Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #72

TERPISAH DI LABIRIN

Dinding batu berwarna ungu kelam bergetar hebat di bawah cengkeraman sihir ilusi Vespera. Lorong bawah tanah Istana Teratai Hitam yang tadinya lurus kini terus bergeser dan berputar tanpa henti. Udara terasa begitu berat, sarat akan bau belerang serta bau getah beracun yang menetes dari sela-sela lantai batu.

"Genggam tangan satu sama lain! Jangan ada yang terpisah!" jerit Bara Al-Mustafa dengan suara menggelegar, memandu langkah dua belas ksatria di tengah kegelapan yang kian pekat.

"Arah angin di lorong ini terus berubah setiap tiga detik, Kapten!" seru Fajar Nur-Zaman panik. Gulungan angin di tangannya berkilat hijau liar, kehilangan arah navigasi. "Peta gaibku tidak sanggup membaca perubahan ruang yang sangat cepat ini!"

"Perisai Intan: Dinding Pertahanan!" bentak Banyu Al-Fatih seraya menancapkan kedua kakinya ke tanah, membentangkan kubah kristal untuk menahan reruntuhan langit-langit gua.

"Banyu, tahan posisi di belakang!" panggil Guntur Al-Ghazi seraya mengayunkan kapak kemburnya untuk menghancurkan bongkahan batu gergasi yang jatuh memotong jalan. BAM! Percikan petir biru membakar serpihan batu menjadi abu.

Tiba-tiba, dari balik dinding batu ungu, muncul puluhan cermin ilusi hitam berkepala tengkorak. Cermin-cermin itu memancarkan tawa melengking yang merusak pendengaran dan mengacaukan kesadaran para ksatria.

"Hahaha! Selamat datang di Labirin Jiwa Menderita!" gema suara Vespera memantul dari segala penjuru lorong. "Kalian tidak akan pernah sampai ke takhta junjunganku bersama-sama!"

"Tutup telinga kalian!" jerit Embun Al-Khansa seraya mengibaskan selendang hijaunya untuk memercikkan air embun penenang jiwa. "Sihir ini mengincar fokus dan konsentrasi kita!"

"Aku tidak bisa melihat posisi Kak Bara!" teriak Zahra Mentari ketakutan. Cermin Surya Teratai di tangannya bergetar hebat, memuntahkan kilatan cahaya keemasan yang tak terkendali.

"Zahra, tetap di dekatku!" seru Laras Al-Humaira seraya menarik tali busurnya, membidik cermin-cermin ilusi di udara.

Sebelum Laras sempat melepaskan anak panahnya, lantai batu di bawah pijakan mereka mendadak terbelah menjadi tiga bagian secara ekstrem. Tembok-tembok batu raksasa mencuat cepat dari dalam celah, bergerak menyilang dan memotong formasi dua belas ksatria menjadi tiga bagian terpisah.

"Awas! Dinding pemisah bergerak!" jerit Bayu Al-Asad yang mencoba menebas dinding batu dengan pedang anginnya, namun zirahnya justru terpental benturan keras.

"Bara! Laras! Samudra!" panggil Mega Nur-Aisyah seraya terseret ke lorong sebelah kiri bersama gelombang tembok.

BRUUUK! BRUUUK! BRUUUK!

Tiga pintu batu gergasi terkunci rapat dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga, memutus jalur komunikasi dan menyegel dua belas ksatria ke dalam tiga lorong labirin yang berbeda secara total.

🪷 🪷 🪷

Hening mendadak menyergap lorong bagian tengah. Debu batu berumpal melayang lambat di udara, menyisakan Bara Al-Mustafa, Laras Al-Humaira, Fajar Nur-Zaman, dan Zahra Mentari yang berdiri terengah-engah di bawah temaram pendar ungu.

"Semuanya... kalian baik-baik saja?" tanya Bara Al-Mustafa seraya meraba dinding batu tebal yang baru saja menutup di belakang mereka.

"Aku baik-baik saja, Bara," sahut Laras Al-Humaira seraya mengusap keringat di dahinya, lalu memeriksa sisa anak panah di tempatnya. "Tapi kita terpisah dari yang lain. Bagaimana kondisi lorong sebelah?"

