Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #74

KELOMPOL 2: BANYU, GUNTUR, MEGA

Langkah kaki Banyu Al-Fatih mendadak terhenti tepat di tengah arena batu raksasa yang dikelilingi oleh pilar-pilar kuno yang meratap. Udara di tempat itu terasa teramat sangat pekat, sarat akan bau belerang dan aroma darah yang mengering. Di belakangnya, Guntur Al-Ghazi menggenggam erat sepasang kapak kembarnya, sementara Mega Nur-Aisyah mengawasi sekeliling dengan cawan-cawan obat yang tergantung di pinggangnya.

"Tempat ini terasa sangat tidak alami, Banyu," bisik Mega seraya melangkah rapat di balik punggung Banyu.

"Tetap di belakangku, Mega," ujar Banyu Al-Fatih seraya menancapkan perisai intannya ke tanah cadas. "Tempat ini adalah arena pembantaian kuno milik Istana Pusat."

"Lihat ke atas sana!" seru Guntur Al-Ghazi seraya menunjuk ke arah pilar-pilar batu. "Ada belasan jebakan sihir berat yang sudah mengincar kita!"

Dari atas dinding arena batu, muncul puluhan prajurit berzirah besi kehitaman yang dipimpin oleh seorang algojo bertubuh raksasa dengan cambuk berduri.

"Kalian tidak akan pernah melampaui arena batu ini, Ksatria Terbuang!" bentak algojo tersebut seraya mengayunkan cambuknya hingga memercikkan api merah ke udara.

"Siapa kau yang berani menghalangi jalan Kelompok Dua?!" tentang Guntur seraya mengambil satu langkah maju.

"Aku adalah Kaelen sang Algojo Arena!" jawab sang algojo dengan tawa melengking. "Tempat ini akan menjadi kuburan massal bagi kalian bertiga!"

"Bara dan Laras bergantung pada pergerakan kita di sayap barat ini," panggil Banyu seraya menatap Guntur dan Mega dengan mata membara. "Kita tidak boleh membuang waktu di sini!"

"Lakukan sesuai rencana awal!" seru Guntur seraya mengetukkan kedua kapaknya hingga memercikkan kilatan petir kebiruan.

"Aku siap menopang stamina kalian berdua dari belakang!" tambah Mega seraya menyiapkan kantong-kantong herbal pemurni.

"Serang dan ratakan mereka tanpa sisa!" perintah Kaelen seraya mengacungkan cambuknya ke bawah!

Seketika itu juga, belasan prajurit batu bermunculan dari dasar arena, melompat maju untuk memusnahkan Banyu, Guntur, dan Mega dalam gempuran serentak!

🪷 🪷 🪷

Auman para prajurit batu menggoyahkan permukaan tanah arena. Banyu Al-Fatih langsung menghentakkan kaki kanannya, memanggil gelombang air purba dari balik celah batu cadas untuk membentuk dinding pertahanan awal.

"Perisai Tirta Intan: Dinding Gelombang Ksatria!" teriak Banyu seraya merentangkan kedua tangannya.

BANG! BANG! BANG!

Hantaman tombak dan pedang para prajurit batu memantul keras tatkala memukul kubah air intan milik Banyu. Namun, Kaelen sang Algojo melompat dari atas tebing, mengayunkan cambuk berduri yang terbalut sihir racun hitam tepat ke arah puncak kubah!

CRASH!

"Perisaimu memang tebal, Pelindung!" ejek Kaelen seraya memutar cambuknya untuk mengikis lapisan kristal Banyu. "Tapi sihir racun arena ini sanggup melunakkan intan terbaik sekalipun!"

"Banyu! Biarkan aku memotong cambuknya!" seru Guntur Al-Ghazi seraya melompat tinggi melintasi bahu Banyu!

"Guntur, awas serangan samping!" peringat Mega Nur-Aisyah seraya menembakkan pita-pita herbal hijau untuk menangkap dua prajurit batu yang mencoba menebas Guntur dari udara!

"Terima kasih, Mega!" jerit Guntur seraya mengayunkan kapak kembarnya dalam tebasan memutar yang dahsyat!

"TEBASAN PETIR GEMURUH!" raung Guntur!

SPARKS!

Dua prajurit batu hancur berkeping-keping dihantam petir kebiruan milik Guntur. Namun, Kaelen hanya tertawa mengejek seraya menarik balik cambuknya dan memecahkannya ke tanah arena.

"Batu-batu di arena ini adalah bagian dari jiwaku!" seru Kaelen. "Selama arena ini berdiri, mereka tidak akan pernah bisa dimusnahkan!"

Kepingan batu yang baru saja dihancurkan Guntur mendadak merapat kembali, membentuk prajurit batu yang jauh lebih besar dan kuat dari sebelumnya!

"Mereka bisa meregenerasi tubuh mereka, Banyu!" panggil Guntur dengan napas mulai terengah-engah seraya kembali berbalik ke barisan belakang.

"Sihir perlawanan mereka terikat pada lantai arena ini," Fajar Nur-Zaman tidak ada bersama mereka, namun Mega melangkah maju seraya mengamati ukiran di pilar. "Banyu, Guntur! Kita harus memutus aliran sihir di dasar tanah!"

"Mega benar!" tegas Banyu seraya mengetukkan perisainya ke tanah. "Guntur, tahan Kaelen! Aku dan Mega akan mengurus aliran energi tanah ini!"

"Serahkan algojo gila itu padaku!" raung Guntur seraya melesat kembali menghadap Kaelen!

🪷 🪷 🪷

Pertempuran di arena batu makin memuncak dan membakar stamina para ksatria. Kaelen mengayunkan cambuk berdurnya secara membabi buta, menyebarkan uap racun hitam yang mulai mencemari udara bersih di sekitar arena batu. Guntur Al-Ghazi bertarung secara agresif, namun racun sihir mulai membuat gerakan tangannya sedikit melambat.

"Hahaha! Napasmu mulai berat, Ksatria Petir!" ejek Kaelen seraya menebaskan cambuknya, melilit kapak kiri Guntur dan menariknya keras!

"Kapakku!" jerit Guntur tatkala kapak kirinya terlepas dan terlempar menghantam pilar batu!

Lihat selengkapnya