. Jubah putihnya berkibar diterpa angin, dan sebilah pedang perak terikat di pinggangnya. Matanya yang tajam menatap jauh ke cakrawala, menanti takdir besar yang siap menguji keberaniannya.

Di sisinya, berdiri Laras Al-Humaira. Perempuan berjiwa tangguh itu menggenggam erat busur panah keperakannya. Ia adalah pelita sekaligus penyeimbang dalam setiap pertempuran dan keputusan sulit yang mereka hadapi. Di belakang mereka, delapan rekan setia telah bersiap: Banyu Al-Fatih, Guntur Al-Ghazi, Fajar Nur-Zaman, Bayu Al-Asad, Mega Nur-Aisyah, Embun Al-Khansa, Samudra At-Thahira, dan Zahra Mentari.

"Langkah ini tidak bisa ditarik kembali, Bara," bisik Laras, memecah kesunyian malam. "Dasar danau ini bukan sekadar air dan lumpur."

Bara mengangguk pelan. "Aku tahu, Laras. Tapi rahasia kuno itu harus kita ungkap malam ini."

Tiba-tiba, permukaan air di sekeliling daun teratai mulai berguncang hebat. Pusaran air hitam muncul dari kedalaman, memancarkan aroma belerang dan energi gaib yang sangat pekat. Ratusan kelopak teratai yang tadinya mekar mendadak layu dan berubah warna menjadi hitam pekat. Permukaan air yang tenang terbelah, memperlihatkan sebuah lubang pusaran raksasa yang menembus hingga ke dasar danau tanpa menyentuh air di sekelilingnya. Dari dalam rongga bawah air tersebut, terdengar suara gaung kuno yang memanggil nama mereka satu per satu. Suara itu begitu berat, bergetar menembus tulang dan merambat melalui pilar-pilar energi magis.

"Apakah kalian merasakan getaran ini?" tanya Banyu seraya menarik pedang besarnya. Matanya menatap tajam ke dalam rongga gelap tersebut. "Sesuatu yang sangat besar sedang terbangun di bawah sana."

"Itu adalah segel gerbang Istana Dasar Danau yang terkuak," sahut Samudra tenang, meski matanya menatap cemas ke arah dasar air. "Panggilan ini adalah pemicunya. Jika kita tidak melangkah masuk sekarang, pusaran ini akan menelan seluruh danau dan merusak keseimbangan alam daratan."

"Tidak ada waktu untuk ragu," kata Guntur dengan nada tegas, menghentakkan perisainya ke permukaan daun teratai. "Kita bertaruh nyawa di sini!"

"Tetap dalam formasi!" seru Fajar memberi perintah taktis. "Bayu, siapkan pelindung angin untuk menahan tekanan air saat kita turun!"

"Siap, Fajar! Angin akan menjaga jalan kita tetap terbuka!" balas Bayu, menyebarkan pusaran udara transparan yang membungkus sepuluh anggota kelompok tersebut.

Bara menatap Laras, lalu mengangguk mantap. "Mari kita hadapi takdir ini bersama."

Tanpa membuang waktu, sepuluh ksatria itu melompat bersamaan ke dalam pusaran air hitam yang menganga, meluncur deras menuju kegelapan Istana Dasar Danau yang misterius.

🪷 🪷 🪷

Sensasi meluncur menembus kedalaman air terasa sangat ajaib sekaligus mengerikan. Pelindung angin buatan Bayu menahan bobot tonan air yang berusaha menggulung mereka. Saat tubuh mereka menembus batas kubah gaib di dasar danau, pijakan mereka mendarat di atas ubin batu pirus yang berkilauan. Udara di dalam istana bawah air ini terasa dingin, basah, dan sarat dengan mana kuno yang berat.

Di hadapan mereka membentang sebuah koridor raksasa dengan pilar-pilar ukiran naga air yang menjulang tinggi. Anehnya, meski berada di dasar danau, mereka bisa bernapas dengan lega. Air danau melayang tepat di atas kepala mereka, tertahan oleh lapisan cahaya keemasan yang membentuk atap melengkung. Ikan-ikan purba dengan sisik menyala berenang bebas di atas atap transparan tersebut, memancarkan cahaya temaram yang menambah suasana magis sekaligus mencekam.

"Luar biasa..." gumam Zahra seraya menengadahkan kepala. Matanya berbinar melihat keindahan magis di atas mereka. "Tempat ini seperti mimpi yang dibekukan dalam waktu."

"Jangan terpesona oleh keindahannya, Zahra," peringat Mega lembut, jemarinya memegang erat tongkat penyembuhnya. "Energi di tempat ini sangat tidak stabil. Aku merasakan ada banyak pasang mata yang mengawasi kita dari balik bayang-bayang pilar."

"Mega benar," timpal Embun. "Keheningan di sini terlalu mematikan. Ada aura kebencian yang tersimpan selama ratusan tahun di dinding-dinding batu ini."

"Fajar, bagaimana arah angin di dalam ruangan tertutup seperti ini?" tanya Bayu sambil meretakkan buku-buku jarinya.

Fajar memejamkan mata sejenak, merasakan alur udara yang mengalir licin di sepanjang lorong. "Udara mengalir dari arah utara, tempat takhta utama berada. Tapi alurnya terputus-putus, menandakan ada banyak jebakan mekanis dan sihir penyesatan di depan."

