Lantai batu tempat Fajar, Bayu, Embun, dan Samudra berpijak menghentak keras saat lorong batu pirus runtuh. Terpisah jauh dari Bara, Laras, dan kawan-kawan lainnya, empat ksatria itu terlempar ke dalam sebuah ruangan melingkar raksasa di kedalaman dasar danau. Di sekeliling mereka, ratusan roda gigi perunggu berukuran raksasa berputar lambat, saling bertautan dan mengeluarkan bunyi kerotok mekanis yang memekakkan telinga.
"Semua orang selamat?" tanya Fajar seraya mengusap debu dari jubahnya, matanya menatap tajam ke sekeliling ruangan mekanik tersebut.
"Aku selamat, Fajar," jawab Embun perlahan, mengibaskan sisa pasir dari gaun penyembuhnya sambil merapikan tongkat cahayanya.
"Pijakan ini terus bergeser!" seru Bayu dengan nada panik, merentangkan kedua tangannya untuk menjaga keseimbangan di atas roda gigi yang berputar. "Ruangan ini adalah sebuah mesin raksasa!"
Samudra melangkah mendekati dinding pirus yang dipenuhi ukiran garis-garis emas dan pasak besi purba. "Ini bukan sekadar mesin, Bayu. Ini adalah Jantung Mekanis Danau Tujuh Misteri."
"Apa artinya itu, Samudra?" tanya Embun cemas, menatap pasak-pasak perunggu yang saling mengunci di atas kepala mereka.
"Artinya, jika kita tidak memecahkan teka-teki susunan roda gigi ini, kita akan tergencet hidup-hidup oleh dinding yang terus menyempit ini," sahut Samudra berat.
Tiba-tiba, sebuah dentang logam nyaring bergema. Dinding batu di empat penjuru ruangan mulai bergerak maju secara perlahan, mengikis ruang gerak mereka centimeter demi centimeter. Bau minyak tua dan uap panas menyembur dari celah-celah pirus, menandakan mekanisme penghancur otomatis telah aktif.
"Insiden pemicu ini terjadi karena retakan dimensi tadi mengacaukan aliran mana mekanik!" seru Fajar, matanya bergerak cepat menganalisis rotasi roda gigi. "Seseorang telah mengunci gerbang utama dari dalam mesin ini!"
"Apakah ada jalan keluar, Fajar?" tanya Bayu seraya mencabut belatinya.
"Ada, tapi kita harus menyelaraskan empat pasak utama sebelum dinding ini meremukkan kita!" tegas Fajar.
"Tunjukkan apa yang harus kami lakukan!" seru Embun dengan tatapan penuh tekad.
"Bayu, amati alur angin uap! Samudra, baca simbol di setiap poros! Embun, bersiaplah menetralkan aura panas! Kita selesaikan teka-teki mekanik ini sekarang!" perintah Fajar mantap.
🪷 🪷 🪷
Roda gigi di sekeliling mereka berputar kian cepat, memercikkan bunga api listrik magis yang melompat-lompat di antara celah perunggu. Fajar melompat ke atas salah satu poros utama yang berputar, menyeimbangkan tubuhnya dengan lincah.
"Samudra! Huruf apa yang terukir pada poros pusat tempatku berdiri ini?" teriak Fajar menembus gemuruh suara mesin.
Samudra mengusap lumut yang menutupi ukiran di dasar dinding, lalu membaca inskripsi kuno tersebut dengan cermat. "Itu adalah Simbol Angin Timur, Fajar! Kau harus memutar poros itu seratus delapan puluh derajat melawan arah jarum jam!"
"Bayu, bantu aku menahan daya putar balik poros ini!" panggil Fajar.
"Serahkan padaku! Pusaran Pengikat Udara!" seru Bayu seraya mengibaskan tangannya. Pusaran angin kencang tercipta, membungkus poros perunggu dan memperlambat rotasinya sehingga Fajar bisa memutar tuas mekanis di atasnya.