"Suara getarannya mati total," ujar Fajar Nur-Zaman dengan dahi berkerut tajam. Ia menempelkan telinganya ke dinding batu seraya menggoyang-goyangkan gulungan anginnya. "Sihir isolasi Vespera sangat tebal. Aku tidak bisa mendeteksi sinyal mana dari Banyu maupun Samudra."

"Kak Bara... bagaimana ini?" bisik Zahra Mentari dengan bibir gemetar. Cermin Surya Teratai di pangkuannya kini hanya memancarkan cahaya redup. "Kita terbagi menjadi berapa kelompok?"

"Tenanglah, Zahra," Bara merangkul bahu adik terkecil di timnya itu dengan hangat. "Berdasarkan posisi terakhir tadi, tim terbagi menjadi tiga kelompok kecil. Kita di lorong tengah, kelompok Samudra di lorong kanan, dan kelompok Banyu di lorong kiri."

Di lorong sebelah kanan yang serba gelap, Samudra At-Thahira berdiri siaga bersama Bayu Al-Asad, Mega Nur-Aisyah, dan Embun Al-Khansa. Tongkat air milik Samudra memancarkan pendar biru lembut untuk menerangi jalan mereka.

"Mega, Embun, periksa stamina kalian," instruksi Samudra At-Thahira penuh kewaspadaan.

"Staminaku dan Embun masih aman, Samudra," jawab Mega Nur-Aisyah seraya merapikan manuskrip sucinya. "Tapi aliran sihir di lorong ini terasa sangat aneh. Udara dinginnya menyerap mana secara perlahan."

"Itu karena dinding labirin ini terbuat dari batu penyerap energi," sela Bayu Al-Asad seraya mengibaskan pedang ganda anginnya ke udara. "Kita tidak boleh bertahan di satu tempat terlalu lama. Kita harus mencari jalan menuju pusat labirin."

Sementara itu, di lorong sebelah kiri yang dipenuhi duri-duri besi hitam, Banyu Al-Fatih berdiri kokoh membentengi Guntur Al-Ghazi dan dua ksatria lainnya.

"Sialan Vespera!" umpat Guntur Al-Ghazi seraya menghantamkan kapaknya ke lantai. BAM! "Dia sengaja memecah kekuatan kita agar bisa menghabisi kita satu per satu!"

"Jangan biarkan emosi menguasai pikiranmu, Guntur!" tegur Banyu Al-Fatih tenang. Ia mengusap permukaan perisai intannya yang kini bersinar terang. "Meskipun kita terpisah tempat, jiwa dan tekad dua belas ksatria tetap menyatu. Tugas kita sekarang adalah bergerak maju dan menembus lorong ini!"

🪷 🪷 🪷

Di lorong tengah, Bara Al-Mustafa memimpin jalan menelusuri tanjakan berbelok-belok. Langkah kaki mereka bergema pelan di atas lantai batu yang licin. Zahra Mentari berjalan tepat di belakang Bara, menggenggam erat Cermin Surya Teratai yang mulai berdenyut hangat kembali.

"Fajar, apakah ada tanda-tanda jebakan di depan?" tanya Laras Al-Humaira seraya membidikkan anak panahnya ke arah langit-langit lorong.

"Ada Getaran sihir tersembunyi sepuluh langkah di depan kita," jawab Fajar Nur-Zaman, matanya mengamati garis-garis hijau yang mencuat tipis dari gulungan anginnya. "Lantai batu di depan dilapisi jarum-jarum racun ilusi."

"Biar aku bersihkan jalan itu!" tawar Zahra Mentari seraya melangkah maju.

"Tunggu, Zahra! Jangan gegabah!" tahan Bara Al-Mustafa.

Namun, sebelum Zahra sempat memantulkan cahaya cerminnya, dinding batu di sisi kiri dan kanan lorong tengah mendadak bergeser menyempit dengan kecepatan tinggi. Pintu-pintu tersembunyi terbuka, memuntahkan puluhan prajurit bayangan tanpa wajah yang bersenjatakan belati hitam beracun.

"Serangan mendadak!" jerit Laras Al-Humaira seraya Melepaskan tiga anak panah sekaligus.

Lihat selengkapnya