Bara melangkah ke depan, mencabut pedang peraknya separuh dari sarungnya. Ksatria muda itu menatap ke ujung koridor yang gelap gulita. "Samudra, apakah kau bisa membaca prasasti yang terukir di pilar-pilar ini?"

Samudra mendekati salah satu pilar pirus dan mengelus ukiran kuno yang berpendar biru. "Ini adalah Istana Tirta Kencana, tempat bersemayamnya Rahasia Tujuh Misteri. Namun, ukiran ini juga memberi peringatan: 'Hanya mereka yang memiliki kesucian tekad yang dapat melintasi Balairung Penghakiman tanpa kehilangan jiwa.'"

"Balairung Penghakiman?" tanya Laras alisnya bertaut. "Apakah itu arena pertempuran yang disiapkan untuk kita?"

"Lebih dari sekadar pertempuran fisik, Laras," jawab Samudra berat. "Itu adalah ujian mental dan manifestasi dari ketakutan terbesar kita."

"Kalau begitu, biarkan mereka menguji kita," sahut Banyu mantap. "Aku dan Guntur tidak akan membiarkan satu pun bahaya menyentuh kalian dari depan!"

"Benar sekali!" seru Guntur penuh semangat. "Perisai kami adalah dinding kokoh yang tak terhempas!"

Namun, sebelum Guntur menyelesaikan kalimatnya, suara gemuruh dahsyat menggetarkan lantai batu pirus. Cahaya biru di pilar-pilar mendadak berubah menjadi merah darah. Atap pelindung air di atas mereka menegang, dan dari balik kegelapan lorong, bermunculan patung-patung prajurit karang berukuran raksasa dengan mata membara, membawa tombak berduri yang siap mencabut nyawa.

🪷 🪷 🪷

"Formasi bertahan!" teriak Bara nyaring, suaranya menggema di sepanjang koridor bawah air.

Patung-patung prajurit karang bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi ukuran tubuh mereka yang besar. Dentuman langkah kaki mereka menggetarkan fondasi istana bawah air. Banyu dan Guntur langsung melompat ke depan, memasang posisi pasang dengan perisai baja mereka yang berkilauan.

Crassh!

Tombak karang raksasa menghantam perisai Banyu, memercikkan bunga api magis yang memenuhi udara basah itu. Banyu menderu, menahan dorongan beban tonan batu dengan kekuatan otot dan auranya. "Guntur! Tahan sisi kanan! Jangan biarkan mereka membelah barisan!"

"Sudah kutahan, Banyu! Menerjanglah kalian wahai batu-batu bernyawa!" teriak Guntur seraya memukulkan kapaknya ke tanah, menciptakan gelombang kejut tanah yang meretakkan kaki-kaki prajurit karang di depannya.

Laras menarik tali busurnya hingga maksimal. Tiga anak panah cahaya keperakan tercipta di jemarinya. Swoosh! Swoosh! Swoosh! Anak panah itu melesat cepat, menembus mata merah prajurit karang dan membuat kepala patung-patung itu meledak menjadi debu batu.

"Bagus, Laras!" puji Bara yang melesat di antara celah pertempuran. Pedang peraknya menebas persendian prajurit karang dengan presisi mematikan. Namun, setiap kali satu patung hancur, air di atas mereka menetes deras, dan pecahan karang itu menyatu kembali menjadi bentuk semula.

"Mereka tidak bisa dihancurkan dengan serangan fisik biasa!" seru Fajar dari garis tengah. "Bayu, ciptakan tekanan udara tinggi untuk menghentikan pergerakan air yang menyembuhkan mereka!"

"Serahkan padaku! Topan Pengikat Air!" Bayu merentangkan tangannya, memutar udara di dalam koridor hingga membentuk pusaran angin kedap air yang mengisolasi prajurit-prajurit karang tersebut dari pasokan energi danau.

"Mega, Embun! Siapkan mantra pemutus sihir!" perintah Samudra.

Mega dan Embun mengangkat tongkat mereka secara bersamaan. Cahaya hijau dan biru lembut terpancar, menyelimuti prajurit karang yang tersimpul dalam topan Bayu. "Atas nama kedamaian jiwa, kembalilah menjadi batu tak bernyawa!" ucap Embun dengan nada anggun.

Sihir purba pada patung karang itu perlahan memudar, meruntuhkan mereka menjadi tumpukan pasir biasa yang tak bisa bangkit lagi. Namun, belum sempat mereka bernapas lega, suhu di dalam ruangan mendadak merosot drastis hingga mencapai titik beku. Lapisan es mulai menjalar cepat di lantai pirus, membekukan ujung pakaian para ksatria.

"Aura ini..." gumam Zahra dengan bibir bergetar karena dingin yang menusuk tulang. "Ini bukan lagi sihir pelindung mekanis. Ini adalah kehendak jahat yang sangat pekat."

Dari kegelapan di balik rintangan batu yang hancur, muncul sesosok bayangan tinggi bergaun air yang pekat. Matanya menyala seperti lava merah di dalam kedalaman laut. Bayangan itu adalah Penjaga Abadi Istana Dasar Danau—entitas sihir yang telah terkontaminasi oleh energi kegelapan yang mengendap di dasar Danau Tujuh Misteri.

Lihat selengkapnya