KRAAARK!
Sebuah dentang berat terdengar saat tuas pertama berhasil dikunci. Namun, bukannya mereda, rotasi roda gigi di sisi kiri justru berakselerasi dua kali lipat. Sekelompok pasak besi tajam mencuat keluar dari lantai pirus, meluncur deras menargetkan Samudra yang sedang membaca ukiran berikutnya.
"Samudra, awas di bawahmu!" jerit Embun.
Embun melemparkan tongkat cahayanya ke udara, memancarkan gelombang perisai transparan. Brak! Pasak-pasak besi menghantam perisai Embun, memercikkan daya kejut yang membuat Embun meringis menahan getaran sihir.
"Terima kasih, Embun!" seru Samudra, kembali memfokuskan tatapannya pada dinding. "Fajar! Titik plot teka-teki ini terletak pada Kunci Empat Elemen! Poros kedua membutuhkan pasak air!"
"Di mana lokasi pasak air itu?" tanya Bayu dari atas roda gigi melayang.
"Di bawah pijakan roda gigi utama! Di balik arus minyak panas itu!" jawab Samudra seraya menunjuk ke sebuah ceruk berdinding pirus yang dialiri cairan merah membara.
"Itu bukan minyak biasa, itu adalah lahar dingin bertekanan sihir!" seru Embun cemas. "Jika tersentuh, kulit bisa hancur dalam sekejap!"
"Aku yang akan mengambilnya!" sahut Bayu tanpa ragu, bersiap menerjunkan diri ke dalam ceruk.
"Jangan konyol, Bayu! Kau bisa tewas!" tegur Fajar keras.
"Kita tidak punya pilihan lain, Fajar! Dinding ini makin mendekat!" balas Bayu penuh keberanian, menunjuk dinding batu yang kini berjarak kurang dari tiga meter dari posisi mereka.
🪷 🪷 🪷
Bayu melompat melintasi jajaran roda gigi yang berputar ganas, menggunakan dorongan angin kecil di kakinya untuk menambah jarak lompatan. Saat sampai di bibir ceruk berminyak panas, ia menghembuskan napas tebal untuk memusatkan auranya.
"Bayu, gunakan aura angin dingin untuk melapisi tubuhmu!" teriak Embun dari kejauhan, mengarahkan sinar hijau pemulihan dari jauh untuk memperkuat ketahanan fisik Bayu.
"Terima kasih, Embun! Pelindung Angin Beku!" seru Bayu.
Udara di sekitar tubuh Bayu membeku seketika, membentuk lapisan tipis es transparan. Tanpa membuang waktu, Bayu merogohkan tangannya ke dalam cairan merah membara di dalam ceruk mekanis. Lapisan es di tangannya mendesis hebat, melepaskan uap putih tebal yang memandangi pandangan.
"Arahkan jarimu sepuluh centimeter ke kanan, Bayu!" seru Samudra seraya menatap pantulan simbol di cermin dinding pirus. "Pasak itu terkunci oleh gembok tiga ulir!"
"Ketemu!" jerit Bayu menahan rasa panas yang mulai menembus pelindung esnya. Dengan satu gerakan kuat, ia memutar pasak perunggu bersimbol air tersebut dan mencabutnya secara paksa dari dasar ceruk.
Swoosh!
Saat pasak air dicabut, cairan membara di dalam ceruk mendadak surut seketika. Namun, hal itu memicu mekanisme pertahanan baru. Ruangan mendadak berguncang hebat saat sebuah roda gigi raksasa bersudut tajam lepas dari porosnya dan meluncur turun melintasi lantai pirus, mengincar posisi Samudra dan Embun.
"Awas! Roda gigi lepas!" teriak Fajar seraya melompat turun dari poros atas.
"Biar aku yang menahannya!" seru Samudra, menancapkan tongkat kayunya ke celah lantai batu pirus. "Akar Penahan Samudra!"