Kabut tebal berwarna ungu kehitaman membungkus lorong batu Istana Gerhana. Langkah kaki Bara Al-Mustafa, Laras Al-Humaira, dan Zahra Mentari menggetarkan genangan air keruh yang berbau belerang. Setelah kelompok Sumpah Sembilan Bintang terpisah menjadi tiga tim kecil untuk menerobos pertahanan lapis dalam musuh, bertiga mereka menjadi garda terdepan yang merambah Sektor Lorong Cermin Jiwa. Dinding pualam di sekeliling mereka memancarkan riak getaran aneh yang merayap ke dalam benak.
"Tetap dalam formasi rapat!" perintah Bara Al-Mustafa seraya mengacungkan pedang peraknya. "Aura di Sektor Lorong Cermin Jiwa ini tidak terasa seperti sihir fisik biasa."
"Hawa udaranya makin dingin dan sesak, Bara," sahut Laras Al-Humaira seraya memutar belati dan merentangkan rantai gaibnya. "Pikiranku mendadak terasa amat berat."
"Busurku juga bergetar tanpa sebab," tambah Zahra Mentari seraya menarik tali busurnya dengan jari bersiaga. "Ada yang mengintai kita dari balik kabut."
Tiba-tiba, kabut ungu berputar hebat membentuk pusaran angin mendesis. Dinding pualam di kiri dan kanan mereka berubah transparan, memancarkan pendar cahaya keemasan yang familiar. Suasana lorong istana yang dingin dan mencekam perlahan memudar, tergantikan oleh pemandangan yang sangat mereka kenal dari masa lalu: Desa Seroja Putih, tanah kelahiran mereka yang hancur dibakar Orde Bayangan belasan tahun silam.
"Ini... ini tidak mungkin!" bisik Laras Al-Humaira dengan mata terbelalak horor. "Desa kita..."
"Laras! Zahra! Jangan terpengaruh!" gertak Bara Al-Mustafa seraya melangkah di depan kedua ksatria itu. "Ini hanyalah trik sihir ilusi musuh!"
"Tapi lihat itu, Bara!" jerit Zahra Mentari seraya menunjuk ke arah kobaran api di tengah pemukiman ilusi. "Itu Ibu! Ibu masih berdiri di sana!"
Dari balik asap ilusi, muncul sosok ibu Zahra yang menangis meminta pertolongan seraya diapit oleh dua prajurit bayangan berpedang. Di sisi lain, terlihat ayah Laras yang terbaring bersimbah darah, serta sosok adik kecil Bara yang menjerit ketakutan seraya diikat oleh rantai besi hitam.
"Bara! Tolong aku! Kenapa kau meninggalkan aku di tengah kobaran api?!" jerit sosok ilusi adik Bara dengan suara yang melengking memecah malam.
"Adikku..." gumam Bara Al-Mustafa, genggaman tangannya pada gagang pedang perak mendadak mengendur saat dadanya dihantam rasa bersalah yang teramat dalam.
🪷 🪷 🪷
Pemandangan kehancuran Desa Seroja Putih merenggut fokus bertarung ketiga ksatria. Suara jeritan kerabat, bau hangus pemukiman, dan kobaran api merah keemasan terasa sangat nyata menyentuh pancaindra mereka. Dinding lorong istana sepenuhnya terkikis oleh ruang ilusi mematikan yang diciptakan oleh Panglima Ilusi Phantasm.
"Jangan dengarkan suara-suara itu!" teriak Bara Al-Mustafa seraya menggelengkan kepalanya keras-keras. "Adikku sudah gugur belasan tahun lalu! Ini semua bohong!"
"Tapi rasanya sangat nyata, Bara!" rintih Laras Al-Humaira seraya berlutut di tanah, memegangi kepalanya yang dihantam kenangan kelam. "Ayah... aku tidak sempat menyelamatkan Ayah hari itu..."
"Ibu! Aku datang!" teriak Zahra Mentari yang sudah kehilangan kendali emosi, berlari melompati genangan air mengejar wujud ilusi ibunya.
"Zahra! Berhenti! Jangan mendekati proyeksi itu!" jerit Bara seraya mengejar Zahra dan menarik tali bahu pelindungnya dengan kencang.
SRAAAAASH!
Saat Zahra terhenti akibat tarikan Bara, wujud ilusi ibu Zahra mendadak berubah menjadi monster bayangan berduri tajam yang menebas udara kosong di depan mereka. Jika Bara tidak menarik Zahra tepat waktu, tebasan duri hitam itu pasti telah memenggal leher sang pemanah.
"Hahaha! Betapa rapuhnya jiwa para Ksatria Sumpah Sembilan Bintang!" suara gaung bernada ejekan menggelegar dari angkasa ilusi.
Dari balik kobaran api ilusi Desa Seroja Putih, melayang turun sosok Panglima Phantasm—pria bertopeng cermin tanpa wajah yang mengenakan jubah kehitaman bergaris perak. Di tangan kanannya, ia memegang Cermin Dosa Purba yang memancarkan pendar merah darah.
"Phantasm!" bentak Bara Al-Mustafa seraya menegakkan posisi pedang peraknya. "Kau yang memainkan kenangan pahit kami?!"
"Aku tidak memainkan apa pun, Ksatria Perak," sahut Phantasm dengan suara berlapis yang memusingkan telinga. "Aku hanya membukakan pintu menuju dosa dan penyesalan tergelap yang kalian sembunyikan di dalam sanubari."
"Kami sudah melampaui masa lalu itu!" pangkas Bara seraya menerjang maju, mengayunkan pedang peraknya memotong dada Phantasm.
CLANG!
Pedang perak Bara menembus tubuh Phantasm tanpa melukainya sedikit pun, bagaikan memotong bayangan di atas air. Phantasm tertawa mengejek seraya mengibaskan Cermin Dosa Purba ke arah Bara.
"Kau tidak bisa melukai bayangan masa lalumu sendiri, Bara!" ejek Phantasm seraya memantulkan cahaya cermin ke mata Bara. "Rasakan beban penyesalanmu!"
Seketika itu pula, tubuh Bara terhempas ke belakang oleh gelombang kejut ilusi, menghantam tanah keras di samping Laras dan Zahra yang masih terperangkap dalam siksaan batin.
🪷 🪷 🪷
Ruang ilusi berubah semakin gelap dan pekat. Kobaran api Desa Seroja Putih mengepung Bara, Laras, dan Zahra dari segala penjuru, menyempitkan area berdiri mereka hingga kurang dari lima meter. Sosok-sosok ilusi orang tercinta yang terbunuh melangkah mendekat dengan mata menyala merah, membawa senjata-senjata beracun.
"Kenapa kalian membiarkan kami mati?!" tuduh sosok ilusi ayah Laras seraya mengayunkan kapak besar ke arah Laras.
"Aku... aku minta maaf, Ayah..." tangis Laras Al-Humaira pecah, jiwanya lumpuh total hingga tak mampu mengangkat belati untuk bertahan.
"Laras! Buka matamu! Itu bukan ayahmu!" teriak Bara Al-Mustafa seraya melompat membentengi Laras, menangkis hantaman kapak ilusi dengan perisai peraknya.